Selasa, 09 Desember 2025


Manisnya Cempedak Borneo

20 Jun 2014, 19:08 WIBEditor : Kontributor

”Nanti saya akan ubah namanya menjadi cempedak Banturung,” ujar Sutadji (52 tahun) dengan bangga menepuk-nepuk buah cempedak Pontianak miliknya yang berdaging tebal dan rasanya sangat manis.

Sutadji yang kini berdomisili di Kelurahan Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Kalimantan Tengah sebenarnya bukan penduduk asli Pulau Borneo. Dia menginjakkan kakinya di Kalimantan Tengah pada tahun 1991. 

Dengan keahliannya bertani,  Sutadji kemudian membentuk kelompok tani yang bernama Salundi. Kelompok tani ini membudidayakan tanaman buah-buahan seperti mangga, belimbing, kelengkeng, jeruk dan cempedak.

Selain jenis buah-buahan, bersama kelompok taninya, Sutadji mengembangkan tanaman sayuran seperti terong, kacang, jagung, gambas, pare, timun, cabe, buncis dan bawang merah.

Dari banyak tanaman yang dikembangkan, tanaman cempedak menjadi favorit. Sebab, tanaman miliknya berbuah tidak mengenal musim alias sepanjang tahun. Padahal   umumnya cempedak berbuah sekali setahun menjelang musim hujan. 

Cempedak Pontianak yang Sutadji tanam sekitar tahun 2003 dan mulai panen tahun 2007  dikatakan istimewa karena rasanya yang sangat manis yaitu 27,2*Brix  (diukur dengan alat pendeteksi kadar tingkat kemanisan buah; Refractometer). Kelebihan lainnya adalah daging buahnya besar dan sangat tebal seperti nangka. Jika melihat sepintas, maka akan menyerupai nangka.  Namun aromanya kuat tetap menjadi ciri khas cempedak.

Keunggulan lain  cempedak Pontianak adalah kalau sudah masak tidak mudah jatuh tetapi tetap menggantung di batang. Cempedak ini juga lebih tahan terhadap hama dan penyakit dibandingkan cempedak lokal. Hama yang kerap menyerang adalah lalat buah, tapi tidak sampai mengganggu produksi. Sutadji mengendalikan lalat buah dengan menggunakan perangkap dan juga membungkus buah dengan plastik.

Menurut Sutadji, pemeliharaan tanaman cempedak  tidak sulit, bahkan tidak sampai menyita waktu. Pemberian pupuknya hanya setahun sekali dengan dosis dua kilogram per pohon berupa campuran pupuk  NPK Pelangi dan NPK Ponska.  “Kadang sengaja daun dan buah-buahan busuk yang jatuh ke tanah dibiarkan saja tidak dibersihkan karena dapat menjadi pupuk alami,” katanya. “Pengalaman saya  agar mendapatkan cempedak yang sangat manis dan aromanya kuat dapat memakai pupuk KCl,” tambah Sutadji.

Produksi buah cempedak Potiantak per batang bisa mencapai 100 biji. Karena tidak mengenal musim setiap tahun bisa mencapai 300-400 buah/pohon.  Berat buah  cempedak ini dapat mencapai 3-4 kg/buah. Tanaman cempedak Pontianak yang Sutadji miliki sebanyak 48 pohon. Dari jumlah itu ada 15 pohon sudah berproduksi. 

Dalam pemasaran, Sutadji mengakui tidak sulit karena sudah dipesan pembeli yang datang  langsung ke kebun. Harganya juga lumayan, sekitar harga  Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram. “Sekarang ini cempedak Pontianak sudah terkenal, pembelinya tidak hanya seputaran Kecamatan Bukit Batu tapi sampai ke luar kota,” katanya.

Cempedak adalah tanaman buah-buahan dari famili Moraceae. Bentuk buah, rasa dan keharumannya seperti nangka. Namun aromanya lebih menusuk kuat mirip buah durian. Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara, dan menyebar luas mulai dari wilayah Tenasserim di Burma, Semenanjung Malaya termasuk Thailand, termasuk di Indonesia. Beberapa wilayah nusantara yang banyak  ditemui buah ini adalah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga ke Papua. Wiwik R/PPL Kota Palangka Raya

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018