
Lahan pertanian dari lahan gambut
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pembenah tanah yang diperkaya dengan unsur hara dari alam dapat memperbaiki kualitas tanah dan menyembuhkan tanah yang sakit. Namun demikian, tanah sakit itu berbeda dengan tanah miskin. Untuk itulah perlunya petani mengetahui bahan penyusun tanah.
Prof Supiandi Sabiham, Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Gambut Indonesia Periode 2012 – 2016 dan 2016 – 2021 saat Webinar Sinar Tani bekerjasama dengan FMC pada Rabu (31/8) mengatakan, tanah sakit berbeda dengan tanah miskin. Tanah sakit lebih banyak berhubungan dengan kerusakan sifat fisik dan kimia. Sedangkan tanah miskin lebih banyak berhubungan dengan kekurangan unsur hara.
Begitu juga pembenah tanah juga berbeda dengan pupuk. Pupuk berfungsi mengayakan tanah, pembenah tanah memperbaiki tanah sakit. “Jadi tanah kaya belum tentu sehat. Umumnya tanah di Pantai Utara Jawa (Pantura) dengan tekstur yang berat, sehingga kalau kering sangat keras, dan kalau basah lunak. Itu memang tanah sakit,” katanya.
Menurut Supiandi, tanah sakit berkaitan dengan sifat fisik tanah, tekstur dan agregat tanah atau struktur, sehingga sangat mempengaruhi sifat kimia dan biologi. Jika petani ingin menanam padi tidak ada masalah. Namun untuk tanaman lain berbahaya, karena mudah kering. “Jadi agregat tanah yang perlu diperbaiki,” katanya.
Setidaknya ada tiga jenis pembenah tanah, soil conditioner, soil ameliorant, dan soil decomposers. Soil conditioner untuk perbaikan sifat fisik tanah. Sedangkan, soil ameliorant untuk perbaikan sifat kimia tanah dan mengurangi sifat racun aluminium. Sementara soil decomposers untuk memperbaiki sifat biologi tanah.
Pembenah tanah menurut Supiandi, bisa berbentuk alami, padat dan cair. Semuanya bisa untuk meningkatkan agregat dan produktivitas tanah. Karena itu, Supiandi mengapresiasi teknologi pembenah tanah dari FMC. “Tanah di Indonesia sekarang kapasitas tukar kation (KTK) sudah sangat rendah, bagus sekali ditingkatkan dengan bersifat magnet, bisa menjerat,” ujarnya.