Rabu, 18 September 2019


Harga Susu tak Menarik bagi Peternak

04 Nov 2014, 16:45 WIBEditor : Ika Rahayu

Kalangan peternak sapi perah menilai, terus merosotnya produksi susu di dalam negeri  lebih disebabkan oleh semakin surutnya minat masyarakat untuk bergerak di usaha budidaya sapi perah. Ini berawal dari tak menariknya harga jual susu hasil pemerahan sehari-hari.

Dalam perbincangan dengan Sinar Tani, ketua Gabungan Kelompok Peternak (Gapoknak) Sugih Mukti Mandiri, Taryat Ali Nursidik, mengemukakan bahwa dari dulu hingga kini harga jual susu yang rendah masih menjadi kendala dalam melaksanakan kegiatan budidaya sapi perah di tanah air.

Kondisi ini makin dirasakan menyesakkan dada bila mengingat harga berbagai sarana produksi peternakan terutama harga pakan ternak yang kian melambung tinggi. “Harga pakan kenaikannya luar biasa cepat,  belum lagi harga-harga kebutuhan hidup kita. Sementara harga susu hasil pemerahan segitu-segitu saja,” kata Taryat.

Mengutip hasil survei dari beberapa perguruan tinggi ia menjelaskan bawa pada tahun 2007 berdasarkan perhitungan harga susu yang layak sekitar Rp 3.300 per liter namun faktanya saat itu harga yang dicapai hanya dikisaran Rp 1.900 – Rp 2.000 per liter. Pada tahun 2013 berdasarkan analisa, harga yang layak Rp 5.300 tetapi faktanya kisaran harga yang terjadi hanya Rp 3.800 – Rp 4.400 per liter.

“Bahkan saat inipun harga jual susu rata-rata masih belum melebihi Rp 5.000 per liter, padahal kalau peternak mau mendapat untung  dengan kondisi harga pakan yang tinggi, harga jual susu harusnya sudah di atas Rp 5.000 per liter,” tandasnya.

Karenanya ia menilai, sekarang ini sulit bagi peternak untuk bisa membiayai kehidupan diri dan keluarganya jika hanya mengandalkan  dari penjualan susu hasil pemerahan sehari-hari. Kondisi harga jual susu yang tak menarik ini pada akhirnya bisa  berimbas pada penurunan minat peternak  untuk meneruskan usaha pemeliharaan sapi perahnya, sehingga berujung pada penurunan produksi susu secara nasional.

Harus Terintegrasi

Peternak akan merasakan manfaat yang besar jika tergabung dalam  organisasi kelompok peternak yang mengembangkan model usaha yang terintegrasi dari hulu hingga hilir karena dipastikan kelompok bisa membeli susu segar hasil peternak dengan harga lebih tinggi karena susu bersangkutan akan diolah lebih lanjut menjadi berbagai jenis produk lanjutan yang bernilai ekonomi tinggi.

Seperti yang dilakukan Gapoknak Sugih Mukti Mandiri di Subang Jawa Barat ini, susu hasil setoran peternak anggota diproses lebih lanjut menjadi aneka jenis produk seperti susu pasteurisasi, yoghurt, dodol dan kerupuk susu yang cukup diminati pasar di wilayah Jawa Barat. “Karenanya kami bisa membeli susu segar peternak anggota kami sampai Rp 6.700 per liter,” tandasnya.

Dengan melaksanakan usaha peternakan yang terintegrasi, organisasi yang dipimpinnya bahkan sudah bisa menghasilkan sumber enerji berupa biogas yang sudah dimanfaatkan untuk bahan bakar rumah tangga di sekitar peternakan. Selain biogas, dari kotoran ternak sapi yang terkumpul juga pada akhirnya bisa diperoleh produk olahan berupa pupuk organik untuk memenuhi kebutuhan anggota akan pupuk ramah lingkungan di lahan usaha taninya.

Taryat berharap model peternakan terintegrasi yang dikembangkannya bisa ditiru di daerah-daerah pengembangan sapi potong lainnya, karena ini bisa menjadi solusi untuk meningkatkan pendapatan peternak sapi perah di tengah harga susu yang juga membaik. Ira

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018