Kamis, 21 Maret 2019


Peternak Ayam Kian Terpinggirkan

08 Des 2014, 17:50 WIBEditor : Ika Rahayu

Kalangan peternak ayam ras (broiler) mengharapkan pemerintah segera  melakukan pengaturan agar nasib mereka tidak makin terpuruk. Kegiatan usaha budidaya broiler saat ini 70 persen  sudah dikuasai perusahaan besar terintegrasi, sehingga posisi peternak rakyat kian terpinggirkan.

Dalam acara Seminar Nasional Bisnis Peternakan yang diselenggarakan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) di Jakarta,  Wakil Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia, Edy Wahyudin  memaparkan betapa belakangan ini jumlah peternak ayam mandiri di tanah air terus menyusut.

Mereka banyak yang tak  mampu bertahan karena produk ayam yang dihasilkan tidak bisa bersaing dengan ayam yang dihasilkan perusahaan terintegrasi. Di sisi lain  mereka juga berhadapan dengan begitu banyak kendala sehingga mempersulit mereka menjalankan usahanya.

Kendala yang dirasakan paling memberatkan peternak mandiri, menurut Edy, adalah terus naiknya harga pakan  padahal harga produk ayamnya sendiri cenderung terus melemah akibat  berlebihnya pasokan ayam di pasar.  

Menurut catatan pihaknya, rata-rata harga broiler hidup berada di bawah harga pokok produksi (HPP) walaupun di saat tertentu seperti menjelang lebaran harga memang naik signifikan. “Saya perhatikan harga yang terjadi itu mengikuti pasokan DOC oleh perusahaan pembibitan ayam yang cenderung terus naik,” tuturnya.

Sebagai industri biologis, usaha budidaya ayam ras bukan melulu terkendala oleh kondisi harga yang belum memberikan keuntungan dan mahalnya harga pakan tetapi juga oleh ancaman penyakit hewan dan terjadinya bencana musiman.

“Di musim hujan misalnya di mana-mana terjadi banjir. Pengangkutan ayam terganggu sehingga lagi-lagi berdampak menurunkan harga jual ayam,” jelas Edy, yang pada kesempatan itu menjadi pembicara seminar bersama Ketua Umum GPMT, Sudirman dan pengamat ekonomi ternama Aviliani.

Stabilisasi Suplai Demand

Agar harga ayam tak bergejolak, ia menilai yang diperlukan adalah menciptakan stabilisasi suplai demand ayam. Tapi ini sulit bisa direalisasikan karena banyak faktor yang terkait di dalamnya, apalagi di antara peternakan sendiri sudah terjadi persaingan yang tidak sehat. “Bagaimana peternak mandiri bisa bersaing dengan perusahaan integrated yang notabene juga menghasilkan sendiri DOC dan pakan ternak,” tandas Edy.

Di era globalisasi saat ini peternakan rakyat benar-benar tak berdaya, karena kenyataannya  kemitraan ayam ras dikuasai perusahaan perunggasan terintegrasi. Demi kebersamaan, Edy melihat pentingnya upaya pengaturan oleh pemerintah sehingga masing-masing pihak bisa terus bertahan hidup dan saling mendukung.

Yang diinginkan peternak adalah kegiatan budidaya diberikan kepada peternak mandiri, sementara perusahaan integrated menguasai di sektor hulu dan hilir, meliputi usaha memproduksi pakan, DOC , obat-obatan dan sarana pendukung lainnya, juga mengembangkan kegiatan pengolahan ayam dengan sasaran pasar dalam negeri dan pasar ekspor.  

Kementerian Pertanian tidak bijaksana jika terus membiarkan praktek persaingan yang tidak sehat di bidang budidaya ayam ras ini terus berlangsung  karena seperti yang tertera dalam  UU No.41 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan usaha peternakan dilaksanakan berdasarkan azas kerakyatan dan keadilan. “harus diingat, walaupun jumlah kami sedikit namun  memiliki nilai strategis karena mampu menjadi penyedia bahan pangan sumber protein hewani bagi masyarakat,”  tutur pimpinan PINSAR itu. Ira

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018