Friday, 27 November 2020


Masa Suram Petani Tebu

31 Dec 2014, 16:18 WIBEditor : Julianto

Komoditi gula kini tak lagi manis bagi petani tebu. Sejak dua tahun terakhir, petani tebu tak lagi menikmati jerih payah budidaya tebu. Pasalnya, gelontoran gula rafinasi (berbahan baku impor) yang masuk ke pasar konsumsi membuat harga gula anjlok. Akibatnya kini ratusan ribu ton gula milik petani menumpuk di pabrik gula.

Lebih mirisnya lagi bagi petani adalah disebarkan wacana bahwa gula produksi pabrik gula dalam negeri berbahan baku tebu (petani) tidak cocok untuk industri makanan minuman (Mamin). Padahal sejak zaman penjajahan, industri Mamin telah menyerap gula produksi dalam negeri.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Sumitro Samadikoen mengatakan, sejak tahun 2013 semangat petani untuk memelihara kebun tebu makin menurun, sehingga rendemen gula juga terkikis. Penyebabnya, adalah makin rendahnya harga gula petani. Jika tahun lalu harga turun dari Rp 10 ribu menjadi Rp 9 ribu/kg.

“Sekarang ini penurunan harga gula lebih besar lagi. Kita tergantung ending tahun 2014 ini. Jika harga membaik, maka petani akan bangkit dan semangat memelihara kebun. Tapi kalau endingnya tidak indah, petani bisa meninggalkan tanaman tebu karena tidak menguntungkan lagi,” tuturnya usai bertemu dengan Menteri Pertanian di Jakarta, pekan lalu.

Sumitro memprediksi, akhir tahun ini akan suram jika pemerintah tidak mengambil kebijakan yang tegas yakni menyetop impor gula raw sugar sebagai bahan baku industri gula rafinasi. Sebab, impor gula yang pemerintah keluarkan sejak tahun 2013 hingga kini sudah melebih kebutuhan.

Pada awal tahun 2012, pemerintah mengeluarkan ijin impor sebanyak 2,68 juta ton. Dengan berbagai alasan pemerintah menambah lagi ijin impor sebanyak 440 ribu ton, sehingga totalnya mencapai 3,15 juta ton.

Pada November dengan alasan meningkatnya kebutuhan menjelang tahun baru dan hari Raya Natal, pemerintah kembali mengeluarkan ijin impor sebanyak 1,35 juta ton, belum termasuk ijin impor Bulog sebanyak 350 ribu ton.

Tahun 2013, volume impor gula bertambah menjadi 3 juta ton. Sedangkan tahun ini pemerintah memberikan ijin impor sebanyak 2,8 juta ton. Dengan kebutuhan gula rafinasi sesuai kebijakan pemerintah hanya untuk industri Mamin tidak lebih 2 juta ton/tahun, maka terjadi kelebihan impor sangat besar. Dalam tiga tahun terakhir terjadi akumulasi kelebihan impor sebanyak 2,3 juta ton.

“Kelebihan impor tersebut membuat gula rafinasi menumpuk, sehingga akhirnya dijual ke pasar konsumen,” katanya. Masuknya gula rafinasi tersebut membuat gula produksi pabrik gula dalam negeri yang mengolah tebu petani tidak bisa ke luar ke pasar. Akibatnya kini banyak gula menumpuk di gudang-gudang pabrik gula.

“Jika kondisi ini terus dibiarkan akhir tahun saya perkirakan gula petani yang menumpuk di gudang bisa mencapai 2 juta ton. Pada tahun lalu, sebanyak 1,2 juta ton,” sesalnya.

Padahal seharusnya dengan kebutuhan gula konsumsi sebanyak 220-350 ribu ton per bulan, produksi gula petani bisa terserap ke pasar, tapi kenyataannya tidak. Bahkan industri gula Gula Madu Plantation, salah satu industri gula dalam negeri di Lampung, juga sulit menjual hasil produksinya.

Menumpuknya gula tersebut menurut Sumitro membuat harga gula menjadi anjlok. Saat ini harga gula hanya sekitar Rp 7 ribu/kg. Bahkan pada lelang terakhir, tidak ada yang memberikan penawaran. “Kalau ada yang menawar paling banter Rp 7.700/kg,” katanya. Padahal kalkulasi APTRI, petani baru bisa untuk dengan harga gula sekitar Rp 10.600/kg dan BEP Rp 9.676/kg.

“Kalau pemerintah berniat swasembada gula, harusnya buat petani tebu tertawa. Jangan biarkan petani menangis,” tegas Sumitro. Yul

 

Usulan APTRI untuk Pemerintah

Jangka Pendek

  1. Segera bersihkan pasar konsumsi dari produk gula rafinasi karena tidak sesuai dengan peruntukannya.
  2. Spesifikasi gula rafinasi harus dibedakan tidak hanya kadar Icumsa-nya kurang dari 45, tetapi juga butiran kristalnya harus lembut.
  3. Tetapkan moratorium impor raw sugar bahan baku gula rafinasi.
  4. Ijin impor raw sugar harus disesuaikan dengan kebutuhan riil industri makanan minuman. Tidak boleh berdasarkan kapasitas terpasang.
  5. Pengawasan yang ketat terhadap pemasaran gula rafinasi disertai penerapan sanksi yang tegas.

Jangka Panjang

  1. Ketersediaan bibit, pupuk, kredit usaha tani yang tepat waktu.
  2. Dirikan Bank Tani yang khusus memberikan kredit bagi petani dengan bunga yang setara dengan bunga bank yang dinikmati oleh petani di luar negeri.
  3. Perbaikan infra struktur pertanian untuk pemenuhan peningkatan produksi.
  4. Tersedianya mesin yang dapat meringankan beban biaya mulai tanam hingga proses panen/tebang dengan tetap mempertimbangkan penyerapan tenaga kerja.
  5. Peremajaan/pembaharuan/modernisasi Pabrik Gula milik BUMN sehingga bisa memberikan dorongan dan semangat peningkatan produksi di tingkat on-farm.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018