Friday, 27 November 2020


Petani Tuntut Moratorium Izin Impor Raw Sugar

08 Jan 2015, 21:59 WIBEditor : Nuraini Ekasari sinaga

Beberapa waktu lalu, Kementerian Perdagangan sudah mengeluarkan izin impor raw sugar sebanyak 600 ribu ton kepada perusahaan gula rafinasi, untuk periode Januari sampai Maret 2015. Jumlah 600 ribu ton ini baru tahap pertama impor dari perkiraan alokasi impor raw sugar berjumlah 2,8 juta ton pada 2015.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) Blora, Anton Sudibyo, meminta impor raw sugar  dimoratorium supaya tebu petani dapat terserap dan mendapatkan harga bagus.

Permintaan ini telah diajukan kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dalam sebuah pertemuan antara pengusaha gula dan petani di Kantor Kementerian Pertanian belum lama berselang.

“Kalau permintaan ini tidak direspon pemerintah, dalam waktu dekat, petani tebu akan demo ke Jakarta,” tegas Anton.

Terbitnya kebijakan pemerintahan yang membuka kran impor gula mentah (raw sugar) sebanyak 600 ribu ton ini, dikhawatirkan semakin menekan harga pembelian tebu petani. Pada tahun ini saja, petani menjual gulanya di bawah Harga Patokan Petani (HPP) sebesar Rp 8.500 per kilogram.

Anton mengatakan kebijakan impor ini membuat petani tidak mempunyai nilai tawar, lantaran pedagang gula lebih memilih gula impor. Pada tahun ini, harga lelang untuk petani sekitar Rp 8.150 per kilogram dari pembelian beberapa pabrik seperti Pabrik Gula (PG) Pakis dan PG Rejoagung.

Rugi Rp 500 juta

Anton mengatakan tahun ini ia pribadi saja sudah rugi Rp 500 juta karena pembelian di bawah HPP gula yang ditetapkan pemerintah. Jika sesuai HPP, dirinya semestinya memperoleh harga pembelian sekitar Rp 350 ribu per ton dalam bentuk tebu gelondongan. Namun yang terjadi pabrik memberikan harga sekitar Rp 180 ribu per ton.

“Kerugian ini juga karena sejumlah pabrik gula masih menunggak pembayaran. Terkecuali PG Blora yang sudah lunas,” jelasnya. Luas lahan tebu yang dimiliki Anton mencapai 40 hektar dengan jumlah produksi antara 6.000-7.000 ton tebu per tahun.

Menurut Anton, panen tebu yang berlangsung pada Mei tahun depan idealnya memberikan harga bagus kepada petani. Sehingga, petani bergairah untuk menanam tebu. “Tetapi dengan disetujuinya impor raw sugar dikhawatirkan mematikan petani. Yang lebih bagus kalau impor dapat mensejahterakan petani,” kata Anton ketika ditemui di Blora. Echa

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018