Friday, 27 November 2020


Spenyel Yadafat, Merasa Bangga Menjadi Petani

14 Jan 2015, 19:07 WIBEditor : Ika Rahayu

Kalau sebagian orang masih menganggap sebelah mata profesi petani,   Spenyel Yadafat tak demikian. Putra asli Suku Ayamaru Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat ini justru sangat merasa bangga bisa menjadi petani.

Terlahir sebagai anak pertama dari empat bersaudara yang kedua orang tuanya  juga menggeluti bidang pertanian, Spenyel telah merasakan betapa menjadi petani tak kalah menguntungkan dibandingkan dengan menjalani profesi lain.

“Pekerjaan bertani sangat mulia. Hasilnya pun bisa memenuhi kebutuhan pangan semua orang termasuk yang tinggal di kota,” begitu Spenyel mengemukakan alasannya  mengapa tak seperti rekan sebayanya yang banyak memilih merantau ke kota besar, ia begitu mantap memilih menjalankan usaha budidaya pertanian di desanya.

Bertani di wilayah paling timur Indonesia bukannya tanpa kendala. Ketika daerah  tempat tinggalnya masih berstatus distrik atau kecamatan, ia dihadapkan pada  keterbatasan sarana transportasi . Akibatnya, kegiatan pengangkutan hasil panen ke pasar atau ke konsumen akhir menjadi terhambat.

Satu-satunya cara untuk memasarkan hasil pertaniannya adalah  harus membawa  ke Kota Sorong. Dan itu harus ditempuh dengan menggunakan kapal perintis yang tidak setiap hari ada pelayaran bahkan terkadang menunggu dulu dua minggu baru tersedia kapal.

“Kalau ditempuh dengan cara lain yaitu menggunakan pesawat terbang, pastilah sangat tidak mungkin. Selain mahal, tidak setiap hari ada penerbangan”, jelas Spenyel mengenang masa-masa sulitnya beberapa tahun yang silam.

Membentuk Kelompok Tani

Terlaksanakannya pemekaran Kabupaten Sorong menjadi lima daerah tingkat dua, membawa berkah bagi warga sekitar, termasuk Spenyel. Betapa tidak?  Sorong Selatan sebagai salah satu kabupaten baru dengan ibu kotanya Teminabuan, mengalami kemajuan  pesat baik dari sisi pembangunan fisik maupun perekonomiannya. Hal ini berdampak pada peningkatan kebutuhan sehari-hari termasuk  permintaan hasil-hasil pertanian.

Saat ini pria 38 tahun  yang juga menyandang status sebagai “Petani Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2014” itu  tak lagi  kesulitan untuk memasarkan hasil panennya. Di samping sarana transportasi di daerahnya sudah lumayan memadai, Spenyel juga telah memiliki pelanggan yaitu para pedagang pengepul yang setiap saat siap menampung hasil panennya. 

Namun demikian, Spenyel tak berpuas diri dengan yang telah dicapainya. Tetap berpikir untuk lebih maju, ia bersama rekannya sesama petani menyepakati  pembentukan Kelompok Tani (koptan)  dan  Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di mana ia ditetapkan  sebagai ketuanya.

Berbekal modal bantuan pemerintah yang disalurkan melalui Poktan dan Gapoktan, Spenyel dan kawan-kawan bisa lebih mengembangkan usahatani mereka. Adapun usaha tani yang digeluti Spenyel saat ini meliputi tanaman  jagung seluas 1 ha, ubi kayu, ubi jalar dan keladi masing-masing 0,50 ha.

Selain itu ia juga berusahatani aneka sayuran berupa bayam, kacang panjang, cabai,  sawi dan  gedi (sayuran yang diekspor).  Jadi, tidaklah mengherankan kalau setiap bulannya Spenyel mengantongi keuntungan rata-rata Rp. 5.000.000, nilai yang cukup besar bagi seorang petani di tanah Papua. Ira

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018