Sunday, 11 April 2021


Petani Tebu Keluhkan Terus Merembesnya Gula Rafinasi ke Pasaran

20 Feb 2015, 23:15 WIBEditor : Nuraini Ekasari sinaga

Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) Blora, Anton Sudibyo kembali berbicara menyuarakan keluh kesah petani tebu di tanah air. Yang paling dirasakan “memukul” petani adalah fenomena terus merembesnya penjualan gula rafinasi ke pasaran dengan harga jual lebih rendah dari gula tebu yang dihasilkan pabrik-pabrik gula dalam negeri.

“Dampaknya, gula produksi PG-PG di dalam negeri sulit bersaing dengan gula rafinasi sehingga praktis pada akhirnya memukul para petani tebu kita,” kata Anton kepada Sinar Tani.

Kebijakan pemerintah memberikan izin impor raw sugar sebanyak 1,8 juta ton pada kuartal 2 tahun 2015 juga dinilainya sangat tidak berpihak pada kepentingan petani. “Kebijakan ini bisa membuat petani tebu kita sekarat karena saat ini mereka dihadapkan pada tingginya harga sarana produksi pertanian dan di sisi lain mereka berhadapan dengan serbuan gula rafinasi,” tandasnya.

 Pemerintah telah menetapkan bahwa gula rafinasi hanya diperuntukkan bagi industri sehingga sesungguhnya melawan hukum jika gula rafinasi diperjualbelikan di pasar eceran untuk konsumen akhir. “Tetapi kenyataannya, gula rafinasi dengan mudah dijumpai konsumen di pasar,” tutur Anton.

Audit Kemendag

Hasil audit Kemendag (2013) terhadap delapan produsen gula kristal rafinasi membuktikan bahwa terdapat rembesan di 1.541 pengecer dari 8.619 pengecer yang disurvei.

Sudah tentu merembesnya gula rafinasi ini sangat memukul petani karena harga gula rafinasi lebih rendah daripada harga gula konsumsi hasil olahan tebu petani.

Ketua APTRI Blora itu berharap petani bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah yang membiarkan bahkan memberikan izin impor raw sugar karena pada akhirnya petani tebulah yang akan menjadi korban pertama.

Ia pribadi saja pada musim giling lalu sudah menanggung kerugian sekitar Rp 500 juta karena pembelian di bawah HPP gula yang ditetapkan pemerintah. Jika sesuai HPP dirinya semestinya memperoleh harga pembelian sekitar Rp 350 ribu per ton dalam bentuk tebu gelondongan. “Namun yang terjadi, pabrik hanya memberikan harga sekitar Rp 180 ribu per ton,” ujarnya.

Dengan kondisi rendahnya produksi dan produktivitas, naiknya biaya produksi petani ditambah tekanan harga akibat rembesan gula rafinasi ia mengkhawatirkan di musim giling mendatang (yang jatuh mulai Mei 2015) harga pembelian tebu petani kembali tertekan di bawah HPP.

Tidak ada jalan lain, ini menjadi tugas pemerintah untuk mengatasinya. Karena kalau sampai kondisi demikian terjadi petani makin tak bergairah untuk meneruskan usaha tani tebunya. Echa/Ira

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018