Sunday, 11 April 2021


Abon Sapi, Produksi KWT Sipapetawa

05 Mar 2015, 16:44 WIBEditor : Julianto

Abon sapi produksi Kelompok Wanita Tani (KWT) Sipapetawa menjadi salah satu produk pangan yang telah mendapat sentuhan teknologi dari Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Dengan sentuhan tersebut kini abon sapi khas daerah Duri, Enrekang mempunyai nilai tambah.

Ketua KWT Sipapetawa, Hawa mengatakan, sebelumnya dirinya memproduksi abon sapi secara tradisional dengan bahan kayu, belum menggunakan mesin pencacah dan hanya modal penggorengan untuk memasak. “Saya mendapat informasi dari rekan agar mengajukan usulan bantuan ke pemerintah. Alhamdulillah ada respon dan pada tahun 2013 bantuan itu turun,” katanya kepada Sinar Tani.

Dia mengatakan, sejak mendapat bantuan pengemasan, pengering dan pencacah, produksi abon KWT Sipapetawa meningkat. Dari sebelumnya hanya 5 kg/minggu menjadi 10 kg/minggu. Bahkan kini produksinya bukan abon sapi, tapi juga abon ikan. Abon KWT Sipapetawa juga kini mempunyai label sendiri.

“Banyak kalangan ibu rumah tangga yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tani, kini beralih profesi bekerja mengolah abon sapi,” ujarnya. Saat ini ada sekitar 15 ibu rumah tangga yang tergabung dalam KWT Sipapetawa.

Hawa mengatakan, selain mendapat bantuan peralatan, dirinya juga mendapat bantuan pelatihan seperti cara pengolahan yang sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). “Bantuan pemerintah telah memberikan nilai tambah bagi produk kami,” kata dia.

Pengembangan abon sapi tidak lepas dari potensi populasi sapi di Kabupaten Enrekang. Selain abon sapi, produk pangan olahan lainnya adalah dangke. Dangke yang merupakan hasil olahan susu sangat disenangi karena mempunyai rasa khas susu kerbau/sapi dan merupakan makanan bergizi tinggi. Saat ini masyarakat telah mengolah dangke menjadi kerupuk dangke dan nugget dangke. Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018