Friday, 01 July 2022


Yakub, Sejahtera Berkat Bawang Merah

29 Jun 2015, 16:56 WIBEditor : Nuraini Ekasari sinaga

Bawang merah merupakan salah satu produk hortikultura unggulan  di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tingkat produktivitas pertanaman bawang merah di wilayah ini rata-rata bisa mencapai  10 ton per hektar.

Salah satu petani  bawang merah asal Desa Sangia, Kabupaten Bima NTB, Yakub mengatakan, dengan bertanam bawang merah ia bisa meningkatkan kesejahteraan diri dan  keluarganya. Bahkan ia  mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi dan memiliki sarana  pengangkutan bawang merah sendiri.

Yakub memulai usaha budidaya bawang merahnya pada tahun 1986 dari luasan lahan  hanya satu hektar. Untuk satu hektar  itu total biaya produksinya Rp 50 juta. Saat ini dari seluruh lahan usaha taninya, ayah tiga anak ini   sekali panen  bisa memperoleh  15 ton bawang merah. Dengan harga jual saat ini yang   Rp 9 ribu per kilo gram, berarti sekali panen ia bisa meraih Rp 135 juta.

Puluhan tahun menggeluti usaha penanaman bawang merah menjadikan  Yakub mengerti betul seluk beluk teknik budidaya termasuk teknologi terkini. Belakangan ia telah menerapkan penanaman bawang merah dengan benih bukan berupa umbi seperti biasanya tetapi Benih berbentuk biji.

Berbagai Kendala

Dengan menerapkan teknologi ini Yakub  hanya membutuhkan 5 kg biji bawang merah per hektar dengan total biaya Rp 10 juta. ”Jauh lebih  hemat dibandingkan pakai umbi. Harga umbi sangat mahal. Dari modal tanam Rp 45 juta per hektar, sekitar Rp 25 juta di antaranya untuk membeli benih umbi,” katanya.

Sayangnya, menurut Yakub, saat ini berbagai kendala dihadapi  petani bawang merah  salah satunya kian tingginya serangan organisme pengganggu tanaman.  Ulat merupakan hama endemik dengan intensitas serangan cukup tinggi pada MT II dan MT III dan merupakan faktor penyebab 60%  kegagalan usaha budidaya bawang merah.

Penyemprotan pestisida dengan volume dan intensitas tinggi merupakan tindakan pengendalian hama yang sering dilakukan petani. Tindakan ini tidak hanya beresiko, pada beberapa kasus tindakan tersebut tidak membuahkan hasil. Petani tetap mengalami gagal panen dan menderita kerugian yang mengakibatkan dijualnya aset-aset yang dimiliki.

“Tapi saya bersyukur  setiap tahun pasti bisa mengatasinya dengan berbagai metode. Kalau ada  kemauan pasti ada jalan dan bulatkan tekat jangan mudah pesimis,” tegas Yakub. Echa/Ira

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018