Friday, 01 July 2022


Dominggus Nones, Kelola Poktan Pala Beromset Rp 44,8 Miliar

13 Jul 2015, 20:25 WIBEditor : Kontributor

Penampilannya sederhana tidak jauh berbeda dengan petani-petani pala lain di Desa Dokulamo, Kecamatan Galela Barat, Kabupaten Halmahera Utara. Namun siapa sangka Dominggus Nones adalah Ketua Kelompok Tani Tarakani yang memiliki omset usaha hingga Rp 44,8 miliar.

Awalnya Dominggus Nones mendapat penawaran untuk mendapatkan sertifikat produk organik dari sebuah lembaga sertifikasi organik di Jakarta. Dia diminta mengkoordinir petani-petani yang ada di desanya.

Setelah mendapatkan penjelasan tentang keuntungan pertanian organik dengan penuh semangat Dominggus mengajak petani-petani di sekitarnya mengadakan pertemuan sosialisasi pertanian organik. Tidak disangka-sangka petani yang berhasil dikumpulkan sangat banyak, lebih dari seribu orang petani. Akhirnya 1.205 orang petani sepakat membuat kelompok tani  dengan nama Tarakani dan mendaulat bapak dua anak ini menjadi ketua.

Lelaki kelahiran 1974 yang hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 5 SD ini kemudian mengkoordinir anggota kelompok taninya untuk mensuplai biji pala yang memenuhi standar produk organik. Tiap hari petani menyetorkan biji pala organik dan fuli ke gudang Tarakani. Setiap kilogram biji pala kualitas grade A mendapat harga dari Rp 105 ribu, Grade B Rp 80 ribu dan Grade C Rp 55-60 ribu.

Dominggus mengatakan, untuk mendapatkan sertifikat organik tidaklah mudah dan membutuhkan biaya yang cukup besar. Selain itu menuntut pengawasan yang ketat agar mutu biji pala organik tetap terjaga.

Karena itu dia menempatkan beberapa orang pengawas di sentra-sentra penghasil pala. Pengawas tersebut secara rutin berkeliling mengawasi, melihat, dan mengajari petani penerapan prinsip-prinsip pertanian organik mulai dari budidaya hingga pasca panen.

Cara Dominggus cukup berhasil. Akhir tahun 2014, jumlah petani yang ingin bergabung dengan Kelompok Tani Tarakani kian banyak. Awal tahun 2015 tercatat ada 2.300 petani baru yang mendaftar menjadi anggota. Total anggota Kelompk Tani Tarakani kini mencapai 3.505 anggota. Daerahnya meliputi seluruh desa dan kecamatan yang ada di Halmahera Utara. Total luas kebun pala mencapai 1,923.85  ha dengan populasi pohon pala sebanyak 125.745  pohon yang telah menghasilkan.

“Tiap tahun saya mendapatkan permintaan sebanyak 800 ton pala organik, namun baru bisa terpenuhi 427,433 ton per tahun,” katanya. Jika harga biji pala sekitar Rp 105 ribu per kg, maka omset pala organik yang dikelola Dominggus mencapai Rp 44,8 miliar per tahun. Nilai yang tidak sedikit untuk ukuran sebuah kelompok tani.

Sertifikasi organik yang didapat Kelompok Tani Tarakani berasal dari HCC (Horti Chain Centre). HCC adalah sebuah lembaga yang menyediakan layanan pengembangan usaha yang berkedudukan di Jakarta. Lembaga itu melakukan peninjauan, pengambilan sampel, dan pengujian terhadap produk biji pala yang dihasilkan petani pala yang menjadi anggota Kelompok Tani Tarakani.

Sebagian besar petani pala di Kabupaten Halmahera secara turun temurun melakukan budidaya pala tanpa menggunakan pupuk dan obat kimia. Tanpa banyak kendala, akhirnya pada Desember 2013 Kelompok Tani Tarakani mendapatkan sertifikat produk organik yang disahkan oleh USDA (United State Departement of Agriculture), Departemen Pertanian Amerika Serikat.

Sertifikat dari lembaga yang diakui dunia ini menjadi jaminan bahwa biji pala yang dihasilkan Kelompok Tani Tarakani memenuhi standar internasional produk pangan organik dan mendapatkan harga premium. Kini tantangan Dominggus Nones kian besar. Di satu sisi Dominggus harus mempertahankan kualitas dan mutu biji pala organik. Tapi di sisi lain dituntut bisa memenuhi permintaan biji pala organik. Isroi/Assagaf/Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018