Friday, 01 July 2022


Supraptono, Petani Berprestasi dari Gunungkidul - Berinovasi di Tengah Keterbatasan

06 Nov 2015, 16:58 WIBEditor : Julianto

Keterbatasan bukan kendala untuk berinovasi. Justru dengan keterbatasan, inovasi baru akan muncul. Itulah yang dilakukan Supraptono, petani asal Gunung Kidul.

Lahir dan besar di Desa Bleberan salah satu desa di Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DI Yogyakarta membuat Supraptono banyak mengenal kondisi wilayahnya. Kondisi wilayah Desa Bleberan merupakan dataran lahan pertanian tadah hujan dengan luas tanah pekarangan 332 hektar (ha), lahan tegalan (lahan kering) 356 ha dan sisanya lahan sawah tadah hujan seluas 114 ha.

Desa tersebut memiliki 11 dusun membentang dari timur ke barat seluas 802 hektar. Desa ini terletak pada 400 meter dpl sehingga termasuk dataran rendah. Desa Bleberan merupakan salah satu desa wisata yang ada di Kabupaten Gunungkidul dengan obyek wisata andalan adalah air terjun Sri Getuk dan Gua Rancang Kencono. Jumlah penduduknya 1.503 KK yang terdiri dari 5.157 jiwa dengan mata pencaharian sebagian besar penduduknya sebagai petani.

Terbatasnya tenaga kerja manusia merupakan permasalahan yang harus diatasi untuk mendapatkan efisiensi usaha tani agar pendapatan semakin meningkat. Inovasi teknologi yang ditemukan untuk menunjang proses produksi. Misalnya, alat pemipil jagung sederhana yang digerakkan dengan menggunakan pompa air bekas sebagai penggerak dengan kapasitas 300 kg/hari/orang. Sebelumnya dipipil secara manual hanya bisa 75-100 kg/hari.

Selain itu alat perontok padi yang digerakkan dengan pompa air bekas bisa mengurangi penggunaan tenaga manusia. Pengembangan tanaman jagung dengan sistem legowo yang diadopsi dari tanam jajar legowo tanaman padi ternyata mampu meningkatkan populasi tanaman lebih dari 34% dan meningkatkan produksi 20%.

Awal terjun ke dunia pertanian pada tahun 1997, Supraptono hanya memiliki lahan kering 0,8 ha dan lahan sawah tadah hujan 0,2 ha. Dengan modal tabungan sendiri, dia  memulai usaha taninya dengan sangat tradisional, tanam dengan benih disebar. Bahkan belum menggunakan benih yang bermutu dan berlabel, pupuk tidak berimbang dan penggunaan pestisida masih asal-asalan, belum mengenal tanam larik, tanam monokultur, apalagi tajarwo dan teknologi SRI.

Peralatan masih sangat tradisional baik untuk alat pengolahan tanah, budidaya, maupun pasca panen semua. Untuk sarana transportasi masih menggunakan sepeda dan gerobak yang ditarik tenaga dengan manusia. Dengan luas lahan yang dimiliki 1 ha, produksi tanaman pangan masih rendah. Padi rata-rata 3,5 ton/ha, jagung 4 ton/ha, kedelai 0,9 ton/ha. Dampaknya, pendapatannya masih rendah dan belum cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga.

Mencari Informasi

Dengan keterbatasan tersebut, Supraptono mencoba memulai aktif mencari informasi dan meningkatkan pengetahuan dengan cara berinteraksi dengan penyuluh. Termasuk, mengikuti pelatihan-pelatihan bidang pertanian, belajar dalam pertemuan kelompoktani, dan memanfaatkan jaringan internet. Informasi yang diperoleh, seperti teknologi yang dianjurkan pemerintah langsung diterapkan.

Tahun 2000, memulai menanam jagung dengan monokultur yang sebelumnya masih tumpangsari dengan tanaman yang lain sekaligus menjadi contoh bagi petani yang lain. Dengan menerapkan teknologi baru, dia bisa membandingkan teknologi yang paling cocok diterapkan.

Untuk mempercepat proses produksi, Supraptono membeli hands traktor dan membuat alat pemipil jagung serta perontok padi sederhana. Seiring berjalannya waktu, saat ini sudah memiliki power treser sebagai alat pasca panen baik untuk padi, jagung dan kedelai.

Selain itu  pada 2012, dia mengadakan kerjasama dengan Dinas Kehutanan untuk bertanam di lahan kehutanan tanpa merusak tanaman pokok berupa kayu putih, sehingga lahannya bertambah 1,2 ha. Kini Supraptono mengelola lahan seluas 2,2 ha.

Setelah delapan belas tahun berprofesi sebagai petani, telah terlihat betapa cerahnya dunia pertanian. Terbukti selama ini telah memiliki 2,2 ha lahan pertanian (1 ha milik sendiri dan 1,2 ha milik Dinas Kehutanan), 3 ekor sapi, 10 ekor kambing, 3 buah kendaraan roda 4, sepeda motor dan beberapa alsintan.

Supraptono juga aktif dalam kegiatan kelembagaan petani, antara lain sebagai Ketua Kelompok Tani, Sekretaris Gapoktan Sidomaju Desa Bleberan. Selain itu juga aktif sebagai pengelola LDPM, Sekretaris KTNA Kabupaten Gunungkidul, anggota KTN Provinsi DIY, dan instruktur P4S (Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya).

Semoga ketekunan Supraptono ditiru oleh terutama yang bertempat tinggal di luar Jawa yang masih banyak tanah yang belum dimanfaatkan dengan baik. Yul/Dikutip dari Profil Petani Berprestasi 2015

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018