Friday, 01 July 2022


Blasius Leta Odja, Memulai dari yang Kecil

14 Dec 2015, 18:50 WIBEditor : Kontributor

Blasius Leta Odja, petani yang dilahirkan di sebuah desa kecil di kaki gunung Kelimutu tepatnya desa Waturaka pada 1 April 1964. Blasius berasal dari keluarga petani yang sederhana, memiliki lahan usahatani yang diwariskan orang tuanya seluas 1 ha.

Latar belakang kehidupan orang tua sebagai petani telah menumbuhkan motivasi dari dalam diri Blasius untuk menjadi petani yang berhasil. Apalagi kondisi fisiknya kurang sempurna. Pada usia 12 tahun, dia menderita sakit yang menyebabkan salah satu kakinya mengecil. Kondisi ini membuatnya menjadi bahan olok-olokan teman-teman sehingga pendidikannya hanya sampai pada kelas 5 SD.

Pada tahun 1987, Blasius mulai membantu orang tua bertani. Komoditi yang diusahakan adalah padi sawah dan aneka sayuran dataran tinggi. Setelah menikah dengan Petronela Gale pada tahun 1988, Blasius mulai menanam kemiri 60 pohon dan cengkeh 35 pohon di atas tanah warisan orang tuanya.

Pada tahun 1990, sebuah Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi dari Komunitas Pastoran mempercayai Blasius untuk belajar teknik budidaya hortikultura sesuai dengan potensi desanya pada SPMA Boawae sekitar 2 bulan.

Dengan motto “Mulailah Dari Hal Yang Terkecil Niscaya Yang Besar Akan Datang”. Ternyata Tuhan mendengarkan niat dan doanya dan memberikan jalan yang terbaik baginya. Pada tahun 1991/1992, Lembaga Sosial Ekonomi dari Kanada melatih mengenai pembuatan pupuk organik dan pestisida organik.

Selesai pelatihan, Blasius mempraktekkan menanam sayuran organik di atas lahan 0,25 ha. Hasilnya, dalam waktu 3 bulan diperoleh keuntungan sebesar Rp 2.500.000. Hal ini mendorong semangat bertani dari petani di sekitarnya semakin menggebu-gebu.

Pada tahun 2008, Blasius bersama teman-teman (18 orang) membentuk Kelompok Tani “Panah Merah”. Dengan luas areal 3,6 ha kelompok tani menanam tomat, saledri, sawi, bawang daun dan cabai. Untuk mendukung usahatani ini, kelompok tani bekerjasama dengan perusahaan yang menghasilkan benih sayuran dan pestisida merk panah merah.

Dari pembelajaran dalam program FEATI, Blasius belajar mengenai budidaya tomat dan cabai pada musim hujan yang selama ini tidak pernah dilaksanakan. Ternyata hasilnya luar biasa karena harganya sangat menguntungkan. Atas keberhasilannya, lahan usahatani Blasius dan anggota kelompok tani lainnya dipilih menjadi lokasi shooting film Semi Dokumenter dengan judul „ Mutiara dari Kelimutu Ende, Flores.

Beberapa harapan yang ingin diraih Blasius ke depan adalah bersama petani lainnya ingin mengembangkan pertanian organik di Desa Waturaka dan kawasan penyangga wisata Kelimutu. Karena wisatawan senang dengan pangan yang bebas pestisida dan pupuk kimia, bersama petani ingin mengembangkan kelompok tani menjadi koperasi pertanian, mengembangkan P4S yang lebih maju dan berkembang lagi. Profil Petani Berprestasi/Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018