Friday, 01 July 2022


Suliyem: Mengayuh Cangkul, Membabat Alang-alang

24 Dec 2015, 01:01 WIBEditor : Kontributor

Lain lagi yang dilakukan kaum perempuan desa yang tinggal jauh dari perkotaan, tepatnya di Desa Pilar, Kecamatan Rusip Antara, sebuah desa yang tergolong terpencil di Tanah Gayo Aceh Tengah. Tergabung dalam Kelompok Tani Wanita Seroja yang dikomandoi Suliyem juga tidak kalah semangat dengan kalangan ibu-ibu yang ada di pinggiran kota.

Fisik yang kuat ditopang tubuh nyaris “kekar” menjadi modal beraktifitas di bidang pertanian. Suami-suami mereka rata-rata lebih fokus pada usaha tani kopi arabika, sehingga peluang berusaha tani  sayur-sayuran akhirnya diambil alih para perempuan desa ini.

Desa Pilar yang berada kurang lebih 60 km  dari Kota Takengon memang masih menyediakan banyak lahan tidur berupa hamparan tanah yang hanya ditumbuhi ilalang dan tumbuhan pakis. Dengan gigih dan nyaris tidak mengenal lelah, perempuan Desa Pilar mulai mengayunkan parang dan cangkul untuk membabat dan membongkar hamparan alang-alang dan pakis.

Setelah tumbuhan gulma itu berhasil disingkirkan, mereka mulai mengolah tanah menjadi guludan atau bedengan yang siap ditanami cabai dan tomat.  Tidak tanggung-tanggung, para perempuan perkasa ini mampu mengolah lahan sampai belasan hektar.

Untuk mencegah tumbuhan pengganggu menghambat usaha tani mereka, mulsa plastik menjadi solusinya. Di atas hamparan mulsa plastik itu, kemudian ribuan batang tanaman cabai dan tomat ditanam. Kerja keras mereka tidak cukup sampai di situ. Untuk memelihara dan merawat tanaman masih perlu kerja ekstra, mulai menyiram, memupuk sampai menyemprot jika ada serangan hama dan penyakit tanaman.

Dengan kerja keras dan kesungguhan serta kekompakan, perempuan anggota kelompok tani itu, kini bisa menikmati hasil. Cabai yang mulai berwarna hijau tua dan padat berisi itupun sudah siap dipanen. Tak perlu menunggu sampai cabai menjadi merah, para pedagang pengumpul sudah menunggu untuk menampung hasil panen. Sementara buah tomat yang mulai memerah juga sudah siap untuk dipasarkan.

Apa yang telah dilakukan perempuan-perempuan desa itu tentu sangat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Dengan penghasilan tambahan, mereka bisa membiayai sekolah anak-anak. Tanpa melupakan kodratnya, ternyata perempuan-perempuan desa itu mampu menjadi pahlawan ekonomi bagi keluarga.

Tanpa mengenyampingkan kaum lelaki sebagai kepala keluarga, perempuan-perempuan ini telah menunjukkan eksistensi. Kaum perempuan bukanlah kelompok yang hanya bisa meminta, tapi juga mampu memberi. Mungkin inilah salah satu wujud emansipasi atau kesetaraan gender yang sesungguhnya.  Fathan/Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018