Wednesday, 10 August 2022


Petani Sulsel Antisipasi Musim Kemarau dan Serangan OPT

16 Jun 2016, 13:36 WIBEditor : Kontributor

 

Panen padi pada musim tanam rendengan (hujan) berangsur-angsur usai. Para petani kembali berlomba-lomba turun sawah memasuki musim tanam gadu (kemarau) yang berlangsung bulan April-September (Asep) 2016.

Seperti halnya petani di kecamatan Duampanua kabupaten Pinrang Sulsel sudah turun sawah yang diawali dengan acara ritual mappalili dari mulai tingkat kelompoktani, desa hingga tingkat kecamatan. Pimpinan Pertanian Kecamatan (PPK) Duampanua, Ir.Burhanuddin Hasan menargetkan produksi rata-rata padi pada musim tanam gadu tahun ini sebanyak 6-7,5 ton gabah kering panen per hektare. Target tersebut optimis dicapai dengan mengantisipasi kemungkinan musim kemarau dan ledakan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Dikatakan Burhanuddin, ada tiga musuh besar  yang dihadapi petani pada musim tanam ini, yakni penggerek batang padi, wereng batang coklat dan tikus. Sedangkan hama penyakit yang harus diantisipasi adalah blas dan kresek. “Musim tanam yang sambung-menyambung dari musim hujan ke musim kemarau memudahkan OPT berkembang, karena makanan ada terus menerus,” ujarnya, Sabtu (21/5) kemarin.

Guna mengantisipasi ancaman OPT tersebut maka dalam tudang sipulung yang dilaksanakan di kecamatan Duampanua beberapa waktu lalu dihasilkan beberapa kesepakatan terkait dengan jadwal turun sawah, penggunaan varietas padi dan sistem tanam padi. Burhanuddin menjelaskan, luas baku sawah di kecamatan Duampanuan mencapai 7.247 hektare. Jadwal turun sawah untuk musim tanam April-September 2016 mulai 20 April dan tutup tanam pada 5 Juni 2016.  Varietas padi yang dianjurkan bagi petani yang turun sawah lebih awal antara lain ciherang, Cigelius, Mekongga, Inpari 4,6,8,10 dan Inpari 30. Sedangakn petani yang baru turun pada akhir jadwal turun sawah dianjurkan menanam varietas umur pendek (genjah) yaitu IR 66. Inpari 13 dan Situbagendit.       

 Sistem tanam  ada dua yaitu jajar legowo 2:1, 4:1 (type 2) dan 4:1 (type 2) baik tanam pindah (Tapin) maupun tanam benih langsung (Tabela).

Untuk mengantisipasi dampak dari musim kemarau adalah dilakukannya percepatan tanam. Sedangkan masalah hama khususnya penggerek batang dan hama tikus juga sudah diantisiapasi. Pada akhir panen lalu sudah ada gejala kupu-kupu dan penerbangan sudah tinggi otomatis sudah siap meletakkan telurnya. Guna menghindari telur dan kemompong berkembang menjadi hama penggerek maka petani melakukan pengolahan lahan secara intensif dan mengaplikasikan insektisida agar tidak mucul hama dan penyakit ketika tanaman padi memasuki umur 21 hari sesudah tanam. Sedangkan untuk mencegah serangan hama tikus, sebelum turun sawah para kelompoktani  melakukan gerakan massal dengan membongkar sarang-sarang tikus yang ada di sekitar pematang dan tanggul irigasi.Abdul Salam Atjo 

Editor : Ahmad Soim

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018