Minggu, 16 Desember 2018


Urban Farming, Bertani di Lahan Sempit Perkotaan

19 Sep 2017, 09:49 WIBEditor : Indarto

Keterbatasan lahan tak menjadi halangan bagi orang kota untuk menjalankan usaha pertanian. Masyarakat perkotaan yang memiliki hobi bertani bisa memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk berkebun dengan mengaplikasikan teknologi budidaya urban farming seperti akuaponik dan hidroponik secara sederhana.

Pertanian perkotaan (urban farming) bukan hanya indah dipandang mata tetapi juga mampu mendatangkan hasil yang lumayan bagi pelakunya. Bahkan, bagi sebagian orang yang menekuninya, urban farming bisa dijadikan bisnis rumahan yang menjanjikan.

Sofian, salah satu petani perkotaan yang bertempat tinggal di daerah Pondok Cabai, Tangerang Selatan (Tangsel) mengaku, baru enam bulan menekuni urban farming. Meski masih muka baru di usaha pertanian perkotaan namun bapak dua anak ini sudah mampu menjadi juragan sayuran organik kecil- kecilan.

Bermula dari hobi memelihara tanaman dan sayuran, Sofian pada akhirnya tertarik untuk mengembangkan akuaponik di pekarangan rumahnya. “Ya, semula hanya hobi, tapi hobi ini justru menghasilkan,” ujar Sofian di sela mengikuti pameran akuaponik dan hidroponik di halaman SMAN 28, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Menurut Sofian, dengan mengembangkan akuaponik masyarakat tak hanya panen sayur, tapi juga sekaligus bisa menghasilkan ikan. Selain bisa bertanam sayur seperti sawi, kangkung, bayam, sledri, dan cabai, masyarakat yang memanfaatkan akuaponik juga bisa berbudidaya ikan seperti lele.

“Sayur yang ditanam dengan sistem akuaponik ini tak perlu disiram, Sebab, airnya memanfaatkan air limbah lele yang ada di bawahnya. Air limbah lele ini juga kaya nutrisi yang dibutuhkan tanaman,” katanya.

Akuaponik ukuran 2 x 1 m x 70 Cm yang dikembangkan Sofian bisa menghasilkan sayuran seperti sawi sebanyak 20 kg. Karena sayur yang dihasilkan termasuk sayur organik, Sofian bisa menjualnya dengan harga Rp 30 ribu per kg. Sehingga Sofian bisa mendapatkan margin Rp 600 ribu/ minggu per unit.

“Apabila satu bulan, maka margin yang saya dapatkan rata-rata mencapai Rp 2,4 juta per unit. Ini baru sayurnya saja,” ujarnya.

Ia bisa memanen ikan lele sebanyak 500 kg/3 bulan. Apabila harga lele Rp 15 ribu/kg, maka Sofian mampu mendapatkan margin Rp 7,5 juta/3 bulan per unit. Dalam setahun, panen lele yang dibudidaya dengan sistem akuaponik ini bisa dilakukan 3-4 kali.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018