Senin, 18 November 2019


Lengkap ! Jenjang dari Mandor sampai Pengolah di SKKNI Sawit

02 Okt 2019, 14:29 WIBEditor : Gesha

Untuk meningkatkan daya saing SDM Perkebunan, pelatihan dan peningkatan komptenesi harus terus dilakukan | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Tangerang --- Dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang Pengelolaan Kelapa Sawit Berkelanjutan, jenjang jabatan dan jenis kompetensi yang dibutuhkan dalam industri kelapa sawit.

"Dalam SKKNI, ditampilkan kompetensi-kompetensi apa saja yang dibutuhkan untuk pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan. Kemudian dilanjutkan dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang ditampilkan jabatan mulai dari budidaya, panennya hingga pengelolaan sawitnya yang dipetakan jabatan berserta kualifikasi yang dibutuhkan industri," tutur Kepala Pusat Pelatihan, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian, Bustanul Arifin Caya. 

Kurang lebih ada 10 peta jabatan dalam KKNI yang berkaitan dengan industri kelapa sawit. "Sebelumnya memang sudah SKKNI untuk mandor/asisten kebun, tapi SKKNI ini lebih luas lagi karena berkembangnya dunia usaha dan dunia industri. Sekarang jadi lebih sistematis lagi dari budidaya sampai pascapanennya," tuturnya.

Bustanul menambahkan bahwa SKKNI bidang perkebunan kelapa sawit yang telah tersusun sebelumnya adalah standar kompetensi untuk profesi manajerial, sedangkan kebutuhan Du/Di saat ini selain standar kompetensi profesi manjerial juga dibutuhkan standar kompetensi profesi teknis/budidaya. "SKKNI bidang perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang telah disusun meliputi kompetensi profesi manajerial dan teknis/budidaya," tuturnya.

Untuk diketahui, sampai saat ini tenaga kerja sektor pertanian 38,7 juta jiwa dan sekitar 7,95 juta atau 24 % pada bidang perkebunan diantaranya perkebunan kelapa sawit. Tenaga kerja bidang perkebunan yang telah disertifikasi sekitar 0,04%. Tenaga kerja sektor pertanian termasuk bidang perkebunan kelapa sawit kompetensi manajerial.

Daya Saing SDM

Direktur Bina Standarisasi Kompetensi Kerja, Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), Sukiyo menuturkan adanya liberalisasi ekonomi global (GATT, WTO, European Union, APEC, NAFTA, AFTA dan SAARC) menimbulkan berbagai tantangan di sektor pertanian termasuk perkebunan.

Salah satu tantangan tersebut berupa meningkatnya persaingan tenaga kerja yang makin ketat sehingga mendorong Indonesia untuk lebih meningkatkan profesionalitas sumberdaya manusianya dalam rangka meningkatkan daya saing di pasar global. Globalisasi pasar kerja akan diwarnai oleh persaingan kualitas dan profesionalitas tenaga kerja. Di masa mendatang pasar kerja akan lebih terspesialisasi pada bidang-bidang profesi dan kompetensi tertentu.

Contohnya dalam jabatan Asisten Kebun yang semakin dibutuhkan oleh industri kelapa sawit seiring dengan pertambahan areal pertanaman sawit. Namun demikian, asisten kebun di Indonesia masih belum sepenuhnya memiliki daya saing karena belum bersertifikat. Kondisi ini terlihat terutama pada perusahaan perkebunan asing yang melaksanakan investasi di Indonesia. Perusahaan tersebut masih menggunakan tenaga kerja asing yang bersertifikat dalam mengelola kebun. 

Sumberdaya manusia yang terlibat dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit ini pada dasarnya harus memiliki kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja yang profesional. Untuk mengurangi penggunaan tenaga kerja asing di bidang tanaman khususnya asisten kebun, diperlukan tenaga kerja Indonesia yang kompeten dan bersertifikat sebagai asisten kebun. 

Asisten Kebun adalah salah satu komponen esensial dalam suatu usaha perkebunan. Untuk melaksanakan fungsi dan peran tersebut, dituntut adanya peningkatan kompetensi Asisten Kebun agar semakin profesional.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018