Minggu, 20 Oktober 2019


Intensifikasi dan Perluasan Lahan, Dorong Produktivitas Kakao Rakyat

07 Okt 2019, 11:22 WIBEditor : Gesha

Dirjen Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono saat panen kakao di Kec.Gubung.Kab.Solok, Sumatera Barat | Sumber Foto:Dok. Indarto

TABLOIDSINARTANI.COM, Solok --- Kakao merupakan salah satu komoditi unggulan perkebunan dari 16 komoditi unggulan lainnya yang mempunyai peran ekonomi yang cukup strategis. Karena itu, pemerintah berharap pekebun kakao dapat meningkatkan volume dan produktivitas kakao melalui intensifikasi, perluasan lahan dan peremajaan kakao rakyat.

"Produksi dan produktivitas ini masih berpotensi untuk ditingkatkan dengan melakukan intensifikasi,peremajaan dan perluasan lahan kebun rakyat," kata Dirjen Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyono, saat membuka acara Hari Kakao Indonesia bertema "Coklatku Budaya Indonesiaku", di Kab.Solok, Sumatera Barat, (5/10).

Menurut Kasdi, untuk mendorong produktivitas kakao rakyat, pemerintah sudah mengembangkan kakao berkelanjutan yang pada tahun 2019 telah mencapai lebih dari 477 ribu ha. Diantara pengembangan kakao ini melalui kegiatan utama perluasan, peremajaan, rehabilitasi dan intensifikasi.

"Pada tahun 2019 ini, telah dialokasikan kegiatan pengembangan kakao seluas 7.730 ha melalui kegiatan peremajaan dan perluasan yang didukung operasional substation dan pilot project fertigasi kakao. Selain itu juga telah diluncurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus perkebunan yang bisa dimanfaatkan pekebun," jelas Kasdi.

Kasdi juga menyebutkan, ada beberapa faktor pendukung potensi kakao di tanah air bisa ditingkatkan produksi dan kualitasnya. Sebab, Insonesia  punya areal lahan yang cukup luas sesuai untuk kakao. Faktor lainnya adalah,  minat pekebun cukup tinggi dan tersedianya bahan tanam unggul. "Dalam pengembangan kakao juga ada dukungan berupa paket teknologi dari pemerintah,  tersedianya SDM peneliti yang berkualitas," ujarnya.

Menurut Kasdi, pengembangan kakao rakyat juga ada dukungan pemerintah pusat dan daerah yang tinggi serta potensi pasar yang besar.Data Ditjenbun Kementan menyebutkan, produksi kakao dunia saat ini sekitar  4,79 juta ton. Dari jumlah tersebut, sebagian besar dipasok oleh Pantai Gading (43%), Ghana (20%), Ekuador (6%), Indonesia (6%) dan sisanya oleh negara-negara produsen lainnya. "Jadi, kita saat ini posisinya  ke empat," ujar Kasdi.

Data  statistik perkebunan tahun 2018 (angka sementara) menyebutkan,  areal kakao nasional mencapai 1.678.000 ha dengan produksi mencapai 593,83 ton/tahun. Sedangkan produktivitas kakao nasional rata-rata sebesar 737 kg/ha.
Dari total areal kebun kakao tersebut, Sumatera Barat (Sumbar) memiliki areal kakao seluas 157.856 Ha (9,41%). Produksi kakao di wilayah Sumbar  mencapai 52,15 ton, atau menyumbang  8,78% terhadap produksi kakao nasional.

Selain penghasil devisa negara, lanjut Kasdi,   kakao juga menjadi komoditas sosial. Artinya,  usaha perkebunan kakao tersebut hampir 97% diusahakan oleh perkebunan rakyat yang melibatkan sekitar 1,7 juta kepala keluarga (KK). Disisi lain komoditas kakao memberikan sumbangan dalam perolehan devisa sebesar US$ 1,24 miliar.

Kasdi juga menekankan, karena memiliki potensi ekonomi besar dan sebagai penghasil devisa negara, pemerintah terus mendorong kinerja kakao nasional dengan cara meningkatkan produktivitas kakao yang di tanam pekebun. " Kalau dipandang dari aspek agribisni,  performance komoditas kakao cukup prospektif. Sebab, saat ini tren pertumbuhan konsumsi dunia cenderung meningkat signifikan," pungkas Kasdi.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018