Minggu, 20 Oktober 2019


Beginilah Strategi Pemerintah Angkat Kakao Rakyat

07 Okt 2019, 11:32 WIBEditor : Gesha

Dirjen Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyono sedang menanam bibit kakao unggul di Kec. Kubung,Kab.Solok, Sumatera Barat | Sumber Foto:Indarto

TABLOIDSINARTANI.COM, Solok --- Komoditas kakao memiliki potensi ekonomi tinggi dan sebagai salah satu pencetak devisa negara. Sayangnya, implementasi hilirisasi kakao di tingkat petani hingga kini masih lamban. Karena itu, pemerintah terus mendorong petani kakao melakukan hilirisasi agar mendapatkan nilai tambah dan hidupnya lebih sejahtera.

Menurut Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Kasdi Subagyono, untuk menjual kakao petani tak hanya dari biji yang sudag dikeringkan saja." Karena itu petani atau pekebun bisa menjual dalam bentuk olahan kakao. Dengan begitu, petani bisa mendapatkan nilai tambah," jelas Kasdi Subagyono, pada acara Hari Kakao Indonesia bertema "Coklatku Budaya Indonesiaku," di Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar), Sabtu (5/10).

Menurut Kasdi, apabila petani tak diberi ruang untuk mengembangkan produk turunan, sekitar 2.000% nilai tambah hilang (dimanfaatkan pihak lain). Karena itu, Kementan melalui Ditjen Perkebunan pada tahun 2020 akan meningkatkan hilirisasi kakao petani.

Kasdi juga mengungkapkan, Ditjenbun Kementan akan mengembangkan petani kakao agar bisa mengolah kakao menjadi produk yang siap konsumsi. Selanjutnya, olahan tersebut langsung dijual ke super market atau toko. "Kita juga siapkan off takernya. Kemudian melibatkan swasta,BUMN dan Pemda. Pemerintah pusat akan menyediakan infrastrukturnya," jelasnya.

Menurut Kasdi, hilirisasi kakao tak hanya memberi bantuan alat pengering ke petani. Namun, petani akan diberi pendampingan sampai ke pengemasan produk yang menarik konsumen. " Pastinya harus riil. Hilirisasi ini bisa dilakukan dalam skala mini atau keluarga. Nah, kalau sudah berhasil akan kami replikasi ke kelompok tani lainnya," ujarnya.

Selain mengembangkan hilirnya, lanjut Kasdi, di hulunya juga harus ditingkatkan supaya produktivitas kakao petani meningkat. " Di hulu kita siapkan dengan benih unggul melalui program BUN 500 untuk lima tahun ke depan," ujar Kasdi.

Menurutnya, dengan benih ungggul, produktivitas kakao bisa naik 3 kali lipat dibanding sekarang. "Kebun benih unggul dibangun di sekitar kawasan perkebunan, sehingga petani akan lebih murah dan mudah mendapatkan benih unggul. Sehingga budidayanya lebih efesien, yang akhirnya petani akan mampu bersaing," paparnya.

Penanganan Intensif

Lantaran lengembangan perkebunan kakao nasional belum optimal dan masih banyak kendala di hulu dan di hilir, makaperlu penanganan  lebih intensif, terintegrasi dan berkelanjutan. Begitu juga  keanggotaan Indonesia di organisasi dunia bidang kakao yaitu ICCO perlu  dimanfaatkan secara optimal untuk  pengembangan kakao di tanah air.

Menurut Kasdi, pada tahun 2020 Indonesia telah ditunjuk sebagai host country dalam penyelenggaraan World Cocoa Conference (WCC) ke 5 yang mewakili negara Asia. Seperti diketahui WCC merupakan konferensi internasional yang saat ini akan fokus pada petani kakao di semua wilayah penghasil kakao seluruh dunia serta menyoroti peluang dan tantangan spesifik sektor kakao di Asia sebagai tuan rumah konferensi. "Moment ini juga bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkembangkan kakao nasional," ujarnya.

Kasdi juga mengingatkan pada segenap stakeholder,  pengembangan kakao di tanah air juga terdampak dari adanya perubahan iklim yang menyebabkan perilaku perubahan perilaku OPT. Selain itu, banyaknya tanaman yang sudah tua dan tidak produktif, dan kurangnya intensitas pemeliharaan kebun (terutama perkebunan rakyat), juga perlu diperhatikan.

"Serangan OPT dan belum diimplementasikannya Good Agricultural Practices (GAP) secara konsisten,  terjadinya degradasi tanah dan penanganan pasca panen belum sesuai GHP dan sebagian besar biji kakao belum difermentasi,  juga menjadi perhatian kami ke depan," papar Kasdi.

Kasdi jug mengatakan,  terbatasnya kemitraan antara pengusaha atau industri dengan pekebun, dan minimnya akses terhadap permodalan untuk pengembangan komoditi kakao juga perlu penanganan khusus ke depan. " Untuk penanganan tanaman yang sudah tua, pemerintah ada program peremajaan.Pemerintah juga membuka akses petani dengan swasta untuk pasca panennya," ujarnya.

Hal senada diungkapkan Bupati Solok,H.Gusmal. Menurutnya,  produksi kakao di Solok memang belum maksimal. "Karena itu, kami mendorong petani untuk melakukan hilirisasi dan mensinergikan antara Pemerintah Derah, Provinsi dan pusat dalam mengembangkan kakao di Solok," papar H.Gusmal.

Dia juga mengatakan, di Solok ada sekitar 4.000 ha lahan kakao yang sampai saat ini jadi sandaran hidup masyarakat." Karena itu kami terus mengajak masyarakat untuk berkebun, mereka kita bina supaya hasil kebunnya lebih baik lagi," pungkas H.Gusmal.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018