Senin, 09 Desember 2019


Berkat Fermentasi, Olahan Biji Kakao Pardan Diminati Pasar

08 Okt 2019, 14:03 WIBEditor : Gesha

Petani Kakao asal NTB, Pardan mengaku dengan adanya fermentasi membuatnya mudah diterima mitra | Sumber Foto:INDARTO

TABLOIDSINARTANI.COM, Solok --- Petani atau pekebun sudah saatnya melakukan budidaya kakao dengan baik supaya produktivitasnya meningkat signifikan. Setelah panen, pekebunp pun diharapkan mampu mengolah hasil panennya dengan baik supaya nilai jualnya berlipat. Salah satunya, dengan melakukan fermentasi kakao, agar biji kakao yang diolahnya punya nilai tambah.

Salah satu pekebun kakao, Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB, Pardan mengaku sejak tahun 2.000-an tanam kakao di lahan seluas 2,5 ha. Tak puas hanya tanam kakao yang biasa-biasa saja, sejak tahun 2015 silam, Pardan dibantu Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB melakukan fermentasi terhadap biji kakao yang dipanennya.

“Setelah kami lakukan fermentasi, biji kakao yang kami produksi ternyata  diminati pasar. Bahkan, saat ini banyak yang melakukan pemesanan dibanding ketika menjual biji kakao biasa,” ujar Pardan yang juga Ketua Kelompok Tani Bunga Mekar,  Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, NTB, di Solok (8/10).

Kakao yang sudah difermentasi tersebut, dijual langsung ke mitra dengan harga Rp 35 ribu-Rp 38 ribu/kg. Sedangkan, kalau biji kakao biasa hanya dihargai Rp 26 ribu-Rp 28 ribu/kg. “Jadi, harganya jauh lebih mahal. Karena kualitasnya bagus, yang pesan biji kakao fermentasi ke kelompok kami juga banyak,” kata Pardan.

Pardan mengakui, produktivitas kakao yang ditanam sekitar 900 kg/ha. Kalau dikalkulasi dengan harga kakao fermentasi Rp 38 ribu/kg/ha,  Pardan bisa maraup pendapatan sekitar Rp 34,2 juta/ha/tahun (kotor). “Kalau tiap bulan , hasil dari menjual biji kakao fermentasi ini sekitar Rp 5 juta-an,” ujarnya.

Kakao yang di tanam di atas lahan 2,5 ha, hingga saat ini menjadi sandaran hidup keluarganya. “Kalau yang dikelola kelompoknya ada sekitar 50 ha, dan semua biji kakao yang diproduksi 20 anggota Kelompok Tani Bunga Mekar sudah difermentasi,” ujarnya.

Menurut Pardan, untuk melakukan fermentasi biji kakao pun tak sulit. Proses fermentasi yang biasa dilakukan Kelompok Tani Bunga Mekar adalah dengan sortasi biji setelah panen. Kemudian, proses selanjutnya  adalah mengambil biji kakao yang kualitasnya bagus, lantas masukkan ke dalam kotak fermentasi.

Setelah itu, kotak fermentasi ditutup dengan daun pisang. Proses selanjutnya adalah dengan menutup kotak fermentasi dengan terpal atau karung goni selama lima hari lima malam. Setelah lima hari lima malam difermentasi, keluarkan biji kakao dari dalam kotak, kemudian dijemur di atas terik matahari. Jangan lupa,  biji kakao yang dijemur itu dibalik setiap 48 jam (dua hari sekali). Biarkan biji kakao kering dengan sempurna (sekitar 3 hari), baru dilakukan pengemasan.

Menurut Pardan, selain dijual ke mitra, biji kakao yang sudah difermentasi ini juga diolah sendiri menjadi aneka olahan kakao, seperti  permen cokelat yang produksinya sekitar 400-500 kg/bulan. Untuk permen cokelat original 200gram harganya sebesar Rp 35 ribu. “Kami juga produksi cokelat batangan (dark cokelat) dengan harga Rp 150 ribu/kg, dan sejumlah cokelat siap saji lainnya,” papar Pardan.

Pardan juga mengatakan, berkat fermentasi kakao tersebut mengantarkannya menjadi juara pertama lomba Kebun Kakao Berproduksi Tinggi yang diselenggarakan Ditjen Perkebunan Kementan tahun 2019.  Sedangkan pemenang kedua diraih Agus Setiawan, petani kakao dari Mojokerto, Jawa Timur (Jatim). Kemudian untuk juara ketiga diraih Dariyati, petani kakao dario Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng).

 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018