Senin, 18 November 2019


Bangun 10 Pabrik Gula Baru, Indonesia Optimis Swasembada

10 Okt 2019, 10:52 WIBEditor : Gesha

Menteri Pertanian Amran Sulaiman optimistis jika swasembada gula bisa tercapai | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

TABLOIDSINARTANI.COM, Blitar – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengaku bahagia upaya pihaknya dalam mendorong investasi gula membuahkan hasil. Target dari Presiden Joko Widodo untuk membangun 10 pabrik gula baru selama 5 tahun pun rampung dilaksanakan. 

“Alhamdulillah 10 pabrik gula sudah tercapai. Sebelumnya kita bisa memproduksi gula putih sebanyak 2,5 juta ton. Sementara kekurangannya 300 – 500 ribu ton. Kita targetkan bisa memproduksi tambahan 1 juta ton. Kalau ini semua bisa terlaksana secara optimal, maka kita sebentar lagi bisa swasembada gula putih,”ungkap Amran saat melakukan kunjungan kerja ke Pabrik Gula Rejoso Manis Indo, Kabupaten Blitar, Rabu (9/10).

Upaya Amran mengembangkan industri gula nasional tidak berhenti di situ. Selama lima tahun ke depan, Ia memastikan Kementerian Pertanian (Kementan) akan terus mendorong pembangunan pabrik-pabrik gula lainnya, terutama untuk memenuhi kebutuhan gula industri. 

“Untuk gula rafinasi, harus membangun 10 – 15 pabrik gula baru lagi dalam lima tahun ke depan. Kalau itu terlaksana, maka Indonesia akan swasembada gula putih dan gula rafinasi,” terangnya. 

Amran bercerita bahwa upayanya dalam membangun pabrik gula baru tersebut menghadapi berbagai rintangan. Bahkan dirinya menyebutkan hingga kini masih ada pihak-pihak yang meragukan kemampuan produksi lahan maupun pabrik gula yang baru beroperasi tersebut. 

“Kendala banyak, tapi kita harus optimistis. Misalnya, ada yang protes bahwa lahan di Bombana tidak layak. Tapi terbukti produksinya 140 ton,” ujar Amran. 

Kementan saat ini memang memfokuskan pengembangan tebu di lahan-lahan suboptimal, seperti lahan kering di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara maupun lahan rawa Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. 

“Kita harus optimalkan lahan kering yang biasanya susah kita tanami, sekarang kita tanam tebu. Semua itu bisa terjadi karena kita gunakan teknologi baru, seperti _drip irrigation_. Dengan penggunaan teknologi baru ini, produksi meningkat dua kali lipat,” jelas Amran. 

Amran bertitip pesan kepada pemerintah daerah setempat untuk menjaga pabrik gula yang baru beroperasi ini. “Kita harus fasilitasi dan bantu agar investor mau berinvestasi di negara kita. Jangan dimusuhi. Kalau ada salah, kita beritahu. Tapi jangan dimusuhi,” tandasnya.

Sikap kooperatif yang berupaya ditularkan Amran ke apartur pemerintah daerah tersebut bukan tanpa alasan kuat. Apalagi kehadiran pabrik gula Pabrik Gula Rejoso Manis Indo diyakini Amran dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar. 

“Pabrik gula merupakan usaha yang padat karya, membutuhkan banyak tenaga kerja. Di plasma perkebunan gula ini, 75 persen warga terlibat. Dengan adanya pabrik gula ini, roda perekonomian wilayah sekitar pun ikut bergerak,” pungkas Amran.

Tambah Terus

Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono menyampaikan bahwa kebutuhan gula konsumsi atau gula putih sebanyak 2.8 juta ton akan terpenuhi dengan bertambahnya sepuluh pabrik gula baru.

"Kita akan mulai kurangi impor gula konsumsi mulai 2020, karena kita sudah punya tambahan sepuluh pabrik gula. Sehingga kebutuhan konsumsi gula 2,8 juta ton akan terpenuhi dari produksi dalam negeri," terang Kasdi.

Tidak sampai disitu, pada periode 2020 – 2029 pemerintah berencana menjaring 15 investor untuk bangun pabrik gula lagi sebagai tambahan. Dengan adanya tambahan 15 pabrik gula baru diharapkan nantinya lahan tebu dapat meningkat hingga mencapai 900.000 – 1.000.000 ha di 2029. 

"Penambahan jumlah pabrik gula dan peningkatan luas areal tebu akan meningkatkan produksi gula nasional secara signifikan, yang artinya peluang Indonesia mencapai swasembada gula sangat besar, bahkan indonesia nantinya dapat mengekspor gula," tutur Kasdi.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018