Senin, 18 November 2019


Dirjen Hortikultura Pantau Persiapan HPS ke 39

16 Okt 2019, 17:18 WIBEditor : Gesha

Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto sebagai Ketua Pelaksana Hari Pangan Sedunia XXXIX di Sulawesi Tenggara, tengah meninjau dan memperhatikan progres pembangunan lokasi | Sumber Foto:NATTASYA

TABLOIDSINARTANI.COM, Konawe Selatan --- Pelaksanaan Hari Pangan Sedunia tinggal 2 minggu lagi, sebagai Ketua Pelaksana HPS XXXIX (ke 39), Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto datang berkunjung ke Desa Puu Dambu, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan, Rabu (16/10).

"Persiapannya sudah mencapai 50-60 persen. Infrastruktur sudah siap, tinggal loading alat dan lainnya," ungkap Prihasto Setyanto di sela kunjungan lapang di Kecamatan Angata, Konawe Selatan.

Prihasto menyebut bulan sebelumnya berkunjung ke Desa Puu Dambu ini dan sebagian besar masih berupa hutan belantara tetapi sekarang sudah berbentuk dan berupa helipad, gelar teknologi dan kebun percontohan. "Ini membuktikan bahwa Pemerintah Daerah (Pemda) turut berkontribusi menyukseskan HPS 2019," tuturnya.

Hari Pangan Sedunia XXXIX kali ini mengambil tema nasional Teknologi Industri Pertanian dan Pangan Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045. Tema tersebut selaras dengan tema Internasional yang diusung oleh Food And Agriculture Organization (FAO), Our Action are Our Future, Healthy diets for a #ZeroHunger world.

Dalam pelaksanaannya, HPS Indonesia akan digelar di dua lokasi di Sulawesi Tenggara yaitu Kota Kendari dan Kabupaten Konawe Selatan. "Kota Kendari akan difokuskan untuk pameran, seminar dan lainnya. Sedangkan di Kecamatan Angata ini difokuskan untuk Pembukaan oleh Presiden RI dan Gelaran Teknologi," beber Prihasto.

Di Kecamatan Angata, Prihasto melihat secara langsung kondisi helipad yang akan dipergunakan untuk mendaratnya rombongan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Tak hanya itu, telah dipersiapkan demplot pertanaman pertanian mulai dari padi Inpago, aneka kacang dan umbi dan kebun kakao. Sehingga masyarakat yang datang dapat melihat secara langsung teknologi maupun komoditi pertanian andalan Indonesia.

"Tak hanya bantuan bibit dan sebagainya, di HPS nanti akan ada juga bimbingan teknis mengenai budidaya yang bisa diterapkan oleh masyarakat petani," tuturnya.

Menariknya, dalam HPS juga direncanakan ada Temu Bisnis yang mempertemukan petani, pengolah dengan pebisnis yang bergerak di bidang pertanian. Duta besar negara sahabat juga akan direncanakan mengikuti kegiatan diplomatic tour ke Konawe Utara untuk melihat pertanaman dan pengolahan sagu.

Sedangkan di area Pameran yang terpusat di Area Tugu Religi (Tugu MTQ) yang berada di Kota Kendari. "BB Pascapanen, Balitbangtan Kementan akan menampilkan aneka olahan dari Sagu, sehingga masyarakat bisa mencicipi enaknya olahan tersebut dan mudah-mudahan ada pelaku usaha yang tertarik mengembangkannya," tambahnya.

Pj Sekretaris Provinsi (Pj Sekprov) Sulawesi Tenggara yang mendampingi Dirjen Hortikultura, La Ode Mustari juga mengapresiasi ditunjuknya Sultra menjadi lokasi HPS ke 39. "Kami sudah siap untuk menyambut tamu-tamu kehormatan dari berbagai Kabupaten Kota seluruh Indonesia. Untuk acara puncak (bersama Presiden RI) diharapkan ada sekitar 10-12 ribu tamu. Termasuk tamu negara tetangga sekitar 50 yang akan mengikuti diplomatic tour," tambahnya.

Kakao dan Sagu

Ada dua komoditas yang menjadi andalan Sulawesi Tenggara dan menjadi primadona dalam HPS kali ini yaitu Sagu dan Kakao. "Kita memang ingin membangkitkan kembali kakao Nusantara dan bisa kita mulai dari Sulawesi Tenggara ini. Sampai saat ini memang produktivitas kita masih rendah, tetapi mudah-mudahan dengan HPS ini, dukungan pendekatan teknologi pertanian dari Kementerian Pertanian, mudah-mudahan 3-4 tahun ke depan kita bisa menjadi nomor 1 di dunia," tutur Prihasto.

Prihasto mencontohkan kebun kakao di Angata ini mampu berbuah di luar musim dengan teknologi sambung samping dan pengairan. "Kalau ini bisa dikembangkan di sentra kakao sehingga tidak bergantung musim, supaya komoditas kakao bisa meningkat produksinya," tuturnya.

Semangat untuk menjadikan kakao sebagai trademarknya Sultra juga diharapkan oleh Pj Sekprov Sultra, La Ode Mustari. "Sultra sudah ada mete, tetapi kebun kakao juga banyak disini. Kami harapkan juga kakao tidak hanya menjadi barang setengah jadi yang diekspor, tetapi mampu diolah oleh industri rumah tangga disini dan mampu bersaing," tuturnya.

Data dari Ditjen Perkebunan Kementan menyebutkan bahwa Sulawesi Tenggara di tahun 2018 memiliki luasan kebun kakao mencapai 257.789 ha yang terdiri dari 42.229 ha tanaman kakao belum menghasilkan (TBM), 135.831 ha tanaman kakao menghasilkan (TM) dan 79.729 hektar tanaman kakao tidak menghasilkan atau rusak. Produksi kakao Sultra untuk tahun 2018, tercatat mencapai 105.078 ton dengan produktivitas hanya 774 kg per hektar.

Sedangkan untuk sagu, Prihasto menuturkan keistimewaannya menjadi pangan masa depan. "Sumber karbohidrat ini punya potensi yang sangat besar. Ada di Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera," tuturnya.

Prihasto menuturkan sagu termasuk tanaman yang tahan di cekaman iklim tinggi.  Diperkirakan, suhu dunia akan naik 2-3 derajat Celcius pada periode 30-40 tahun lagi. Sedangkan dari penelitian IRRI, kenaikan suhu 1 derajat saja bisa menurunkan produktivitas padi mencapai 8 persen.

"Kita sekarang terus mendorong untuk meningkatkan produksi, tetapi produktivitas kian menurun. Nah, sagu ini menjadi tanaman yang cukup tahan (perubahan iklim), sekarang tinggal bagaimana teknologi  dari budidaya sagu khususnya aspek pascapanen supaya sagu bisa menjadi pangan andalan," tuturnya. Sagu tak hanya potensial dikembangkan menjadi bahan pangan saja, tetapi juga bioetanol, Rumbia untuk atap rumah dan kayunya.

Data dari Ditjen Perkebunan Kementan menyebutkan Sultra ada sekitar 5.105 hektar luasan sagu di tahun 2018 dengan produksi mencapai 2.795 ton tepung sagu/sagu kering. Menariknya, sebagian besar tanaman sagu tersebut merupakan perkebunan rakyat yang tumbuh secara alami di Sultra.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018