Jumat, 06 Desember 2019


Tumbuhkan Desa Mandiri Benih sebagai Sumber Benih Kakao Berkualitas

28 Okt 2019, 16:48 WIBEditor : Gesha

Direktur Perbenihan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), M. Saleh Mokhtar mengatakan benih berkualitas bisa diperoleh dari penumbuhan desa mandiri benih | Sumber Foto:INDARTO

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Benih berkualitas menjadi persoalan penting untuk mendorong peningkatakan produksi kakao rakyat, yang saat ini produktivitasnya masih rendah. Untuk itu. Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan)  mendorong  tumbuhnya produsen benih melalui pengembangan desa mandiri benih (DMB) kakao.

Direktur Perbenihan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), M. Saleh Mokhtar  mengungkapkan,  ada sejumlah kelompok tani kakao seperti  Kelompok Tani Saiyo, Nagari Salayo, Kab Solok, Sumatera Barat (Sumbar) berharap kakao yang dikembangkannya bisa menjadi sumber benih.

“Namun, sebelum  kakao tersebut dijadikan sumber benih harus diidentifikasi terlebih dahulu. Kemudian kita nilai. Kalau memenuhi standar teknis nantinya bisa ditetapkan Ditjen Perkebunan atas nama Menteri Pertanian (Mentan) untuk dijadikan sumber benih. Proses selanjutnya adalah sertifikasi, “ jelas Saleh Mokhtar, di Jakarta, Senin (28/10).

Menurut Saleh, meski produktivitasnya tinggi, tak serta-merta pohon kakao tersebut bisa dijadikan sumber benih. “Tapi, kalau belum memenuhi syarat, Ditjen Perkebunan Kementan tetap melakukan dukungan ke petani untuk membangun sumber benih, dan kemudian membangun kebun induk-nya,” paparnya.

Saleh juga mengatakan, kelompok tani yang sudah bisa mengembangkan kebunnya dengan produktivitas tinggi (seperti Kelompok Tani Saiyo), Nagari Salayo bisa didorong menjadi desa mandiri benih (DMB) berbasis kakao. “Nanti, kelompok tani yang sudah mengembangkan DMB itu bisa dijadikan contoh dan selanjutnya bisa diproses menjadi produsen benih,” ujarnya.

Data Ditjenbun Kementan menyebutkan, pada tahun 2017-2019  terdapat 65 DMB di 25 provinsi. Komoditasnya diantaranya, kakao, kopi, kelapa, karet, jambu mete, lada, pala, cengkeh dan vanili. Nah, dengan adanya DMB ini akan terbangun desa sasembada benih yang melibatkan masyarakat. Selanjutnya, benih yang dihasilkan bisa dimanfaatkanuntuk kebutuhan kelompok, pemerintah atau masyarakat lainnya.

Replanting Kakao

Sumber benih yang dikembangkan sejumlah DMB, dan kebun benih dan nursery yang dikembangkan dengan pola swakelola ataupun non swakelola akan dimanfaatkan untuk replanting kakao yang sudah tua.“Karena itu kita terus mendorong produsen yang ada dan menumbuhkan produsen benih baru,” ujar Saleh.

Menurut Saleh, pemerintah juga akan hadir untuk membangun perbenihan  dengan mengembangkan kebun sumber benih. “Kita juga terus melakukan pembenahan terhadap kebun benih yang dikelola petani supaya kualitasnya lebih bagus lagi,” ujar Saleh.

Saleh juga mengatakan, di Kabupaten Solok, (Sumbar) siap membangun nursery seluas 5 ha. Dari luasan lahan tersebut, sekitar 2 ha untuk kebun sumber benih dan 3 ha untuk kebun pembesaran beserta infrastrukturnya, seperti air dan sebagainya.

Menurut Saleh, benih kakao yang diperlukan untuk replanting cukup banyak. “Kita juga kembangkan konsepperbenihannya melalui BUN 500. Untuk kakao kebutuhannya sekitar 165 juta sampai 2024 mendatang. Artinya, tiap tahun sekitar 33 juta batang yang diperlukan untuk replanting,” pungkas Saleh. 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018