Jumat, 06 Desember 2019


Menikmati Kopi Gayo yang Ditanam di Gunung Kawi

02 Nov 2019, 19:46 WIBEditor : Ahmad Soim

Menikmati kopi Gayo yang ditanam di Gunung Kawi | Sumber Foto:Kontributor

 

TABLOIDSINARTANI. COM,  Kopi Arabika Gayo yang pernah ditanam dua tahun lalu (2017 ) di lereng Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, kini tumbuh subur dan sudah mulai berbuah atau berproduksi.

 

Wakil Bupati Malang Sofyan Edi Jarwoko, mengatakan hal itu saat bersilaturrahmi dengan peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh dan staf ahli Distanbun Aceh di sebuah cafe di Malang.

Kopi memang memiliki daya tarik tersendiri bagi Sofyan Edi yang juga ketua HKTI Malang. Ia berkomitmen untuk menyejahterakan petani melalui komoditi kopi. Kemudian iapun mencoba melakukan tumpangsari kopi arabika dengan  pohon pinus pada lahan HTI PT Perhutani.

 

Ide awalnya itu muncul setelah  kunjungannya  ke Aceh pada tahun 2016. 

 

Sepulangnya dari Aceh iapun melanjutkan tekadnya dengan cara menghubungi BPTP Aceh untuk minta dikirimkan 100 kilogram biji kopi untuk disemai. Tujuannya agar  kopi di Gayo juga bisa beradaptasi untuk dikembangkan di Gunung Kawi pada ketinggian 1.000 m di atas pemukaan laut (dpl)  tepatnya di Desa Precet, Kecamatan Wagir, dan Desa Ngramen, Kecamatan Ngajum. 

 

“Hasil kerja dan usaha petani dua tahun lalu, kini kopi yang kami tanam tumbuh subur dan sudah mulai berbunga dan belajar berbuah", ujar Wakil Walikota yang popular dengan sebutan Bung Edi. 

 

Sofyan Edi juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada BPTP Balitbangtan - Aceh dan KP Gayo atas kerjasama yang telah dirintis melalui penandatanganan berita acara penanaman 125.000 bibit kopi varietas Gayo 1, Gayo 2 dan P-88.  Dalam waktu dekat ini, katanya, pihaknya akan memesan lagi biji kopi Arabika Gayo untuk disemai dan ditanam lebih luas. Kerjasama ini tidak pernah terbayang sebelumnya, semoga Kopi Gayo juga hidup bagus di Kabupaten Malang dalam upaya menambah pendapatan petani setempat, katanya.  Ia juga berkeinginan suatu saat membawa beberapa petani untuk berkunjung ke KP Gayo melihat secara dekat budidaya dan prosesing kopi. 

 

Waktu itu penanaman turut dihadiri Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Aceh Basri A Bakar (Red: sekarang peneliti) bersama Manager Kebun Percobaan (KP) Gayo Bardi Ali dan peneliti kopi KP Gayo Khalid.  Acara tersebut ikut dihadiri Kepala BPTP Jatim Chendy Tafakresnanto, Ketua HKTI Jatim dan seratusan anggota kelompok tani Perhutani.

 

Peneliti BPTP Aceh Basri A. Bakar mengatakan, pihaknya diundang khusus untuk menghadiri langsung penanaman kopi di dua lokasi terpisah sekaligus memberi arahan dan petunjuk teknis budidaya yang benar.  “Kopi Gayo memang sedang dilirik banyak pihak bahkan sampai ke manca negara, ibarat gadis cantik yang saat ini menjadi rebutan pasar internasional, karena aroma dan cita rasanya”, ujar Basri. 

 

Lebih lanjut Basri menyampaikan bahwa varietas Gayo 1 dan Gayo 2 telah dilepas Menteri Pertanian pada 27 Desember 2010.  Di Aceh, kopi Arabika Gayo tumbuh baik pada ketinggian 1.000 - 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl), sedangkan di bawah ketinggian itu kopi Arabika tidak dianjurkan.

 

Basri juga  optimis, kopi Arabika asal Aceh dapat tumbuh dengan baik  di Gunung Kawi dan bisa meningkatkan pendapatan petani.  "Saat ini luas areal kopi Arabika di Aceh tercatat 101.000 hektare berada di tiga kabupaten yakni Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, serta sudah memiliki indikasi geografis,” jelasnya.

 

Sementara staf ahli Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, T. Iskandar sangat mendukung terobasan dan  inovasi teknologi dalam pengembangan tanaman  kopi Gayo, namun pihaknya juga mengingatkan agar tidak melupakan asal usul tanaman induknya.  "Kita sangat senang dan mendukung sepenuhnya serta akan selalu siap memberikan pendampingan dan mengevaluasi sejauhmana kemampuan adaptasinya. Dengan adanya pendampingan melalui peneliti/penyuluh, bisa saja produksinya nanti akan lebih bagus", sebutnya. 

 

Dia juga mengimbau kepada para stakeholder dan pengambil kebijakan agar lebih peduli lagi dalam upaya pelepasan beberapa varietas kopi unggulan daerah. Hal ini penting, agar kopi Gayo tidak  menjadi liar akibat kehilangan identitas dan hak patennya. Untuk itu, Iskandar selaku ketua tim pelepasan varietas Gayo 1 dan Gayo 2 yang juga mantan Kepala BPTP Aceh itu mengajak peneliti dan penyuluh terus berupaya dan bersinergi dalam melakukan kajian lebih lanjut. 

 

“Ada Kopi ada cerita, lain kopi lain cerita, gak ada kopi gak usah banyak cerita.. Ayo ngopi kita bercerita. (Seniman Gayo, Fikar W. Eda).  Sebait puisi tersebut menutup cerita kami dengan Wakil walikota Malang. 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018