Jumat, 06 Desember 2019


Luar Biasa, Kakao di Luar Musim yang Dipanen Mentan Syahrul YL

03 Nov 2019, 05:01 WIBEditor : Ahmad Soim

H Maman Petani Kakao 5 Ha di Konsel | Sumber Foto:Ahmad Soim

TABLOIDSINARTANI.COM, Konsel – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memanen kakao yang kawinkan di luar musim. Hasil produksinya luar biasa, mencapai 4 kali lipat (2/11).

H Maman S (50), petani pemilik lahan kakao yang dipanen Mentan Syahrul YL mengatakan biasanya setiap tahun hanya bisa panen sekitar 350 kg. “Dengan bimbingan teknis dari peneliti Badan Litbang Pertanian dan penyuluh pertanian, membudidayakan kakao di luar musim, hasilnya mencapai 1,5 ton per tahun per ha,” jelas Maman S kepada tabloidsinartani.com di kebunya seluas 5 ha di Desa Puudambu, Kecamatan Angata, Kabupaten Kanowe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Perlakuan yang dilakukan H Maman agar tanaman kakaonya bisa berbuah di luar musim adalah pemupukan, pencegahan penyakit tanaman dengan menggunakan fungisida, sanitasi kebun, pengairan bila tanah sangat kering dan penyerbukan dengan menggunakan pinset dari bunga ke bunga yang muncul ditanaman kakao.

Prof Rubiyo peneliti Badan Litbang yang mendampingi petani kakao budidaya di luar musim menjelaskan kepada Sinar Tani, biasanya puncak petani panen kakao pada bulan Juni-Juli. “Setelah itu kemarau, mereka membiarkan tanamannya karena tidak berbuah,” jelas Prof Rubiyo.

Badan Litbang Pertanian Kementan, lalu memberikan bimbingan budidaya kakao di luar musim, yakni membuahkan kakao pada musim kemarau. Prinsip budidaya yang dilakukannya adalah tanaman perlu hara yakni pupuk, cabang-cabang kering perlu dipangkas, menghilangkan penyakit pembuluh kayu yang biasa muncul pada musim kemarau, dengan menyerbuki setiap bunga yang muncul.

“Kami ajari petani dan penyuluh pertanian untuk melakukan penyerbukan kakao dengan menggunakan pinset. Kalau nggak ada pinset bisa menggunakan jarum,” tambahnya.

Biaya yang dikeluarkan untuk budidaya kakao di luar musim ini, lanjut Prof Rubiyo tidak seberapa dibandingkan hasilnya yang meningkat hingga 4 kali lipat. “BEP budidaya kakao itu harga jualnya Rp 15 ribu/kg, sekarang di sini harganya berkisar Rp 21- 22 ribu per Kg,” tambahnya.

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018