Sabtu, 14 Desember 2019


Tertarik Menjadi Penangkar Bibit Kakao? Ikuti Ini Yuk !

22 Nov 2019, 18:41 WIBEditor : Gesha

Dalam melakukan pembibitan kakao harus memperhatikan beberapa hal berikut ini | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Mamuju --- Salah satu upaya dalam membangun kembali Indonesia sebagai negara penghasil komoditas rempah dan penyegar adalah memperbaiki kualitas benih/bibit. Karenanya, peran penangkar bibit/benih sangat diharapkan benar dalam melakukan perbanyakan benih/bibit. Seperti apa?

"Teknologi pembibitan kakao yang benar dapat menghasilkan bibit yang berkualitas, bermutu dan bersertifikat," tutur Peneliti dari BPTP Sulawesi Barat, Ketut Indrayana kepada tabloidsinartani.com

Dimulai dengan pembuatan tempat perbibitan untuk melindungi bibit dari terpaan hujan dan sinar matahari berlebihan. Bahan yang digunakan yaitu plastik, paranet, baja ringan. "Sebaiknya, pembuatan Rumah pembibitan bagian depannya mengarah ke Timur sesuai dengan matahari terbit. Ukuran bangunan dengan lebar 16 m dan panjang 50 m . Untuk meletakkan bibit, dibuat barisan  dengan ukuran lebar 1 m, panjang 10 m, dan tinggi 75 cm. Bagian atas ditutup dengan paranet dan plastik transparan," bebernya.

Kemudian dilanjutkan dengan penyiapan media tanam di polybag. Media tanam bibit kakao terdiri atas campuran tanah, pupuk kandang, dan pasir dengan perbandingan 1:1:1. Campuran tanah yang umum digunakan adalah tanah kebun yang subur dan pupuk kandang.

"Media tanam diayak terlebih dulu agar butiran tanahnya seragam. Media tanam kemudian di tempatkan pada polibag berukuran 17cm x 25cm, Model penataan polibag adalah satu barisan  Jarak antara barisan rapat serta antarbarisan polibag 50 cm. Model barisan ganda baik dilakukan untuk mencegah bibit dalam polibag jatuh dan mudah dalam perawatannya," jelasnya.

Langkah selanjutnya adalah dengan penyemaian benih menggunakan karung goni. Benih kakao yang sudah bersih direndam dengan mengunakan fungisida untuk mengantisipasi benih berjamur pada saat disemai, lama perendaman sekitar 120 menit dalam wadah. Setelah di rendam kemudian benih ditiriskan di tempat dalam saringan, selanjutnya benih disemaikan di atas karung goni yang telah dibasahi dengan air. 

"Penyemaian dilakukan dengan menaruh benih di permukaan karung goni, lalu benih tersebut ditutup dengan karung goni yang basah. Benih disiram satu kali pada pagi hari. Kriteria benih telah berkecambah yaitu dengan munculnya akar sepanjang 0,5 cm dengan waktu selama lima hari," tuturnya.

Pemindahan benih ke polibag sendiri dilakukan sebelum keping biji membuka dan masih berdaun kecil. Sebelum dipindahkan, terlebih dahulu media tanam disiram dengan air sampai penuh. Selanjutya, media tanah dilubangi dengan sepotong kayu kecil. Setelah itu media bibit dibongkar dengan menggunakan soklet yang terbuat dari bambu. Pembongkaran dilakukan dengan mengikutkan sedikit media agar akar kakao tidak banyak yang putus.

"Selanjutnya, di sekitar akar dan batang kakao dipadatkan dan bibit kecambah kakao yang baru pertama dipindahkan tidak boleh mengalami kekeringan. Bibit kecambah kakao akan tumbuh dalam beberapa hari dengan keping bijinya membuka dan munculnya daun pertama," jelasnya.

Pemeliharaan Bibit

Langkah selanjutnya adalah pemeliharaan bibit di polibag yang meliputi penyiraman, pemupukan, Penyiangan Gulma dan pengendalian hama dan penyakit. "Kegiatan penyiraman bibit kakao dilakukan satu kali dalam sehari pada waktu pagi hari. Apabila kondisi kering, penyiraman dilakukan dua kali dalam sehari pada waktu pagi dan sore hari," tuturnya.

Kemudian pemupukan dilakukan dengan pemberian pupuk nitrogen pada bibit kakao untuk memacu pertumbuhan vegetatif yaitu dengan memberikan pupuk urea/ZA. Pemupukan dilakukan dua kali dalam seminggu dengan dosis 2 gr per bibit dan diberikan dengan jarak 3 cm dari batang dengan melubangi media lalu disiram dengan air.

Untuk penyiangan gulma, dilakukan secara manual dengan mencabuti rumput yang tumbuh di media tanam dan dilakukan 1-2 kali seminggu. "Khusus perlindungan bibit kakao dari hama dan penyakit dengan cara pemberian fungisida, seperti Cobox, Copersandoz, dan Nordox digunakan untuk preventif terhadap penyakit yang menyerang bibit kakao, seperti jamurPhytopthora palmivora dan Cercospora sp. dengan konsentrat formulasi 0,3%," bebernya.

Nah, karena bibit kakao yang diperjualbelikan harus memiliki label, maka pembibit harus melakukan sertifikasi benih/bibit kepada UPTD Balai Pengawasan dan Pengujian Mutu Benih Perkebunan (BP2MP) yang umumnya ada di Dinas Pertanian Provinsi. 

"Sertifikasi benih dilakukan dengan tujuan untuk menjaga kemurnian varietas melalui pemeriksaan lapangan dan pemeriksaan asal usul bibit, memelihara mutu benih melalui pemeriksaan kesehatan benih, memberikan jaminan kepada pengguna benih tentang kepastian mutu bibit dan varietas yang akan digunakan, memberikan legalitas kepada produsen benih bahwa benih yang dihasilkan terjamin kemurnian dan mutunya," tutur Peneliti  dan litkayasa BPTP Sulbar, Muh. Ricky.

Sertifikasi benih/bibit ini didasarkan atas Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia No.50/Permentan/KB.020/9/2015 Tentang Produksi, Sertifikas iPeredaran danPengawasan Benih Tanaman Perkebunan, Tanggal 21 September 2015 (Menteri Pertanian, 2015). Kegiatan sertifikasi Benih Kakao diantaranya pemeriksaan lapangan (meliputi dokumen, pertanaman dan peralatan) dan pelabelan. 

Reporter : Ketut Indrayana S.TP & Muh. Ricky
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018