Jumat, 06 Desember 2019


Tutup Impor Dulu, Baru Atur Korporasi dan Kemitraan Petani Cengkeh

03 Des 2019, 12:08 WIBEditor : GESHA

Petani menginginkan harga cengkeh stabil | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Indonesia sebenarnya merupakan penghasil cengkeh nomor satu di dunia, dengan produksi setiap tahunnya sekitar 100 ribu ton hingga 120 ribu ton. Tetapi sayangnya harganya cukup murah, bahkan pernah menembus Rp 2 ribu/kg.

Harga mulai membaik sejak tahun 2002-2015. Bahkan dapat menembus hingga Rp 120 ribu/kg. Tetapi sejak dibuka keran impor, harga cengkeh dalam negeri turun drastis, yakni mencapai Rp 60 ribu/kg.

“Harga pokok produksi cengkeh itu sekitar Rp 75 ribu/kg dan harga jualnya Rp 60 ribu/kg. Tentu saja petani merugi dengan harga jual segitu,” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), I Ketut Budhyman Mudara.

Dengan dibukanya keran impor, menurut Budhyman, petani cengkeh di Indonesia tidak memiliki nilai tawar yang tinggi. Apalagi rantai tata niaga cengkeh cukup panjang dari petani hingga pedagang besar.

Cengkeh petani dibeli pengumpul kecil, lalu ke pengumpul yang ada di kecamatan. Dari pengumpul di kecamatan dibeli pengumpul kabupaten, kemudian pengumpul provinsi. Baru dari pengumpul provinsi, dibeli pedagang besar. “Seperti itu tata niaga cengkeh untuk dapat masuk ke industri. Cukup panjang,” ungkap Budhyman.

Bagi petani saat ini yang penting adalah produk mereka laku terjual. Meski di bawah harga pokok produksi, petani tidak peduli. Karena itu, petani cengkeh mendesak pemerintah untuk menutup keran impor cengkeh karena berimbas ke produksi cengkeh. Saya takutkan nanti petani enggan memelihara cengkeh, yang mengakibatkan produksinya menurun,” tegasnya.

Dengan kondisi yang ada saat ini Budhyman pesimistis dengan wacana pemerintah membentuk korporasi petani. Apalagi selama impor cengkeh masih di buka yang menyebabkan harga tidak stabil, malah cenderung turun, sehingga membuat petani kehilangan semangat untuk meningkatkan produksi. Menurut saya membentuk koorporasi itu bagus, tetapi untuk di petani cengkeh, sebaiknya keran impor ditutup dulu. Baru setelah itu membentuk koorporasi,” tegasnya.

Kemitraan Petani

Menurut Budhyman, salah satu yang masih memungkinkan untuk meningkatkan posisi tawar petani adalah dengan pola kemitraan dengan industri. Saat ini sudah ada petani yang bermitra dengan industri, tetapi kebanyakan petani masih berjalan sendiri.

Menjalin kemitraan memang mempunyai beberapa keuntungan. Misalnya, kata Budhyman, posisi tawar petani lebih kuat, hingga akan berimbas ke peningkatan produksi. “Sekarang kan industri mudah untuk mendapatkan cengkeh, karena bisa impor. Kalau impor ditutup, industri tentu berpikir untuk menjalin kemitraan dengan petani karena akan mudah mendapatkan supply-nya,” tuturnya.

Diakui, ada beberapa industri rokok besar yang sudah menjalin kemitraan dengan petani. Bahkan petani yang menjalin kemitraan, kehidupannya jauh lebih baik karena harga dan pasokannya sudah dapat dipastikan. Untuk itu Budhyman berharap, pola kemitraan diperluas

“Uuntuk saat ini kami minta kepada pemerintah adalah tutup keran impor cengkeh dan kalau perlu membuat regulasi yang jelas mengenai cengkeh dalam negeri,” saran Budhyman.

Produksi cengkeh di Indonesia saat ini berkisar 100 ribu-110 ribu ton. Artinya, jika kebutuhan dunia itu hanya 125 ribu ton, maka sebagian besar dipenuhi Indonesia, yang sisanya dari Madagaskar dan Zanzibar.

Cengkeh sendiri, kebanyakan digunakan untuk rokok kretek. Di Indonesia, hampir 95 persen cengkeh diserap untuk industri rokok kretek. “Sisanya itu untuk pengobatan, aromaterapi, bumbu dapur dan masih banyak lainnya,” ungkap Budhyman

Reporter : CLARA
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018