Wednesday, 22 January 2020


Gratieks, Dorong Ekspor Perkebunan Meningkat Tajam

08 Jan 2020, 15:28 WIBEditor : GESHA

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menginginkan subsektor perkebunan terus mendorong ekspor hingga lima tahun mendatang | Sumber Foto:INDARTO

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ----- Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) yang dicanangkan Kementerian Pertanian (Kementan) kurun lima tahun ke depan (2024), khususnya di sub sektor perkebunan bukanlah keniscayaan. Ditargetkan, kurun lima tahun ke depan potensi ekspor komoditas sub sektor perkebunan mampu meningkat tajam hingga Rp 1.000 triliun.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, saat ini saja nilai ekspor komoditas perkebunan sudah mencapai  US$ 27,9 miliar atau Rp 402,6 triliun. “Komoditas perkebunan punya prospek ekonomi  luar biasa. Bahkan, komoditas perkebunan yang dihasilkan di negara tropis seperti Indonesia memiliki kualitas khusus. Kalau setiap tahun  peningkatannya 7% saja, kurun lima tahun ke depan potensi ekspor tersebut akan meningkat hingga Rp 1.000 triliun,” kata Syahrul Yasin Limpo, usai memberikan arahan dalam acara Pertemuan Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks) Perkebunan 2020-2024, di Jakarta, Rabu (8/1).

Karena itu, untuk mendorong ekspor perkebunan meningkat tiga kali lipat tentu tak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Artinya, perlu bersama-sama stakeholder dan para eksportir untuk melakukan percepatan.

Mentan Syahrul juga mengungkapkan, Kementan melalui Ditjen Perkebunan segera membenahi on farm-nya (budidayanya) supaya berkelanjutan agar produksinya meningkat tiga (3) kali lipat dari sekarang. Kementan pun mendorong  petani melakukan budidaya sesuai good agriculture practice (GAP), membenahi tata cara memetik hasil kebunnya, mengolah,  hingga pemasarannya. “Kita juga lakukan asistensi kepada kelompok taninya supaya budidayanya berkelanjutan. Ini penting untuk menjaga suplainya,” ujarnya.

Menurut Mentan Syahrul,  dunia membutuhkan komoditas perkebunan yang dihasilkan di tanah air. Karena itu, untuk mengoptimalkan pasar ekspor hingga tiga kali lipat, Kementan akan konsentrasi pada komoditas tertentu, seperti coklat (kakao), kopi, kelapa, lada, vanili, dan sejumlah komoditas lainnnya. "Kita juga kembangkan komoditas di hilirnya untuk pasar ekspor, seperti limbah sawit,” ujar Syahrul.

Hingga saat ini, sudah ada komitmen dari eksportir untuk mengakselerasinya. Apabila ada kendala di lapangan, Kementan pun akan membantu para stakeholder, mulai dari hulu hingga proses ekspornya.

“Kita akan bantu diplomasi untuk ekspor. Kita juga lakukan networks dengan Kementerian terkait, seperti dengan atase perdagangan dan ekonomi di luar negeri. Jadi, pemerintah tak akan sendiri. Karena itu, kita bersama eksportir komitmen untuk mewujudkannya,” papar Mentan Syahrul.

Untuk mendukung pembiayaannya, pemerintah tengah menyiapkan kredit usaha tani (KUR) senilai Rp 50 triliun. Dari plafon kredit tersebut, sebanyak Rp 20,37 triliun untuk sub sektor perkebunan. “KUR ini kita harapkan dimanksimalkan karena bunganya hanya 6%/tahun. Kalau serapan KUR sektor pertanian selama ini belum signifikan, saat ini kita dorong. Soal jaminan, ada dari institusi, seperti lahan bisa dijadikan referensi perbankan,” pungkas Syahrul.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018