Sunday, 05 July 2020


Kementan Dorong 7 Komoditas Perkebunan Berpotensi Ekspor

09 Jan 2020, 13:00 WIBEditor : Indarto

Kakao salah satu komoditas ekspor perkebunan | Sumber Foto:Dok. Sinta

Untuk mengembangkan ketujuh komoditas perkebunan tersebut, Ditjen Perkebunan Kementan akan mendorongnya dengan aplikasi KUR kepada kelompok tani yang plafonnya sekitar Rp 20,37 trili

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Perkebunan mengembangkan tujuh (7) komoditas perkebunan utama berpotensi ekspor. Melalui Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) ke tujuh komoditas tersebut, kurun lima tahun ke depan (2020-2024) diharapkan bisa meningkat hingga tiga kali lipat dari sekarang.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Kasdi Subagyono mengatakan, tujuh  komoditas perkebunan berorientasi ekspor tersebut adalah, kopi, kakao, kelapa, jambu mete,lada, pala dan vanili. “Kebijakan strategis Kementerian Pertanian (Kementan) lima tahun mendatang antara lain adalah akselerasi peningkatan besaran (volume dan atau nilai) ekspor produk perkebunan dan turunannya menjadi 3 kali lipat dari kondisi eksisting atau disingkat Gratieks,” papar Kasdi Subagyono, pada acara Pertemuan Tiga Kali Ekspor Perkebunan (Gratieks) 2020-2024, di Jakarta, Rabu (8/1).

Menurut Kasdi, untuk mengembangkan ketujuh komoditas perkebunan tersebut, Ditjen Perkebunan Kementan akan mendorongnya dengan aplikasi KUR kepada kelompok tani yang plafonnya sekitar Rp 20,37 triliun. “Ketujuh komoditas perkebunan tersebut melalui gerakan peningkatan produksi, nilai tambah dan daya saing perkebunan (Grasida) akan dipetakan hingga di kecamatan. Meski tujuh komoditas perkebunan menjadi skala prioritas, sejumlah komoditas perkebunan lainnya tetap akan dikembangkan kurun lima tahun ke depan,” ujarnya.

Selain mengembangkan on farm-nya (hulunya, red), lanjut Kasdi, Ditjen Perkebunan Kementan juga mendorong petani untuk melakukan hibridasi ke sejumlah sub sektor perkebunan.  Hibridasi yang dilakukan diantaranya dengan mengembangkan produk derivatif (turunan) dari sejumlah komoditas perkebunan,  seperti sawit dengan memanfaatkan tandan kosongnya untuk diekspor. Menurut Kasdi, kebijakaan Gratieks ini pada hakikatnya dalam rangka memperebutkan dan memenangkan pasar ekspor dunia baik kaitannya dengan daya saing maupun akses pasarnya. Selain mengejar kuantitas  ekspor 3 kali lipat juga,  Ditjen Perkebunan Kementan juga mendorong peningkatan  mutu produk, konsistensi dan kontinuitasnya.

Data BPS tahun 2018 menyebutkan,  komoditas perkebunan berkontribusi terhadap PDB nasional sebesar Rp 489,25 triliun. Nilai ekspor komoditas perkebunan tercatat sebesar  27,9 miliar Dollar AS atau Rp 402,6 triliun. Sub sektor perkebunan juga berkontribusi sebesar 97,4 persen dari sisi volume terhadap total volume ekspor komoditas pertanian tahun 2018. Sub sektor perkebunan juga berkontribusi sebesar 96,9 persen terhadap total nilai ekspor komoditas pertanian tahun 2018.

Dalam kesempatan tersebut, Kasdi juga mengatakan, pertemuan Gratieks 2020-2004 dihadiri kurang lebih 200 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 155 orang dari pimpinan perusahaan dan eksportir, 25 orang dari Dewan Komoditas Perkebunan dan Asosiasi Pengusaha/ Eksportir perkebunan serta masing-masing eselon 1 lingkup Kementerian Pertanian.

Sedangkan perusahaan yang hadir antara lain,  26 perusahaan sawit, 13 perusahaan kopi, 10 perusahaan kakao, 12 perusahaan kelapa, 18 perusahaan karet, 18 perusahaan rempah, 7 perusahaan minyak atsiri, 2 perusahaan mete dan perusahaan komoditas perkebunan lainnya.

 Diharapkan dari nota komitmen tersebut menjadi dorongan besar untuk akselerasi Gratieks. Pertemuan ini juga sebagai penanda komitmen dan kolaborasi pemerintah dan dunia usaha dalam peningkatan ekspor perkebunan 3 kali lipat selama 5 tahun mendatang. 

 

           

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018