Wednesday, 26 February 2020


Yuk, Mengenal Lebih Jauh Kopi Termahal di Dunia!

24 Jan 2020, 17:06 WIBEditor : Clara

Kopi Gayo yang mendunia di Amerika dan Eropa | Sumber Foto:Fathan Muhammad Taufiq

Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Seksi Pelayanan Informasi Dinas Perkebunan Aceh Tengah, Fathan Muhammad Taufiq, harga lokal kopi gayo (green bean) dapat menembus Rp 250 ribu per kg

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Masyarakat dunia mengenal bahwa kopi termahal di dunia adalah kopi luwak, tetapi ternyata kopi gayo juga merupakan salah satu kopi termahal di dunia karena termasuk kopi spesialty.

Seperti yang diungkapkan Kepala Seksi Pelayanan Informasi Dinas Perkebunan Aceh Tengah, Fathan Muhammad Taufiq, harga lokal kopi gayo (green bean) dapat menembus Rp 250 ribu per kg. “Bahkan kopi ‘lanang’ gayo (peaberry) dapat menembus hingga Rp 500 ribu per kg. Mengapa bisa mahal karena dari 1 ton biji kopi, ketika sudah disortir hanya mendapatkan 10 kg saja. Makanya harganya luar biasa mahal,” terangnya.

Seperti yang disebutkan di atas bahwa kopi gayo adalah kopi spesialty, yakni kopi arabika ditangani secara khusus, terutama prosesnya alami dari mulai budidaya hingga pascapanen. Sehingga aroma dan citarasa yang dihasilkan berbeda dengan kopi lainnya. “Memang kopi gayo ini sangat diminati di pasar Amerika dan Eropa. Menurut mereka yang pemerhati kopi dari sana, citarasanya benar-benar spesial. Walaupun untuk satu jenis kopi gayo bermacam-macam, tetapi rasa dan aromanya serupa,” jelas Fathan.

Kopi gayo ini memang menjadi kopi kebanggan masyarakat Aceh. Ada tiga kabupaten yang menjadi pusat perkebunan kopi gayo, yakni: Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Bener Meriah. Dengan luas totalnya sekitar 125 ribu hektar. “Ketiga kabupaten ini memang difokuskan ke perkebunan kopi gayo. Terutama saat ini fokus ke Kabupaten Gayo Lues karena mempunyai misi untuk mengubah dari yang tadinya suka menanam ganja harus beralih ke tanaman kopi gayo,” ungkap Fathan yang juga berprofesi sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan.

Untuk produksi, memang hasilnya belum terlalu banyak karena perlakuannya yang masih konvensional. Rata-rata sekali produksi hanya menghasilkan 800 kg per hektarnya, padahal potensinya dapat mencapai 3,5 ton per hektar. Fathan menceritakan sebenarnya ada petani yang mampu menghasilkan hingga 2 ton per hektar karena proses budidaya hingga pascapanennya benar-benar diperhatikan. Sayangnya dari luasan total hanya 10-20 persen saja yang mampu menembus 2 ton per hektar. “Yang mencapai 2 ton per hektar ini sebagian besar berada di Kabupaten Aceh Tengah. Tetapi dengan rata-rata hasil yang hanya 800 kg ini, kalau harga jualnya tinggi, tentu bagi petani tetap menguntungkan.”

Kopi gayo ini memang jenis kopi arabika karena akan mendapatkan aroma dan citarasa yang khas apabila ditanam di dataran tinggi (1.000 mdpl), sehingga harga jualnya cukup tinggi. “Di tahun 2000-an pernah mencoba menanam dengan kopi jenis robusta. Sayangnya harga jualnya rendah karena aroma dan citarasanya berbeda. Makanya oleh petani ditebang,” cerita Fathan.

Varietas yang digunakan untuk kopi gayo adalah varietas lokal yang telah legal, yakni Gayo 1 dan Gayo 2. Fathan menjelaskan dari segi aroma dan rasa, kedua varietas ini sama, yang membedakan hanya warna pucuk daunnya saja. Untuk yang Gayo 1, warna pucuk daunnya cokelat kemerahan, sedangkan Gayo 2 berwarna hijau. “Walau warna pucuknya berbeda, kualitasnya tetap sama.”

Ketika di dalam proses budidaya, yang perlu diperhatikan adalah gulma dan tunas baru. Untuk pengendalian gulma, cukup dicabut saja dan dijaga sanitasi kebunnya. Sedangkan untuk tunas baru yang tumbuh dari batang utama, sebaiknya dibuang karena akan menghambat proses pembuahan. Semakin tunasnya banyak, buahnya semakin sedikit karena nutrisinya terserap oleh tunas. “Pemangkasan ini memang idealnya 2 tahun sekali, tetapi kalau mau setahun sekali atau 6 bulan sekali, tidak apa-apa. Yang terpenting ketika muncul tunas baru dari batang utama, segera dipangkas. Makanya kita ada yang namanya Brigade Pemangkasan Kopi agar buah kopi yang dihasilkan maksimal,” ungkap Fathan.

Untuk mendapatkan biji kopi yang berkualitas, bukan hanya penggunaan varietasnya dan cara budidayanya saja yang diperhatikan. Pemanenannya juga harus diperhatikan. Biji kopi yang siap dipanen adalah yang 70-80 persen (untuk 1 pohon) sudah dipenuhi buah kopi yang berwarna merah seperti cherry. Petik buah yang berwarna merah tersebut dan yang masih berwarna hijau jangan dipanen karena akan merusak mutu dan berpengaruh ke aroma. “Jadi jangan semuanya di panen, tunggu 2 minggu lagi, yang buah kopi yang masih hijau itu akan berubah menjadi merah,” jelas Fathan.

Baru setelah itu, buah kopi digiling agar pecah kulitnya. Setelah pecah kulit, biji kopi dicuci. Kemudian di jemur kurang lebih selama 4 hari di bawah sinar matahari. “Pengeringan ini kita mengandalkan sinar matahari karena kalau pakai oven akan mengubah citarasanya. Bahkan kalau sedang panen raya, lantai jemur di sini kurang, akan dibawa ke Bireun dan Lhokseumawe untuk dijemur,” ungkap Fathan.

Setelah dijemur, akan digiling kembali untuk menghilangkan cangkang yang masih menyelimuti biji kopinya. Baru dapat dikatakan green bean. “Disinilah akan dilakukan proses sortir. Jadi akan dipisah mana yang kopi lanang (peaberry) atau kopi panjang (longberry). Jenis kedua kopi gayo inilah yang harganya mahal,” pungkas Fathan.

Reporter : Agustin
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018