Wednesday, 26 February 2020


Fokus Hulu-Hilir, Ditjenbun Dorong Ekspor Meningkat 3 Kali Lipat

28 Jan 2020, 14:42 WIBEditor : Indarto

Lada, salah satu komoditas ekspor | Sumber Foto:Dok, Istimewa

Untuk mempercepat pelaksanaan ekspor 3 kali lipat, pihaknya saat sudah mulai melakukan identifikasi terhadap daerah yang memiliki potensi ekspor perkebunan

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta-- Guna mewujudkan ekspor 3 kali lipat dibanding saat ini bukan masalah sederhana. Agar gagasan tersebut terwujud, penanganannya fokus mulai aspek hulu sampau hilir, khususnya pasca panen dalam rangka meningkatkan produktivitas dan mutu yang selanjutnya diikuti dengan penanganan hama penyakitnya.

Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Agus Wahyudi mengatakan, untuk sub sektor perkebunan yang nilai ekspornya sudah sangat tinggi yaitu Rp 325 triliun tentu saja  tak boleh berhenti. Justru untuk meningkatkan ekspor sub sektor perkebunan 3 kali lipat,  pemerintah harus hadir dengan paradigma baru, yakni “pekebun harus maju, mandiri dan modern”.

" Dalam hal ekspor perkebunan, bagi swasta besar bukan hal baru dan sudah dilaksanakan. Karena itu,  perkebunan rakyat harus didorong supaya perannya lebih dari sekarang," ujar Agus Wahyudi saat mewakili Dirjen Perkebunan  Kementan, pada soft launching  penyelenggararan Indonesian Spices Forum dan Business Expo (ISFBE) 2020, di Jakarta, Senin (27/1).

Menurut Agus, untuk mendorong ekspor 3 kali lipat (2020 – 2024) Ditjen Perkebunan akan fokus mengembangkan 7 (tujuh) komoditas perkebunan yang berorientasi ekspor. Ketujuh komoditas itu  antara lain kopi, kakao, kelapa, jambu mete, lada, pala dan vanili.

Pengembangan ke 7 komoditas perkebunan yang berorientas ekspor tak cukup hanya mengandalkan APBN. Sehingga pemerintah menyiapkan pembiayaan yang sumbernya dari perbankan berupa kredit usaha rakyat (KUR)  dengan bunga rendah (6  persen/tahun).

Agus  mengatakan, Kementan mendapat alokasi KUR sebesar Rp 50 triliun. Dari jumlah tersebut,  sub sektor perkebunan mendapat alokasi sebesar Rp 23,37 triliun. Melalui KUR inilah diharapkan para pekebun dan segenap stakehoulder perkebunan mampu memanfaatkan pembiayaan tersebut untuk meningkatkan produksi dan memperluas usahanya.

Menurut Agus, untuk mempercepat pelaksanaan ekspor 3 kali lipat, pihaknya saat sudah mulai melakukan identifikasi terhadap daerah yang memiliki potensi ekspor perkebunan.  Daerah-daerah tersebut nantinya diharapkan mampu dan bisa menyerap alokasi KUR dengan baik.

" Petani yang sudah di korporasi diharapkan ada link dengan swasta atau BUMN sebagai off taker. Kita juga menggunakan pendekatan kawasan atau cluster untuk pengembangan perkebunan di daerah dan melalui pendekatan ini pekebun akan lebih efisien sehingga mereka bisa berdaya saing," jelasnya.

Agus  juga mengatakan, untuk mengembangkan sektor hulu, pihaknya akan membangun logistik benih di setiap kawasan perkebunan. Kebun benih dan nurcery itu akan dikembangkan di kawasan.

" Prinsipnya  sumber benih tersebut kita dekatkan di kawasan perkebunan supaya pekebun lebih efisien," ujarnya.    

Tingkatkan Produksi

Selain meningkatkan ekspor 3 kali lipat kurun waktu 5 tahun ke depan, Ditjen Perkebunan Kementan juga mendorong para pekebun untuk meningkatkan produksi sebesar 3 kali lipat dari sekarang.

Misalnya untuk kopi yang produktivitas hanya 0,7 ton/ha nantinya bisa ditingkatkan sampai 2 ton/ha. Bahkan, untuk tanaman rempah-rempah yang produktivitasnya hanya berkisar 0,6 – 0,8 ton/ha juga bisa ditingkatkan 3 kali lipat, 2 ton – 3 ton/ha.

" Benihnya sudah ada ditempat riset (Litbang) dan Perguruan Tinggi. Benih unggul akan kita kembangkan menjadi logistik benih disetiap kawasan perkebunan," kata Agus.

Dikatakan, benih unggul yang dikembangkan tersebut nantinya bisa dimanfaatkan pekebun untuk replanting terhadap tanaman yang sudah tua dan atau rusak. " Guna mendongkrak produktivitas perkebunan, Ditjen Perkebunan juga telah menerapkan GAP. Karena itu pekebun yang telah menerapkan budidaya perkebunan yang baik harus dibantu pemerintah. Jadi tak hanya dengan varietas baru (unggul) saja yang ditanam, pekebun juga diberi bantuan pupuk dan yang terpenting ada ketersediaan air untuk mendorong produktivitas," paparnya.

Agus juga mengatakan, untuk mengembangkan Gratieks (Gerakan tiga kali ekspor), pihanya juga mengajak generasi milenial menjadi bagiannya.  Generasi milenial yang punya semangat muda akan menjadi dorongan positif bagi pembangunan pertanian terutama dalam peningkatan ekspor 3 kali lipat.

Selain itu, Ditjen Perkebunan Kementan akan mengembangkan Grasida (Gerakan peningkatan Produksi, Nilai tambah dan Daya Saing). Melalui Grasida ini, diharapkan mampu mendorong sub sektor perkebunan meningkat tiga kali lipat kurun lima tahun mendatang. 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018