Tuesday, 22 September 2020


Lima Tahun ke Depan, Perkebunan Jadi Penyangga Ekspor Nasional

28 Jan 2020, 17:07 WIBEditor : Indarto

Perkebunan punya kekuatan luar biasa | Sumber Foto:Dok. Indarto

Para kepala dinas perkebunan harus memperbaiki cara pandang. Sebab, kepala dinas perkebunan bukan orang biasa dan bangga menjadi alat negara

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Selama ini komoditas sub sektor perkebunan sudah mampu menjadi salah satu penyumbang devisa negara. Melalui gerakan tiga kali ekspor (Gratieks), kurun lima tahun ke depan (2020-2024), komoditas sub sektor perkebunan akan menjadi penyangga ekspor utama nasional.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, setiap daerah punya potensi perkebunan yang luar biasa, sehingga setiap daerah mampu untuk ekspor. Karena itu, melalui Gratieks kurun lima tahun ke depan bukan hal yang mustahil dilakukan.

“Dihadapan ini banyak kepala dinas dan UPTD yang sudah lama berkecimpung di perkebunan. Mereka bukan orang baru, semua ini jagoan di perkebunan. Untuk melampaui “pulau harapan” jangan seperti kemarin, harus ada lompatan. Sehingga para kepala dinas tak hanya bekerja biasa-biasa saja, untuk menggapai “pulau harapan”, perlu kerja luar biasa untuk ekonomi rakyat,” papar Syahrul Yasin Limpo, saat rapat kerja teknis Ditjen Perkebunan Kementan dengan Dinas Perkebunan di 37 provinsi, di Jakarta, Selasa (28/1).

Menteri Syahrul berkeyakinan,  para kepala dinas perkebunan di daerah punya potensi untuk menggenjot ekspor 3 kali lipat dari sekarang kurun lima tahun ke depan. Nah, untuk mencapai hal tersebut menurut Syahrul, diperlukan empat syarat.

Syarat yang pertama, lanjut Syahrul, para kepala dinas perkebunan harus memperbaiki cara pandang. Sebab, kepala dinas perkebunan bukan orang biasa dan bangga menjadi alat negara. Karena itu, setiap kepala dinas perkebunan harus menghidupkan budaya kerja di lapangan.

Kedua, kepala dinas perkebunan harus membuat mapping di masing-masing daerahnya, dengan pendekatan klaster yang kuat. Misalnya, membuat target dan ending yang jelas di setiap kecamatan hingga kabupaten.

“ Ada mapping yang jelas dalam pengembangan tumpang sari sawit-sapi. Bisa juga ada target pembuatan limbah sawit untuk pakan sapi dengan target yang jelas,” ujarnya.

Ketiga, lanjut, Syahrul,  dalam membuat target atau kegiatan harus ada yang bertanggungjawab. Artinya, setiap kegiatan dan tugas harus adil dan realistis. “Kita sudah ada Kostratani, dalam membuat kegiatan nanti hanya kelompok tani yang siap saja yang menerima bantuan seperti bibit dan KUR,” paparnya.

Nah, yang keempat adalah, setiap kepala dinas perkebunan harus belajar dari kesalahan. Contohnya, bagi-bagi sapi, kambing, kelapa, kakao, jambu mete sampai saat ini masih ada? “Artinya, apa? Semua bantuan itu siapa penerimanya harus jelas,” ujarnya.

Menurut Syahrul, perkebunan ini punya kekuatan luar biasa. Karena itu, jangan lagi berpikiran tentang impor.  “ Kalau sudah ada pabrik, bahan baku, lapangan kerja yang jelas, nggak ada orang yang nggak mau,” papar Syahrul.

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018