Wednesday, 26 February 2020


Kopi, si Hitam yang Manis di Pasar Dunia

29 Jan 2020, 13:30 WIBEditor : Yulianto

Biji kopi premium | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM,Jakarta---Bangga. Begitu ujar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sambil tersenyum saat kunjungan kerjanya ke Berlin, Jerman. Pasalnya, mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu menemukan kopi Blawan dari dataran tinggi Ijen, Kabupaten Bondowoso dihargai sangat mahal.

Bayangkan saja, setiap kilogram kopi Blawan, pembeli rela merogoh kocek senilai Euro 29,20 atau Rp 450 ribu.  Bahkan kopi Blawan menjadi salah satu kopi unggulan yang dijual Berliner Kaffeerösterei, salah satu toko kopi terkemuka di Berlin.

“Melihat kopi kita dihargai dengan nilai tinggi tentu menjadi penyemangat untuk terus menggiatkan ekspor pertanian, termasuk untuk komoditas kopi. Ayo terus tingkatkan produktivitas dan kualitas produk kita sehingga kita bisa merajai pasar dunia,” pinta Syahrul.

Kopi Blawan menjadi salah satu kopi Indonesia yang diminati warga Eropa. Selama ini 90 persen kopi produksi Blawan diserap pasar luar negeri, seperti Belanda, Jerman, hingga Amerika Serikat. Kopi yang ditanam di Perkebunan Blawan berjenis arabika. Jenis kopi ini memang banyak diminati masyarakat Eropa, karena rasanya manis dan asam.

Sejak tahun 2016, Kabupaten Bondowoso memang telah mencangkan sebagai “Republik Kopi”. Di Bondowoso terdapat tiga kebun kopi, yaitu Kebun Jampit, Kebun Blawan, dan Kebun Pancor.  Dari tiga kebun ini, dihasilkan kopi arabika bertaraf internasional yang terkenal dengan sebutan Java Coffee Jampit, Java Coffee Blawan, dan Java Coffee Pancoer.

Indonesia sendiri saat ini merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Topografi tanah berbukit dengan gunung-gunung vulkanik membuat Indonesia dianugerahi tanah yang subur dan cocok ditanami kopi.

Selain kopi Blawan, Indonesia mempunyai beragam jenis kopi lainnya. Sebut saja kopi Gayo di Aceh, kopi Solok di Sumatera Barat, kopi Preanger di Jawa Barat, kopi Kintamani di Bali, kopi Toraja di Sapan, kopi Wamena di Papua, hingga kopi Bajawa di Flores.

Meski kopi Indonesia sudah merambah pasar Internasional, namun Syahrul terus mendorong agar pertumbuhan ekspor kopi bisa meningkat hingga tiga kali lipat sampai lima tahun ke depan. Untuk itu, Ia meminta para produsen dari hulu dan eksportir untuk bekerja sama sehingga pertumbuhan ekspor kopi bisa sesuai target atau lebih.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Indrasari Wisnu Wardhana menyatakan, peluang kopi Indonesia di luar negeri semakin terbuka dengan dorongan faktor konsumsi dunia yang meningkat akibat perubahan gaya hidup. Konsumsi kopi dunia pada 2018 sebanyak 9,68 juta ton, dengan tren konsumsi yang meningkat rata-rata 2,1% per tahun selama lima tahun terakhir.

Karena itu pihaknya mendukung penyempurnaan tata cara dan kebijakan ekspor produk kopi dan turunannya dengan prosedur perizinan yang lebih sederhana. Penyederhaan prosedur perizinan tersebut merupakan salah satu cara untuk meingkatkan ekspor kopi dan turunannya.

Saat ini, perizinan ekspor kopi telah diatur berdasarkan Permendag Nomor 109 tahun 2018 tentang Kebijakan Ekspor Kopi. Untuk terdaftar sebagai eksportir terdaftar kopi (ETK), registrasi dapat dengan mudah dilakukan melalui Inatrade dengan melengkapi dokumen yang dipersyaratkan.

Kopi Indonesia ternyata menjadi buruan di pasar dunia. Seberapa besar permintaannya? Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Gsh/Yul
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018