Wednesday, 19 February 2020


AGI : Jika Tak Impor, Bakal Defisit Gula 29 Ribu Ton

12 Feb 2020, 15:10 WIBEditor : Indarto

Impor raw sugar dimulai pada akhir musim giling 2020 | Sumber Foto:Dok. Indarto

Untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi pada tahun 2020 dan persiapan awal tahun 2021 diperlukan impor gula konsumsi sebanyak 1,330 juta ton.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Asosiasi Gula Indonesia (AGI) memperkirakan bakal terjadi defisit gula konsumsi pada tahun ini. Mengingat,  stok awal gula konsumsi hanya sekitar 1,084 juta ton pada tahun 2020. Sedangkan produksi gula sepanjang tahun ini diperkirakan hanya sekitar 2,050 juta ton. Apabila prakiraan konsumsi gula tahun ini sebesar 3,163 juta ton, maka akan terjadi defisit gula konsumsi sekitar 29 ribu ton.

Direktur Eksekutif AGI, Budi Hidayat mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi pada tahun 2020 dan persiapan awal tahun 2021 diperlukan impor gula konsumsi sebanyak 1,330 juta ton. “ Apabila tak ada tambahan gula impor, kita pada tahun 2020 akan mengalami defisit sebanyak 29 ribu ton,” ujar Budi Hidayat saat konferensi pers Sugar Outlook 2020 di Gedung RNI, Jakarta, Rabu (12/2).

Menurut Budi, opis untuk mengatasi defisit gula konsumsi itu salah satunya adalah impor raw sugar bisa dimulai pada akhir musim giling tahun 2020 (Juli-Agustus 2020). Impor raw sugar ini selain untuk mengatasi kekurangan konsumi gila pada tahun ini, juga sebagai pemenuhan awal tahun 2021 (sampai Mei 2021).

“Impor raw sugar tersebut sebagian untuk pemenuhan awal tahun 2021 sebelum musim giling dimulai. Soal impornya boleh didatangkan dari mana saja. Tapi, umumnya dari Thailand dan Australia. Namun, sampai saat ini kita belum membuka impor dari Brazil karena jaraknya terlalu jauh,” papar Budi.

Budi juga menyebutkan,  untuk pengolahan raw sugar menjadi gula kristal putih (GKP) sebaiknya diberikan kepada pabrik gula (PG) berbasis tebu. Sedangkan pasar gula GKP dan gula kristal rafinasi (GKR) tetap perlu dipisahkan. Sebab, ada perbedaan selisih biaya bahan baku berbasis tebu dan gula kristal mentah (GKM) sekitar Rp 1.500/kg dan biaya proses sekitar Rp 2.000/kg  gula.  Karena itu, ketiga jenis gula ini tak dapat dipersaingkan dalam pasar yang sama.

Dalam paparannya, Budi juga menyebutkan, produksi gula pada tahun 2020 diperkirakan antara 2,0-2,1 juta ton. Bahkan, sebagai dampak kemarau panjang pada tahun 2018 dan 2019, diperkirakan produktivitas gula akan turun sekitar 20 persen.

Budi juga mengakui, diperkirakan ada perluasan areal tebu di luar Jawa pada tahun 2020. Sehingga, total luas tebu giling pada tahun 2020  sekitar 419.993 ha. Sayangnya, dengan adanya perluasan areal tebu tersebut tak berdampak signifikan terhadap produksi gula. Pasalnya, produktivitas (protas) sejumlah PG turun dan rendemannya juga turun.

Data AGI menyebutkan,  produksi gula Indonesia pada tahun 2019 sekitar 2,227 juta ton, atau sedikit di atas produksi tahun 2018 sebesar 2,174 juta ton. Sedangkan tahun 2019 terjadi penurunan luas tebu giling dari tahun 2018 seluas 413.432 ha menjadi 411.435 ha. Sementara itu, protas gula dari 5,26 menjadi 5,41 ton gula/ha.

Tenaga Ahli AGI Yudi  Yusriyadi mengatakan, untuk menuhi kebutuhan gula nasional sebanyak 6,2 juta ton, paling tidak diperlukan lahan sekitar 900 ribu ha (dengan protas 7 ton/ha). Apabila protasnya hanya 5 ton/ha, maka diperlukan lahan sekitar 1 juta ha.

“Memang ada lahan di luar Jawa. Namun secara teknis lahan tersebut banyak mengalami kendala clean and clear, seperti lahan adat atau ulayat,” ujar Yudi.

Menurut Yudi, selain PG di Sumatera, belum kelihatan sejumlah PG di luar Jawa lainnya yang sudah menunjukkan hasil dengan baik. “ Kalau investor banyak, karena pasarnya ada dan kebutuhannya juga jelas. Tapi, tentang lahan sepertinya masih sulit,” pungkasnya.

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018