Sunday, 05 April 2020


Geliat Budidaya Kopi di Lereng Gunung Arjuno

20 Feb 2020, 13:51 WIBEditor : Clara

Perkebunan kopi di lereng Gunung Arjuno | Sumber Foto:Dodik

ada sekitar 240 hektar lahan di lereng Gunung Arjuno, dialihkan menjadi perkebunan kopi

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Lereng Gunung Arjuno tidak saja menyimpan historis peradaban masa lalu, tetapi potensi perkebunan juga ada, salah satunya budidaya kopi. Areal perkebunan kopi tersebut, secara administratif berada di Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.

Dikatakan Ketua Lembaga Kemitraan Desa Pengelola Hutan (LKDPH) Desa Tulungrejo, Yudiono, ada sekitar 240 hektar lahan di lereng Gunung Arjuno, dialihkan menjadi perkebunan kopi. Secara keseluruhan, ada 870 petani yang menggarap perkebunan kopi di daerah itu, dan 780 petani berstatus warga Desa Tulungrejo, sedangkan 90 petani lainnya berdomisili diluar Desa Tulungrejo. “Rata-rata petani mengolah lahan sekitar 0,25 hektar. Ada 4 jenis kopi yang dibudidayakan petani, kopi robusta, tipica (kopi jawa), arabica dan exelca," jelas Yudiono.

Dari 4 jenis yang dibudidayakan, kopi robusta paling mendominasi, yaitu sekitar 85 persen lahan perkebunan atau sekitar 204 hektar. Sedangkan kopi tipica, arabica dan exelca, masing-masing sekitar 5 persen atau sekitar 12 hektar.

Menurut Yudiono, masa panen petani berbeda-beda, tergantung jenisnya. Kopi robusta dipanen pada bulan agustus hingga september, kopi tipica dan arabica dipanen di bulan mei, sedangkan kopi exelca dipanen bulan oktober.

Lebih lanjut, mayoritas hasil budidaya kopi dijual kepada para pedagang lokal, sedangkan yang dijual berstatus kopi basah. Terkait pengiriman, kopi dikirim oleh pedagang lokal ke Jombang dan Malang. Kendala non teknis para petani adalah rendemen. Harga jual kopi tipica dan arabica bisa jatuh mencapai Rp 3.500,- per kilogram. Sedangkan harga jual kopi robusta dan exelca masih bisa dikatakan dalam posisi landai.

Memang ada kopi yang dikeringkan oleh petani, namun jumlahnya sangat kecil. Kopi tersebut sengaja dikeringkan sendiri untuk memenuhi kebutuhan warung atau rumah tangga. "Rata-rata dalam 1 hektarnya, petani bisa memanen 3 ton kopi basah untuk hasil paling rendah, 6 ton kopi basah untuk hasil paling tinggi. Tiap 1 kilogram, kopi basah dijual Rp 5.000,- kepada pedagang lokal," ungkap Yudiono.

Reporter : Dodik
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018