Sunday, 05 April 2020


Kemitraan Inti-Plasma, Selamatkan Agribisnis Teh dari Keterpurukan

18 Mar 2020, 09:20 WIBEditor : Indarto

Agribisnis teh perlu perbaikan | Sumber Foto:Dok. Indarto

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Agribisnis teh di tanah air saat ini sudah pada kondisi "lampu merah". Agar agribisnis teh berjalan dengan baik, perlu perbaikan dari hulu-hilir. Salah satunya adalah dengan mengembangkan perkebunan teh rakyat melalui pola kemitraan yang memanfaatkan fasilitas KUR.


Ketua Umum Asosiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo), Nugroho B Koesnohadi mengatakan, pola kemitraan ini sudah berjalan di Kabupaten Bandung. Petani teh, melalui koperasi teh rakyat yang melakukan kemitraan akan mendapat jaminan pasar dari perusahaan inti.

"Para petani plasma juga memperoleh sebagian keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan inti," kata Nugroho, di Jakarta, Selasa (17/3).

Menurut Nugroho, hasil pengolahan teh dari petani plasma akan dipasarkan oleh perusahaan (inti), baik di dalam maupun di luar negeri. Sebagian pendapatan petani akan digunakan untuk membayar angsuran pinjaman kredit investasi (KI) dan kredit modal kerja (KMK).

Nugroho juga mengatakan, pola inti plasma sebenarnya masih relevan untuk mengatasi kekawatiran ambruknya agribisnis teh di tanah air. "Dengan dukungan KUR BRI Agro dan bantuan bibit teh unggul dari pemerintah, perusahaan inti membantu melaksanakan pengurusan sertifikasi tanah hak milik petani dan melaksanakan pembangunan kebun teh yang akan diberikan petani plasma," paparnya.

Berdasarkan jaminan sertifikat tanah milik petani, petani teh (plasma), lanjut Nugroho, memperoleh pinjaman KUR melalui pelaksanaan akad kredit BRI Agro untuk membiayai kebun teh seluas 1-2 ha/petani. " Petani yang mendapatkan fasilitas KUR ini sudah menjadi anggota koperasi petani teh rakyat. Mereka juga mendapat pelatiham teknik budidaya tanaman teh," kata Nugroho.

Menurut Nugroho, perusahaan (inti) bersama Dinas Koperasi setempat membantu kelompok-kelompok tani yang sudah ada untuk membangun koperasi petani teh rakyat. Bahkan, petani rakyat bersama Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) dan PT RPN melaksanakan pelatihan teknik budidaya tanaman teh sesuai GAP.

Nugroho juga mengungkapkan, sejak penandatanganan akad kredit dengan pihak bank, perusahaan (inti) tetap bekerjasama dengan  koperasi petani teh rakyat. Perusahaan tersebut berkewajiban menyalurkan bahan-bahan dan sarana pemeliharaan kebun sesuai dengan program yang telah ditetapkan.

"Selama tanaman belum menghasilkan, perusahaan (inti) secara berkesinambungan memberikan bimbingan teknis kepada para petani plasma," kata Nugroho.

Menurut Nugroho, pada tahun ke empat,petani plasma sudah mulai menghasilkan.Hasil panen berupa pucuk teh dari petani plasma sudah bisa dijual kepada perusahaan (inti) melalui koperasi petani teh rakyat. Selanjutnya, pucuk teh tersebut diolah di pabrik milik perusahaan (inti).

"Hasil penjualan pucuk daun teh dibayarkan langsung oleh perusahaan (inti) kepada para petani teh (plasma) melalui koperasi petani teh rakyat. Sebagian hasil panen dipakau untuk mengangsur pinjaman dan membiayai pemeliharaan kebun," pungkasnya. 

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018