Tuesday, 28 June 2022


Mengembalikan Harumnya Atsiri Bumi Rencong dari Sabang

06 May 2020, 14:50 WIBEditor : Yulianto

Minyak nilam Aceh | Sumber Foto:Dok. bukalapak

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh---Minyak atsiri Aceh pernah mengalami kejayaan. Namun kini aroma harumnya minyak atsiri mulai tak tercium lagi. Pemerintah perlu turun tangan lagi mengembalikan era keemasan komoditas pertanian yang membuat penjajah datang ke Nusantara.

Potensi Sabang sebagai daerah perdagangan dan pelabuhan bebas, merupakan pintu masuk mengembalikan kejayaan masa lalu. Dari pelabuhan tersebut diangkut hasil bumi Aceh untuk dijual ke Eropa.

Jika dahulu saja yang mengangkut bahan mentah dari rempah Aceh bisa maju, maka bagaimana saat ini. Tentu saja jauh lebih berpotensi untuk lebih maju dan berkembang dibandingkan masa dahulu. Contohnya minyak atsiri dari tanaman nilam daerah Gayo Lues, yakni memiliki kandungan pacholli alcohol sebesar 34% (paling tinggi sedunia).

Tingginya kandungan pacholli alcohol berdampak pada nilai jual petani, sehingga menjadi sebuah jaminan keberlanggsungan/sustaenable untuk terus menekuni usaha budidaya tanaman penghasil atsiri, seperti nilam, sereh wangi, pala dan cengkeh.  

Jika peluang potensi ini bisa diberdayakan di Aceh tentu saja banyak sekali efek ganda (multy player effect)  yang diperoleh masyarakat. Diantaranya, menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat; mningkatkan nilai tukar petani (NTP) atas produk industri; mewujudkan masyarakat yang sejahtera.

Pabrik pengolahan bahan baku

Hal tersebut dapat diraih jika pemerintah dapat mewujudkan sebuah pabrik pengolahan bahan baku penghasil minyak atsiri di Aceh, khususnya di Sabang. Kenapa khusus di Sabang? jawabannya adalah karena menjadi sebuah pembuktian komitmen pemerintah dan pemerintah daerah untuk menjalankan dan memajukan pelabuhan dan perdagangan di Sabang.

Terwujudnya pabrik pengolahan minyak atsiri akan meransang petani untuk lebih serius mengembangkan kegiatan budidaya tanaman penghasil minyak atsiri. Siapa yang tidak berkeinginan untuk meraih hidup sejahtera dan terjaminnya penyerapan produksi petani?

Peran pemerintah melalui penyuluh pertanian akan menjadi ringan dan mudah dalam mengedukasi petani, meski harus mengikuti sistem budidaya hingga pasca penen seperti dipersyaratkan pabrik dan konsumen. Mengapa kita harus mewujudkan unit usaha pengolahan/penghasil minyak atsiri di Sabang?

Hal ini karena negara penghasil minyak wangi nomer satu dunia (Perancis) mengimpor minyak nilamnya dari Aceh. Satu alasannya,  minyak atsiri kita memiliki kekhususan dibandingkan negara/daerah lain. Mereka yang bahan bakunya dari luar saja mampu memproduksi produk yang nilai jualnya fantastis. Mengapa hal tersebut tidak dilakukan oleh kita di Sabang?

Dengan adanya pabrik pengolahan minyak atsiri dan produk turunannya di Sabang, tentu akan mengundang banyak sektor yang akan berkontribusi untuk bersama-sama menjalankannya. Satu sebab dan alasan yaitu kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sabang akan menjadi sebuah daerah berkumpulnya produk- produk bahan baku yang dibutuhkan pabrik pengolahan minyak atsiri. Selain itu menjadi stimulan kepada petani untuk budidaya tanaman penghasil minyak atsiri.

Sebagai daerah perdagangan dan pelabuhan bebas, Sabang memiliki daya tarik lebih jika ada industri barang yang menjadi komoditi ekspor. Bahkan menjadi stimulan bagi pengusaha pemasok barang ke Aceh, karena kapal yang ke Sabang akan kembali membawa barang keluar Aceh.

Jadi jika ingin memajukan perdagangan dan pelabuhan bebas  Sabang, maka mewujudkan industri pengolahan minyak atsiri akan mengembalikan semangat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

Reporter : Mukhlis (Diklat Saree Aceh Besar)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018