Saturday, 06 June 2020


Impor Terlambat, Harga Gula Jelang Lebaran Melambung

12 May 2020, 13:56 WIBEditor : Indarto

Gula putih mulai langka | Sumber Foto:Dok. Indarto

Sesuai rencana yang melakukan impor gula adalah Perum Bulog. Selain Bulog, masih ada tambahan sebanyak 250 ribu ton yang dilakukan oleh PG Rafinasi.

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Lonjakan harga gula di tingkat eceran selama Ramadhan dan menjelang Lebaran tahun ini sudah tak bisa dibendung lagi. Selain harganya sudah mencapai Rp 20.000 per kg,  para pedagang juga kesulitan untuk mendapatkan gula di pasar maupun di sejumlah grosur.

Melonjaknya harga gula sudah ditengarai sejak Februari lalu. Pada saat itu harga gula di tingkat eceran naik sebesar Rp 13.000-Rp 15.000 per kg. Hingga pertengahan Mei 2020, harga gula terus melambung sampai Rp 20.000 per kg.

" Melambungnya harga gula jelang Lebaran tahun ini  akibat dari keterlambatan impor gula, sehingga gula menjadi langka," ujar Tenaga Ahli Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Yudi  Yusriyadi, di Jakarta, Selasa (12/5).

Menurut Yudi, persetujuan impor sudah ada dan realisasi impor juga sudah ada.
Sesuai persetujuan, impornya dalam bentuk gula kristal mentah (GKM).

" Saat ini tinggal menunggu proses menjadi gula kristal putih (GKP) yang juga perlu waktu," kata Yudi.

Yudi menambahkan, sesuai rencana yang melakukan  impor gula adalah Perum Bulog. Selain Bulog, masih ada tambahan sebanyak 250 ribu ton yang dilakukan oleh PG Rafinasi.

Nah, kalau melihat skenario impor yang akan dilakukan pemerintah, lanjut Yudi, diperkirakan sebelum hari Raya Idul Fitri (Lebaran) tahun ini, persediaan gula (putih) di pasar relatif mencukupi. Diperkirakan, dengan masuknya gula impor akan mampu menurunkan harga gula di tingkat eceran.

Menurut Yudi, persoalan gula nasional hulu-hilir dari tahun ke tahun makin rumit.
Apalagi saat ini semua negara sedang dilanda pandemi corona (covid 19). Di dalam negeri juga belum tahu kapan pandemi corona ini berlalu.

"Sehingga, dalam situasi seperti ini persoalannya semakin kompleks. Selain masalah gula yang terbatas (pasokan terbatas), distribusinya juga kurang terpantau. Bahkan, di sejumlah pasar tradisional, ada sebagian besar gula yang diproduksi tahun 2019," paparnya.

Agar harga gula stabil, kata Yudi, alangkah baiknya apabila saat impor dikendalikan. Mengapa harus dikendalikan? Menurut Yudi, karena tak lama lagi, pada Juni sejumlah pabrik gula (PG) mulai giling.

" Pengendalian impor gula tersebut juga berperan untuk menjaga pasar supaya  tak jenuh, sehingga harga gula dapat jatuh. Yang pada akhirnya akan merugikan produsen/petani," kata Yudi.

Menurut Yudi, supaya hal yang sama tak terulang lagi pada tahun 2021, pemerintah kalau mau impor gula harus direncanakan matang mulai awal September. "Melalui perencanaan yang matang, maka stok gula awal tahun 2021 minimal 1,3 juta ton untuk lima bulan ke depan," kata Yudi.

Seperti diketahui, sejak Februari lalu AGI sudah mengimbau pemerintah untuk segera impor gula sekitar 300 ribu ton. Impor gula diperlukan untuk mengantisipasi lonjakan harga gula yang sudah mulai dirasakan konsumen.

Apabila menunggu impor gula konsumsi sebanyak 1,330 juta ton setelah musim giling tahun ini (Agustus-September)  terlalu lama. Lantaran musim gilingnya masih lama, perlu solusi jangka pendek, yakni impor gula  bukan rafinasi, tapi langsung siap pakai saja, yakni GKP. Impor GKP ini diperlukan untuk kebutuhan konsumsi, sampai musim giling tiba. 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018