Saturday, 06 June 2020


Memasuki Panen Raya, Harga Kopi Petani Anjlok

13 May 2020, 12:08 WIBEditor : Indarto

Kopi Java Preanger Gunung Tilu | Sumber Foto:Dok. Indarto

Tak seperti biasanya, harga kopi (cery merah) saat panen raya tahun ini anjlok. Harganya hanya Rp 5.000-Rp 6.000 per kg. Tahun lalu harganya Rp 10.000 per kg,

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Agribisnis kopi di tengah pandemi corona (covid 19) sedang lesu. Bahkan, memasuki musim panen raya tahun ini (Mei-Juli) harga kopi di tingkat petani anjlok.Permintaan kopi di pasar juga "ambyar" karena terjadi penurunan secara drastis.

" Karena permintaan di pasar mengalami penurunan, diharapkan ada mekanisme pembelian dari pemerintah," ujar Hindarwati dari Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) saat Webinar, di Jakarta, Rabu (13/5).

Menurur Hindarwati, pelaku usaha kopi yang ada di hilir seperti cafe, supaya tetap berjalan dan mampu men-drive di hulu diharapkan tak hanya menyajikan kopi saja. Cafe-cafe supaya menyediakan minuman lainnya yang menyehatkan.

Lesunya agribisnis kopi juga diakui salah satu petani kopi Pangalengan, Jawa Barat (Jabar), H. M. Aleh. Menurut Aleh, saat ini sedang memasuki musim panen raya.

" Tak seperti biasanya, harga kopi (cery merah)  saat panen raya tahun ini anjlok. Harganya hanya Rp 5.000-Rp 6.000 per kg. Tahun lalu harganya Rp 10.000 per kg," kata Aleh.

Ketua Koperasi Produsen Kopi Margamulya ini juga mengaku, sampai saat ini juga belum ada buyer yang memesan kopi (green bean) petani Pangalengan. Lantaran tak ada buyer, kopi cery merah yang dibeli koperasi dijual di pasar lokal saja.

" Lesunya bisnis kopi saat ini karena dampak pandemi corona yang entah kapan berakhirnya," ujar Aleh.

Aleh mengatakan, kopi yang ditanam petani hasilnya cukup bagus. Provitasnya 10 ton per ha. Hanya saja, harganya yang tak bagus.

" Koperasi yang kami kembangkan pun mengalami kesulitan pendanaan. Sebab, sesuai komitmen, kami harus membeli kopi petani," ujarnya.

Menurut Aleh, pihaknya sedang berupaya mencari bantuan pendanaan. Selanjutnya, dana tersebut akan dimanfaatkan untuk membeli kopi petani.

Aleh berharap,  ada program mayor project dari pemerintah melalui Kementerian Pertanian. Dalam program tersebut diharapkan ada pinjaman dana atau dana talangan untuk antisipasi panen.

" Karena koperasi belum ada suntikan dana, dan supaya usaha ini tetap berjalan, saya pinjam dana KUR secara pribadi sebesar Rp 300 juta," papar Aleh.

Menurut Aleh, dari dana pinjaman itulah kopererasi membeli  produk kopi yang di hasilkan petani.  Olahan kopi yg dihasilkan koperasi untuk sementara disimpan terlebih dahulu sambil menunggu corona berlalu.

Warung Kopi Masih Tutup

Menurut Aleh, sampai saat ini warung kopi yang dikelonya masih tutup. Warung kopi yang dikembangkan di tiga titik seperti di Culture Coffe, Rest Area Coffe Gunung Tilu dan Coffe Family selama pandemi corona untuk sementara tutup.

" Kami tutup sementara.Kami juga meningkatkan kewaspadaan terhadap pandemi corona ini," ujarnya.

Aleh juga belum tahu, kapan ketiga warung kopi yang menjual kopi khas Java Preanger Gunung Tilu dengan harga Rp 15 ribu/gelas akan dibuka kembali. Bisa jadi, setelah pandemi corona usai warung kopi tersebut akan dibuka kembali. 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018