Friday, 05 June 2020


Penangkar Mengeluh, 38 Juta Bibit Perkebunan Tak Terserap Pasar

15 May 2020, 13:36 WIBEditor : Indarto

Bibit perkebunan | Sumber Foto:Dok. Istimewa

Begitu disiapkan 38 juta bibit perkebunan setahun lalu sesuai kebutuhan 2020, saat ini terjadi pemotongan anggaran sebesar 60 persen.

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Hampir semua agribisnis perkebunan saat ini terimbas pademi corona (covid 19). Tak terkecuali, penangkar benih perkebunan yang sebagian besar terdiri petani kecil pun terancam gulung tikar.

Ketua Umum Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Indonesia (PPBTPI), Badaruddin Puang Sabang mengatakan, setelah terjadi pemotongan anggaran di lembaga dan kementerian (khususnya Kementerian Pertanian), bibit perkebunan yang sudah dicetak penangkar banyak yang tak terserap. Ada sekitar 38 juta bibit perkebunan yang disiapkan pada tahun 2020.

" Membuat bibit harus disiapkan jauh-jauh hari sesuai kebutuhan. Namun, begitu disiapkan 38 juta bibit perkebunan setahun lalu sesuai kebutuhan 2020, saat ini terjadi pemotongan anggaran sebesar 60 persen," kata Badaruddin Puang Sabang dalam Webinar, di Jakarta, Jumat (15/5).

Lantaran ada pemotongan anggaran di Kementerian Pertanian (Kementan), kata Badaruddin,  bibit perkebunan yang sudah disiapkan setahun yang lalu tak terserap. Bahkan,  sampai saat ini belum ada jalan keluarnya.

Menurut Badaruddin, ada beragam bibit perkebunan yang telah disiapkan penangkar di desa-desa. Diantaranya bibit kopi, kakao, kopi, pala, karet, kelapa dan sejumlah bibit perkebunan lainya.

Badaruddin mengatakan, untuk menyiapkan bibit perkebunan, sejumlah penangkar sudah mengeluarkan biaya yang tak sedikit. " Pencetakan bibit perkebunan sudah ada perencanaannya, tentunya harus ada komitmen yang jelas," ujarnya.

Menurut Badaruddin, karena pencetakan bibit perkebunan sudah ditetapkan, seharusnya yang tak terserap pun harus ada jalan keluarnya. " Sebab pencetakan bibit perkebunan banyak melibatkan penangkar di desa- desa," katanya.

Hal senada diungkapkan Sekjen Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) Nana Laksana. Menurut Nana,  di tengah pandemi corona saat ini daya beli petani sudah mulai turun. " Selain itu, juga ada kendala distribusi dan stok selama pandemi corona," ujar Nana.

Nana juga berharap, benih yang sudah disiapkan jauh-jauh hari sesuai kebutuhan agar mendapat perhatian lebih dari pemerintah. "Jangan sampai kebijakan berubah-ubah," kata Nana.

Menurut Nana, karena benih itu harus disiapkan, jangan sampai benih yang disiapkan tersebut dianggap penimbunan. " Jangan sampai kami dianggap penimbun," kata Nana.

Anggota Komisi VI DPR RI, Herman Khaeron mengaku prihatin terhadap pelaku agribisnis perkebunan. " Para penangkar benih perkebunan juga terkena dampak corona. Selama ini untuk benih itu dimasukkan ke mana juga kurang jelas," kata Herman.

Agar nomenklaturnya jelas, lanjut Herman, masalah perbenihan ini diharapkan bisa dimasukkan ke perindustrian. " Nanti kami usulkan supaya masuk ke industri," pungkas Herman. 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018