Friday, 05 June 2020


Petani Kakao Butuh Insentif Pemerintah

19 May 2020, 11:24 WIBEditor : Indarto

Komoditas kakao | Sumber Foto:Dok. indarto

Kelompok petani pengumpul kakao pun juga terkendala. Begitu juga, kelompok tani yang sudah melakukan hilirisasi dengan skala usaha home industri juga mengalami nasib hampir sama.

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Di tengah pandemi corona (covid 19), agribisnis kakao di tingkat hulu tidak banyak mengalami kendala. Namun, seiring berjalannya waktu, rantai produksi dan distribusi kakao mulai terkendala.

" Sejumlah negara tujuan ekspor masih lock down, yang membuat ekspor komoditas kakao pun tersendat. Sehingga, agribisnis kakao ini perlu dukungan pemerintah berupa insentif, seperti pinjaman modal," papar Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia, Arief Zamroni, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Selasa (19/5)

Menurut Zamroni, dalam situasi seperti ini pemerintah bisa menghidupkan kembali Gernas kakao. " Perlu kehadiran pemerintah untuk membantu agribisnis kakao.  Sebab, tak hanya petani saja yang kesulitan untuk  menjual produknya," papar Arief Zamroni.

Zamroni juga mengatakan, kelompok petani pengumpul kakao pun juga terkendala. Begitu juga, kelompok tani yang sudah melakukan hilirisasi dengan skala usaha home industri juga mengalami nasib hampir sama.

Menurut Zamroni, home industri di sejumlah kampung cokelat dan  cafe saat ini sudah tiarap. "Bahkan ada yang menjual cafenya. Mereka butuh suntikan dana untuk menghidupkan usahanya lagi. Kalau tak ada suntikan dana, agribisnis kakao ini sulit bangkit," kata Zamroni.

Sebelum pandemi corona, sejumlah kelompok tani kakao binaan Asosiasi Petani Kakao Indonesia masih bisa ekspor ke Eropa, Amerika Serikat, dan sejumlah negara di Asia (Singapura dan Malaysia). Bahkan sejumlah petani kakao yang merintis usahanya dengan sistem korporasi mampu ekspor produknya ke Timur Tengah, Prancis dan Belanda.

Petani binaan asosiasi tiap bulan mampu ekspor sebanyak 15-20 ton. Ekspor komoditas kakao pada umumnya berupa produk setengah jadi, seperti cocoa butter, cocoa powder, dan cocoa cake. Namun, ada sebagian yang masih dalam bentuk raw material.  

Data Asosiasi Petani Kakao Indonesia menyebutkan, produksi kakao saat ini rata-rata 400 ribu ton/tahun.  Sedangkan, kebutuhan untuk industri olahan di dalam negeri sebanyak 780 -800 ribu ton/tahun. 

Lantaran kebutuhan untuk industri olahan dalam negeri cukup banyak, sebagian masih impor. Pada tahun 2018 impor kakao sebanyak 249 ton. Produkstivitas kakao yang ditanam petani juga masih rendah sekitar 500-600 kg/ha.

Hampir Semua Sektor Terdampak

Anggota Komisi IV DPR RI, Ono Surono mengaku prihatin atas dampak pandemi corona ini. Ono menilai, hampir semua sektor terdampak. Mulai dari perbankan, hotel, restoran banyak yang tutup.

" Agribisnis seperti sawit, teh, kakao, kelapa di hulunya memang masih berjalan. Namun, distribusi dan pasarnya mulai bermasalah," papar Ono.

Ono juga mengatakan, setelah refocusing, anggaran yang ada di Ditjen Perkebunan mengalami pemotongan cukup besar, dan yang tersisa pada tahun 2020 sekitar Rp 820 miliar. " Padahal permintaan pasar agribisnis perkebunan di pasar lokal dan ekspor sudah berkurang. Banyak kedai kopi tutup," paparnya.

Menurut Ono, pemerintah mestinya membeli produk mereka agar  agribisnis perkebunan bangkit. " Harus ada solusi, seperti resi gudang dan ada paket kebijakan dari pemerintah untuk agribisnis perkebunan," pungkas Ono. 

Reporter : Dimas
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018