Saturday, 26 September 2020


Produsen Teh, tapi Konsumsi Masyarakat Indonesia cuma 1/2 Gelas per Hari

03 Jun 2020, 10:45 WIBEditor : Yulianto

Teh putih, salah satu jenis teh Indonesia bernilai premium | Sumber Foto:Dok. sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung---Sebagai negara produsen teh terbesar ketujuh di dunia, ternyata konsumsi teh masyarakat Indonesia terbilang masih sangat rendah. Hal ini karena masyarakat kurang memahami manfaat dari kandungan minuman penyegar ini.

Data menyebutkan konsumsi teh (Camellia sinensis) di Indonesia paling rendah di antara produsen teh lainnya, yaitu sekitar 340 gram/kapita/tahun atau hanya 1 gram/kapita/hari. Kalau ditakarkan hanya setengah gelas saja per hari per orang. 

Di negaranegara produsen teh lainnya konsumsi teh sangat tinggi. Misalnya, di Turki mencapai 3.200 gram/kapita/tahun hampir sepuluh kali dari konsumsi teh di Indonesia, Sri Lanka 1.340 gram/kapita/tahun, Cina 1.310 gram/kapita/tahun, India 780 gram/kapita/tahun dan Kenya 690 gram/kapita/tahun. 

Menurut Peneliti Pusat Penelitian Teh dan Kina, Gambung, Bandung, Jawa Barat, Rohayati Suprihatini, setidaknya ada dua penyebab konsumsi teh masyarakat Indonesia rendah. Pertama kurang memahami atau menyadari betapa besarnya manfaat teh untuk kesehatan. Kedua karena kurang memahami bagaimana menyeduh teh yang baik dan benar.

Data FAO tahun 2018, produksi teh Indonesia sekitar 141.000 ton dari total produksi teh dunia sekitar 2,61 juta ton. sedangkan terbesar India sebanyak 1,34 juta ton, Kenya (0,49 juta ton), Sri Lanka (0,30 juta ton), Turki (270.000 ton) dan Vietnam (270.000 ton).

Kita perlu terus menerus menyosialisasikan manfaat teh bagi kesehatan. Apalagi teh Indonesia itu berpotensi paling menyehatkan dibandingkan teh dari negara-negara produsen teh lainnya,” kata perempuan kelahiran Cirebon tahun 1962 ini.

Padahal menurut Rohayati Suprihatini yang akrab dipanggil Oha, teh Indonesia telah memenangkan award dari The International Society  of Antioxidant  in Nutrition and Health /ISANH, Paris, pada tahun 2009 sebagai teh dengan kandungan antioksidan tertinggi di antara teh dari produsen teh lain di dunia. Karena itu,  teh Indonesia berpotensi lebih menyehatkan. 

Kandungan antioksidan inilah yang menjadi indikator dari health benefit of tea,” ujarnya lulus S1-S3 Institut Pertanian Bogor ini. Oha sendiri sejak tahun 2009 menjadi anggota The International Society of Antioxidant in Nutrition and Health (Paris), serta sejak tahun 2014 menjadi anggota Global Forum of International Research Institute.

Karena itu Oha menyayangkan kalau masyarakat Indonesia justru minum teh yang bukan berasal dari negeri sendiri.  Tidak sedikit orang Indonesia yang malah lebih menyukai produk teh impor, seperti di hotel-hotel dan di café. Hal itu membuat impor teh di Indonesia cenderung meningkat, sampai 5,5 persen per tahun. 

Pada tahun 2018, impor teh Indonesia telah mencapai 14.920 ton. Jika dibandingkan dengan volume ekspornya, telah mencapai 30,4 persennya. Oha melihat kondisi itu menjadi fakta yang cukup memprihatinkan.  Jika dibandingkan volume konsumsi sebanyak 96.010 ton, maka saat ini masyarakat Indonesia telah mengonsumsi teh impor sebesar 16 persen dari total konsumsi.

 

Reporter : Gayatri K.R
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018