Saturday, 26 September 2020


Covid-19, Peluang Emas Pengembangan Produk Turunan Sawit

11 Jun 2020, 00:33 WIBEditor : Yulianto

Peluang pengembangan produk sawit | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Di tengah kelam perekonomian Indonesia, bahkan dunia, ternyata ada peluang terbuka dalam pengembangan industri kelapa sawit. Dari minyak sawit banyak produk turunan yang bisa dibuat, khususnya produk untuk kesehatan.

Direktur Eksekutif PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute), Tungkot Sipayung mengatakan, dengan wabah Covid-19 masyarakat dunia sekarang lebih memperhatikan kesehatan dan kebersihan. Karena itu konsumsi seperti sabun, deterjen dan handwash akan meningkat cepat dari sebelumnya. Begitu juga produk antiseptik atau pestisida lingkungan, permintaannya akan besar.

“Ada 6 miliar orang yang berubah. Baik konsumsinya, cara hidupnya, bahkan akan menjadi kebiasaan di setiap rumah tangga dan dimana saja. Jika sebelumnya tidak menggunakan, maka sekarang akan selalu memakai,” ujarnya.

Karena itu Tungkot memprediksi, konsumsi biosurfaktan akan meningkat, khususnya yang berbahan baku dari sawit. Selain itu, prospek pengembangan produk turunan minyak sawit sebagai vitaman A dan E, serta virgin red palm kemungkinan cukup besar. “Demand produk untuk imunitas ke depan makin besar. Ini peluang bagi industri sawit,” tegasnya.

Besarnya pasar biosurfaktan dari data Marketwatch. Jika tahun 2018 hanya 27,55 miliar dolar AS, maka tahun 2028 diperkirakan mencapai 46,84 miliar dollar AS. Begitu juga pertumbuhan pasar antiseptik dan desinfektan yang naik dari 3,99 miliar dolar AS pada tahun 2018 menjadi 5,52 miliar dollar AS tahun 2022. Sedangkan pasar biosurfaktan naik dari 16,75 miliar dolar AS pada tahun 2018 menjadi 28,15 miliar dollar AS tahun 2026.

Menurut Tungkot, dengan data tersebut terlihat ada tren internasional untuk menggantikan surfaktan berbahan baku petrolium yang dianggap tidak sehat menjadi biosurfaktan dari oleochemical yang lebih ramah lingkungan, termasuk sawit.

“Ada pergeseran surfaktan ke biosurfaktan dari sawit. Ini kesempatan industri sawit memperluas penggunaan sawit. Ada ratusan produk yang bisa dibuat, seperti deterjen, shampo dan sabun mandi,” tuturnya.  

Dengan seperti itu, industri sawit menjadi penting untuk memulihkan ekonomi Indonesia. Karena itu Tungkot berharap pemerintah perlu mendorong pengembangannya. Pusat pasar biosurfaktan ada di China, India yang penduduknya besar, juga Eropa dan AS, bahkan Indonesia juga.

“Intinyan pasar makin besar, jadi pemerintah bisa memberikan insentif di hulu untuk perbaiki produktivitas sawit dan teknologi menjadi penggeraknya. Pendekatannya melalui satu sistem, jangan terpecah-pecah,” katanya.

Karena itu Tungkot kembali menegaskan, Covid-19 bukan masalah bagi industri sawit, justru menjadi kesempatan untuk melompat ke teknologi baru. Covid-19 juga mempercepat adopsi industri yang dihela dengan bioteknoologi. “Di sisi lain juga memberikan kesempatan bagi peluang baru khususnya produk biosurfaktan pada masa depan. Jadi industri sawit  perlu dirawat bersama-sama,” harapnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018