Saturday, 26 September 2020


Angkat Nilai Tambah Petani dengan Kelapa Kopyor

11 Jun 2020, 21:29 WIBEditor : Indarto

Kelapa | Sumber Foto:Dok. Sinta

agro industri kelapa punya potensi pasar yang besar dan bisa dikembangkan petani. Mengingat, semua varietas kelapa ada di Indonesia dan bisa dikembangkan atau dibudidaya masyarakat.

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Indonesia memiliki banyak varietas kelapa dan dikenal sebagai produsen kelapa dunia. Selain kelapa dalam dan genjah, ada satu varietas kelapa yang hanya ada di Indonesia. Varietas tersebut adalah kelapa kopyor yang nilai ekonominya tinggi.

Guru Besar Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Prof. Sisunandar mengatakan, industri kelapa memiliki tren cukup bagus di masyarakat. Khususnya, untuk industri turunan produk kelapa seperti virgin coconut oil (VCO), air kelapa, dan gula aren (gula semut) saat ini banyak diminati masyarakat.

"Harga industri turunan kelapa seperti VCO juga tinggi mencapai jutaan per liter. Sedangkan air kelapa kalau dijual ke Australia harganya bisa mencapai Rp 40 ribu per liter," kata Prof. Sisunandar, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Kamis (11/6).

Menurut Prof. Sisunandar,  agro industri kelapa punya potensi pasar yang besar dan bisa dikembangkan petani. Mengingat, semua varietas kelapa ada di Indonesia dan bisa dikembangkan atau dibudidaya masyarakat.

" Dari 400 cultivas, baru 105 cultivas yang diberi nama," ujarnya.

Prof. Sisunandar mengatakan, umumnya petani sudah banyak yang membudidaya kelapa dalam dan  genjah.  Bahkan, sebagian besar juga sudah  membudidaya kelapa hasil silangan kelapa dalam dan genjah, yakni kelapa hibrida.

Dari budidaya ketiga jenis kelapa tersebut, sebagian besar petani menjualnya dalam bentuk butiran, yang harganya  Rp 1.500-Rp 2.000. Atau dijual dalam bentuk kelapa muda yang harganya Rp 5.000-Rp 10.000 per butir. Bahkan, ada sejumlah petani yang memanfaatkan kelapa untuk diambil niranya.

" Namun, belum banyak petani yang membudidaya kelapa kopyor. Padahal, dengan budidaya kelapa kopyor, harganya lebih tinggi 10 kali sibanding kelapa normal," paparnya.

Dikatakan, kelapa kopyor yang saat ini ditanam petani adalah kelapa kopyor asli Indonesia. Nah, jenis kelapa kopyor banyak ditemukan di Lampung, Pati, Banyumas dan Sumenep.

Kelapa kopyor ini, lanjut Prof. Sisunandar, adalah kelapa kopyor alami, bukan rekayasa genetik (GMO). Sehingga kalau diekspor tak ada masalah di pasaran.

" Pasar kelapa kopyor juga luas. Dengan tekstur buah lembut dan rasanya manis, banyak industri makanan dan minuman yang meliriknya," katanya.

Kelapa kopyor ini umumnya digunakan untuk membuat minuman segar di sejumlah restoran yang harganya Rp 15.000-Rp 20.000 per gelas. Bahkan, kalau dijual secara gelondongan harganya Rp 20.
000- Rp 40.000 per butir.

"Kelapa kopyor juga sudah banyak dimanfaatkan industri makanan dan minuman dalam pembuatan ice cream," ujarnya.

Menurut Prof. Sisunandar, permintaan kelapa kopyor di pasar cukup tinggi.
Selama ini kebutuhan kelapa kopyor masih didatangkan dari sejumlah petani yang membudidayakannya secara tradisional.
Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan pasar masih kurang.

" Biasanya petani beli bibit kelapa kopyor di pasar. Nah, setelah di tanam umumnya yang menghasilkan kelapa kopyor hanya sekitar 50-60 persen. Sehingga, sebagian lainnya berupa kelapa normal," paparnya.

Kultur Jaringan

Guna memudahkan perbanyakan bibit kelapa kopyor, Prof. Sisunandar telah mengembangkan pembenihan melalui kultur jaringan. Kelapa kopyor yang bibitnya dilakukan dengan sistem kultur jaringan selama 1-2 bulan sudah tumbuh setinggi 4 Cm. Setelah usia 6-7 bulan sudah tumbuh daunnya dua buah.

" Setelah usia 10-13 bulan, bibit kelapa bisa dipindahkan ke luar dan pada usia 19 bulan bibit kelapa bisa ditanam petani. Dalam usia 19 bulan ini risiko mati tak besar," jelasnya.

Menurutnya, bibit kelapa kopyor kultur jaringan tersebut sudah dilakukan uji bibit di dua lokasi,  di Sindang (Banyumas) dan di Kampus UMP, Dukuh Waluh, Purwokerto. Hasil uji bibit tersebut cukup berhasil dengan baik.

Kelapa kopyor yang ditanam di Kampus UMP ini kurun dua tahun sudah mulai berbuah. Sedangkan yang ditanam di Sindang (tak ada irigasi) 4 tahun baru berbuah.

"Bibit yang kami tanam sama, yakni kelapa genjah kopyor dan kelapa dalam kopyor. Tapi, kelapa kopyor yang kami tanam di Kampus UMP buah kopyornya lebih stabil, karena tanaman jauh dari pohon kelapa lainnya," ungkapnya.

Adapun jenis kelapa kopyor yang dikembangkan di Kampus UMP adalah, kelapa kopyor genjah hijau Banyumas, kelapa kopyor dalam Banyumas, kelapa genjah  kopyor Lampung Merah, kelapa genjah merah Pati. " Kami juga sudah melepas varietas kelapa kopyor genjah kuning, hijau dan coklat Pati," pungkasnya.





Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018