Friday, 10 July 2020


Jaga Pasar Ekspor, Pengusaha Sasar Afrika dengan Sawit Kemasan

16 Jun 2020, 17:08 WIBEditor : Indarto

Petani panen sawit | Sumber Foto:Dok. Indarto

Pasar yang besar seperti India, China, Pakistan dan Bangladesh tetap dijaga selama pandemi covid 19. Selain itu, Indonesia harus mencari pasar baru yang potensial seperti Afrika.

 

 



TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Dalam situasi pandemi corona (covid 19) tidaklah mudah menjaga pasar ekspor crude palm oil (minyak sawit). Banyak prasyarat yang harus dipenuhi untuk menstabilkan ekspor minyak sawit pada situasi seperti ini. Salah satunya adalah mencari pasar baru, seperti di negara-negara Afrika.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono mengatakan, pada masa pandemi covid 19 ekspor minyak sawit masih positif di kisaran 6,9 miliar dollar AS (Januari-April 2020). Namun, tren permintaan minyak sawit ke sejumlah pasar ekspor yang besar mulai turun.

Menurut Joko, demand pasar China, Pakistan, Bangladesh trennya turun. Hanya India yang positif (13 persen). " India impor minyak sawit kita untuk keperluan Horeka. Dan India memang pasar terbesar ekspor minyak sawit. Volumenya sekitar 7 juta ton per tahun. Namun, untuk menjaga ekspor minyak sawit ke India perlu penguatan G to G," papar Joko Supriyono, dalam webinar, di Jakarta, Selasa (16/6).

Meskipun kebutuhan minyak sawit India sebesar 50 persen dari impor, lanjut Joko,  kontribusi minyak sawit  di India sangat fluktuaktif. " Ekspor minyak sawit di India sangat ditentukan kebijakan pemerintahnya. Jadi, ekspornya sangat terkait tarif dan kuota," ujarnya.

Joko mengatakan, pasar yang besar seperti India, China, Pakistan dan Bangladesh tetap dijaga selama pandemi covid 19. Selain itu, Indonesia harus mencari pasar baru yang potensial seperti Afrika.

" Negara-negara di Afrika menjadi pasar menarik karena pertumbuhan pasar ekspornya cukup signifikan setiap tahunnya. Negara -negara Afrika memerlukan minyak sawit dalam pertai kecil, karena keterbatasan tangki minyak sawit yang dimilikinya," kata Joko.

Menurut Joko, permintaan minyak sawit di Afrika dalam partai kecil 200-500 ton cukup menjanjikan. Berdasarkan data GAPKI, ekspor minyak sawit ke Afrika (2017-2019) ada 32 produk (kode HS). Ekspornya berupa CPO, PKO dan turunannya. Sedangkan kontribusi ekspornya mencapai 92 persen.

Joko juga mengatakan, salah satu produk minyak sawit olahan yang diekspor ke Afrika dalam bentuk kemasan 25 kg permintaannya meningkat signifikan." Permintaan minyak sawit kemasan 25 kg ke Afrika sebanyak 41 persen dari total ekspor ke Afrika," ujarnya.

Menurut Joko, untuk mengatasi pelemahan permintaan pasar di sejumlah negara tujuan ekspor, pemerintah sudah saatnya meminimalkan hambataan ekspor. Misalnya, untuk tak mewajibkan penggunaan kapal nasional, perbaikan infrastruktur pelabuhan agar biaya logistik tak mahal. Serta menjaga agar tak terjadi penurunan daya saing.

" Karena masih banyak kampanye hitam te ntang sawit di UE,  perlu dilakukan kampanye sawit Indonesia yang terstruktur, sistematis dan masif. Advokasi minyak sawit ke UE pun diperkuat," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga mengatakan, ekspor produk minyak sawit Indonesia sejak tahun 2017-2020 mengalami perubahan. Pada tahun ini, sekitar 60 persen produk minyak sawit untuk memenuhi pasar ekspor. Sisanya yang 40 persen untuk memenuhi pasar dalam negeri.

Menurut Sahat,  selama pandemi covid 19,  terjadi tren meningkatnya pemakaian sawit di pasar domestik dari level 32 persen pada 2019. Bahkan, pada tahun ini pemakaian minyak sawit di pasar domestim meningkat ke 39 persen (40 persen). Diperkirakan volume ekspor minyak sawit pada tahun 2020 akan menurun.

" Produksi minyak sawit  akan shortage untuk pemenuhan kebutuhan pasar global, karena akan  tersedot ke pemakaian dalam negeri  yang semakin meningkat untuk biohidrokarbon dan fame," papar Sahat.

Sahat juga menilai, khusus untuk ekspor ke pasar negara yang volume besar seperti India harus tetap dijaga. Namun, untuk menjaga kestabilan ekspor minyak sawit perlu penetrasi ke pasar baru seperti Afrika.

"Negara-negara Afrika (18 negara) dengan jumlah penduduk 380 jiwa adalah pasar potensial," ujarnya.

Menurut Sahat, ekspor minyak sawit ke Afrika bisa dilakukan dalam bentuk produk minyak sawit kemasan 25 kg. Sebab, di sejumlah pelabuhan di Afrika tak punya tangki besar untuk menampung minyak sawit.

" Kita juga bisa manfaatkan posisi geografis untuk ekspor. Artinya, ekspor sawit ke India dan Eropa bisa melalui pesisir barat Sumatera yang diperkirakan akan menghemat biaya logistik dibanding dari Riau," kata Sahat. 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018