Friday, 10 July 2020


Ekspor CPO dan Turunannya Masih Positif

17 Jun 2020, 14:10 WIBEditor : Indarto

Komoditas sawit | Sumber Foto:Dok. Indarto

Kendati terjadi penurunan nilai dan volume ekspor minyak goreng pada Januari-April 2020, ekspor CPO ke sejumlah negara pada periode yang sama terjadi peningkatan, baik secara volume dan nilainya.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Ekspor crude palm oil (CPO/minyak sawit) dan turunannya,  periode Januari-April 2020, mencapai 6,3 miliar dollar AS. Nilai ekspor minyak sawit ini memberikan kontribusi  terhadap ekspor nonmigas sebesar 12,4 persen. Bahkan, dilihat dari nilainya, ekspor minyak sawit mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.

Meski ekspor minyak sawit masih positif, Wakil Menteri Perdagangan RI, Jerry Sambuaga mengatakan,  terdapat penurunan pangsa ekspor pada periode 2017-2019.  “ Karena itu, kita perlu mewaspadai tren penurunan  pangsa ekspor sawit Indonesia yang terjadi dalam 3 tahun belakangan ini,” ujar Jerry, dalam webinar, di Jakarta, Rabu (17/6).

 Jerry juga mengatakan, ekspor minyak sawit dan produk turunannya ke pasar dunia sudah mengalami pelemahan sejak awal Januari 2020.  Bahkan, ekspor minyak sawit pada awal Januari 2019, telah terjadi penurunan yang cukup dalam jika dibandingkan bulan Desember 2019.

Menurut Jerry, kinerja ekspor produk utama sawit yaitu RBD Palm Olein mengalami tekanan. Ekspor RBD Palm Olein (minyak goreng) anjlok cukup dalam pada periode Januari-April tahun 2020 (yoy), khususnya secara volume dengan penurunan -28.8 persen. Ekspor minyak goreng  turun dari 4.01 juta ton menjadi 2.85 juta ton. Sedangkan nilai ekspor RBD purchase order (PO) turun -9.2 persen, atau  turun dari  2,15 miliar dollar AS, menjadi 1,95 miliar dollar AS

Kendati terjadi penurunan nilai dan volume ekspor minyak goreng pada Januari-April 2020, ekspor  CPO ke sejumlah negara pada periode yang sama terjadi peningkatan, baik secara volume dan nilainya.

 “ Nilai ekspor CPO masih tumbuh signifikan yaitu 57.7 persen,  dari 1,04 miliar dollar AS menjadi 1, 64 miliar dollar AS.

Menurut Jerry,  secara volume, ekspor CPO meningkat sebesar 13, 3 persen dari 2, 19 juta ton menjadi 2, 48 juta ton. “Hal  ini dikarenakan terjadi peningkatan harga CPO akhir tahun 2019 sampai dengan awal tahun 2020,” ujar Jerry.

 Dalam kesempatan tersebut, Jerry juga mengungkapkan, selain ekspor CPO dan produk turunannya, Indonesia juga ekspor biodiesel ke sejumlah negara. Namun, ekspor biodiesel ke pasar Amerika Serikat (AS) terkena anti dumping dan anti subsidi.

 “ Berkaitan anti dumping dan anti subsidi tersebut, pemerintah telah melakukan upaya banding ke WTO. Upaya lainnya melalui deplomasi dan kampanye secara masih juga terus dilakukan,” papar Jerry.

 Jerry juga mengatakan, saat ini  pemerintah masih dalam proses banding di United States Court of  International Trade (USCIT) di pasar AS. Diharapkan, dengan upaya tersebut, ekspor biodiesel ke AS bisa pulih kembali.

 Selain di AS, lanjut Jerry, pasar ekspor biodiesel juga dikenakan anti subsidi oleh otoritas Uni Eropa (UE). Untuk mengatasi hal tersebut,  pemerintah telah menempuh langkah pembelaan melalui forum hearing.

 Di tengah lesunya ekspor minyak sawit, lanjut Jerry, pemerintah berupaya  mengembangkan kebijakan mandatory B-30 sejak awal tahun 2020. Kebijakan B 30 ini  sebagai langkah strategis pemenuhan energi yang berasal dari sumber energi terbarukan.

 “ Diperkirakan pada tahun 2020 volume penyaluran biodiesel mendekati 8 juta kl,” ujar Jerry.

Diharapkan,  program B-30 efektif dalam meningkatkan demand produk turunan sawit (fame) di  dalam negeri. Dengan begitu, supply yang tidak dapat berubah secara cepat akan membuat harga sawit menjadi tetap terjaga.

 Menurut Jerry, agar kebijakan B 30 berjalan baik,  pemerintah mengalokasikan dana APBN dan dana sawit yang dikelola oleh BPDPKS  untuk memberikan insentif  program B30. “Insetif ini juga berperan untuk menggairahkan industri sawit yang mengembangkan B 30,”  kata Jerry.

 Guna menjaga daya saing produk sawit di negara tujuan ekspor, pemerintah juga memberlakukan kenaikan pungutan ekspor (PE) rata-rata 5 dolar AS per ton dan menghapus treshhold harga. PE  yang berlaku sejak 1 Juni 2020 (PMK 57 tahun 2020),  mampu mempertahankan momentum hilirisasi industri turunan sawit di dalam negeri.


 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018