Friday, 10 July 2020


Tak Lagi Jual TBS, Petani Sawit Sudah Saatnya Punya PKS

22 Jun 2020, 16:56 WIBEditor : Indarto

Kebun sawit | Sumber Foto:Dok. Indarto

Apabila petani sudah mampu membangun PKS, ketika ada gejolak pasar, petani tak akan rugi. Sedangkan kalau sekadar bermitra, bila ada gejolak harga CPO di pasar selalu dikonversi dengan harga jual TBS.

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Petani sawit tak cukup menjalin kemitraan dengan perusahaan kelapa sawit (PKS). Petani sawit saat ini sudah saatnya membentuk koperasi dan berkorporasi untuk mendirikan PKS, sehingga  ada nilai tambahnya.

Ketua KUD Mukti Jaya, Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan (Sumsel), Bambang Gianto mengatakan, selama ini petani sawit yang bermitra masih mengalami diskrimimasi dalam penentuan penjualan tandan buah segar (TBS) ke PKS. Sebab, kebun milik PKS yang diutamakan terlebih dahulu dalam pembelian TBS.

" Meskipun sudah bermitra, petani kerap kali dikalahkan. Sehingga, petani sawit setelah mendirikan koperasi kemudian membentuk korporasi petani sawit bisa mengolah sendiri pabriknya," kata Bambang Gianto, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Senin (22/6).

Menurut Bambang, petani sawit punya kekuatan untuk berkorporasi, karena ada sekitar 6,7 juta lahan sawit yang sebagian besar dikelola petani. Dari lahan sawit tersebut, hanya sekitar 1 juta ha yang dikelola oleh petani program inti rakyat (PIR). Sedangkan sisanya sebagian besar dikelola petani swadaya.

" Kalau petani mau bergabung, jumlahnya akan besar dan bisa mengelola hilirnya dengan mendirikan pabrik pengolah CPO kecil- kecil," ujarnya.

Nah, ketika petani sudah punya PKS, lanjut Bambang, petani tak menjual TBS ke mitra. " Jadi, petani ke depan sudah mampu menjual CPO ke mitra. Sehingga sudah ada nilai tambahnya," kata Bambang.

Bambang juga mengemukakan, setelah memiliki pabrik CPO yang volumenya kecil-kecil, maka kesempatan usaha petani sejajar dengan mitra. Karena kedudukan dengan mitra sejajar, maka tak ada monopoli lagi dalam pengelolaan CPO.

Menurut Bambang, apabila petani sudah mampu membangun PKS, ketika ada gejolak pasar, petani tak akan rugi.  Sedangkan kalau sekadar bermitra, bila ada gejolak harga CPO di pasar selalu dikonversi dengan harga jual TBS.

" Korporasi dengan model koperasi yang sudah dikembangkan bisa diakses petani sawit. Petani juga harus mulai sadar, budidaya sawit itu untuk jangka panjang," katanya.

Bambang mengatakan, kemitraan yang dikembangkan saat ini sudah cukup bagus. Namun, keuntungan yang diterima petani kurang memadahi. " Keuntungan kemitraan lebih ke perusahaan (intinya)," ujar Bambang.

Dalam kesempatan yang sama, Asep Abdullah dari Kementerian Koperasi dan UKM mengatakan, koperasi yang dikembangkan sejumlah petani saat ini masih terbatas pada pemasok bahan baku (pengepul) ke industri. " Padahal, petani punya kebun sendiri yang konsentrasi di budidaya. Sedangkan pengolahannya diserahkan ke pabrik. Koperasinya hanya sebagai pengepul. Di negara maju, petani selain melakukan budidaya juga berinvestasi dalam industri pengolahan," kata Asep.

Menurut Asep, petani harus berkoperasi dahulu sebelum membentuk korporasi agar bisa membangun industri olahan (pasca panen). Koperasi bisa membuat PT yang dikelola oleh orang-orang profesional.

"Petani bisa investasi melalui simpanan wajibnya ke koperasi. Sehingga pemilik saham perusahaan tersebut adalah petani," katanya.

Asep mengatakan, petani yang sudah berkoperasi dan bergabung dalam korporasi petani akan mendapat benefit dari investasi yang di tanam. Bahkan, di akhir tahun, petani akan mendapat refun sesuai akumulasi supply satu tahun." Petani akan mendapatkan harga di atas harga pasar saat setor bahan baku sesuai kewajibannya," pungkasnya. 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018