Friday, 10 July 2020


Swasembada Gula Butuh Dukungan R & D dan Kemauan Baik Pemerintah

25 Jun 2020, 17:01 WIBEditor : Indarto

Gula putih | Sumber Foto:Dok. Indarto

R & D sangat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan industri gula dari hulu hingga hilir.

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Swasembada gula yang dicanangkan pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) hingga saat ini masih jauh dari kenyataan. Justru yang terjadi adalah impor gula (rafinasi) makin tinggi tiap tahun. Apabila pemerintah serius melakukan swasembada gula harus punya political will dan mengutamakan research and development (R & D).

Pemerhati Perkebunan, Soedjai Kartasasmita menuturkan, R & D sangat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan industri gula dari hulu hingga hilir. " Dari hasil riset tersebut nantinya bisa dimanfaatkan untuk intensifikasi budidaya tebu sehingga produksinya meningkat," ujar Soedjai Kartasasmita, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Kamis (25/6).

Menurut Soedjai, swasembada gula juga butuh dukungan political will pemerintah. Jika tak ada kemauan baik dari pemerintah buat apa swasembada?

" Minimal pemerintah bisa mengurangi impor dan mengajak masyarakat menurunkan konsumsi gula karena di sejumlah negara pengekspor gula saat ini lock down," papar Soedjai.

Soedjai juga mengimbau, apabila ada perusahaan yang impor gula, harus dikenakan tarif impor (cukai) yang tinggi. Nah, tarif impor gula ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk pengembangkan riset dan SDM.

Importir Terbesar Ketiga Dunia

Menurut Soedjai, hingga saat ini Indonesia tercatat sebagai negara importir gula terbesar ketiga dunia, setelah Amerika Serikat (AS) dan China. " Nilai impornya sekitar 1 miliar dollar AS per tahun," ujar Soedjai.

Mengapa impor gula? Menurut Soedjai, karena bisnis gula impor ini sangat menggiurkan. " Raw sugar yang diimpor hanya dibeli dengan harga Rp 3.500 per kg. Setelah diolah kemudian dijual ke pasar Rp 7.000 per kg. Bayangkan saja, importir sudah untung 100 persen," jelas Soedjai.

Soedjai juga mengatakan, saat ini di pasar dunia sedang "banjir gula". Seperti Brazil mulai mengurangi produk ethanol, sehingga di negara tersebut setidaknya ada produksi gula sebanyak 30 juta ton yang siap diekspor. Begitu juga di sejumlah negara produsen gula di Asia ada sekitar 10 juta ton.

" Di Eropa saat ini ada upaya mengurangi konsumsi gula hingga 25 persen untuk mengantisipasi diabetes. Sehingga, gula yang diproduksi siap-siap untuk di ekspor. Diduga kuat negara-negara yang kelebihan produksi gula akan melirik pasar ekspor ke Indonesia," paparnya.

Soedjai mengatakan, melihat peta pergulaan dunia, industri gula  tanah air tak bisa berdiri sendiri untuk melakukan swasembada. Artinya,  harus melibatkan stakeholder.

Soedjai juga berharap, industri gula tanah air sudah mulai mengembangkan produk derivatifnya, supaya industrinya berkelanjutan. Misalnya dengan mengembangkan ampas tebu untuk kebutuhan energi, agar petani lebih diuntungkan. " Juga pengembangan ethanol dari tebu supaya ada nilai tambah," ujarnya.

Menurut Soedjai, petaninya juga harus dididik supaya melek teknologi (4.0). " Ketika petani sudah menguasai teknologi canggih, mereka akan efisien," pungkas Soedjai. 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018