Tuesday, 14 July 2020


Koorporasi Petani Kakao, Poktan Mulyojati jadi Contoh

26 Jun 2020, 15:23 WIBEditor : Gesha

Mentan Syahrul mengunjungi pengolahan Poktan Mulyojati | Sumber Foto:Istimewa

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Mojokerto -- Potensi kakao sebagai salah satu komoditi andalan Indonesia untuk ekspor tidak diragukan lagi. Namun untuk berorientasi bisnis, nampaknya petani kakao perlu melihat Poktan Mulyojati. 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) pada kunjungan kerja ke kabupaten Mojokerto menjelaskan bahwa kakao merupakan komoditi dari negara tropis yang tidak dimiliki oleh semua negara di dunia. Dan kakao yang ada di Indonesia memiliki perbedaan dengan akao yang ada di Afrika dan negara lainnya, karena memiliki taste yang berbeda sebagai negara tropis. 

Dalam kunjungan tersebut, petani dan anggota poktan Mulyo Jati di Desa Wisata BMJ Mojopahit, Desa Randu Genengan, Kecamatan Dlangu, Kabupaten Mojokerto memperlihatkan  destinasi kebun cokelat yang telah dimiliki dan dikelola poktan.

Tak hanya itu, pengembangan pun dilakukan dengan membangun pabrik pengolahan cokelat dengan kapasitas 1 ton per hari dengan dukungan  bantuan program dari Kementerian Pertanian (Kementan).

“Kakao tidak pernah jatuh harganya, apalagi disaat krisis seperti ini orang butuh imun yang lebih baik dan butuh cokelat yang lebih banyak. Di luar negeri minum cokelat itu bagian dari budaya mereka, berarti apapun yang dihasilkan oleh kita dari Kakao itu tetap dibutuhkan," bebernya.

Mentan Syahrul mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Poktan Mulyojati. Meskipun berbasis home industry dan usaha kelompok bersama yang terdiri dari kelompok-kelompok tani kakao yang dikelola dalam bentuk koorporasi yang kuat.

"Sehingga kakao bukan lagi dalam bentuk butiran yang dijual ke luar negeri, tapi kita sudah memproduksi hingga produk akhirnya. Dengan demikian nilai tambahnya menjadi lebih tinggi dan ini dimiliki oleh kelompok," ujarnya mengapresiasi.

Karena itu Poktan Mulyojati diharapkan menjadi model percontohan yang harus dimiliki kabupaten lain yang memiliki potensi kakao. 

Hulu Hilir

Senada ungkapan Mentan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Prof Dedi Nursyamsi menegaskan jika selama ini petani hanya memproduksi hasil pertanian di hilir, maka ke depan, petani harus menjadi pengusaha sektor pertanian dari hulu hingga hilir guna mendorong produktivitas dan nilai tambah produk pertanian serta meningkatkan kesejahteraan petani.

“Jangan biarkan petani bekerja sendiri-sendiri. Ajak petani berjamaah mengembangkan pertanian di desa masing-masing melalui Poktan dan Gapoktan. Penyuluh pertanian berperan sebagai pendamping untuk transformasi dan memotivasi petani bergerak dan menumbuhkan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) sebagai cikal bakal pembentukan korporasi petani,” ungkap Dedi dalam setiap kesempatan.

Sementara itu, Ketua Poktan Mulyojati,  Mulyono mengungkapkan rasa bangganya atas dukungan yang telah diberikan pemerintah mulai dari  pemerintah daerah hingga pusat sehingga pihaknya saat ini bisa memfasilitasi 1337 petani kakao se-kabupaten Mojokerto, yang tergabung dalam 21 poktan yang mengelola 447 ha kebun kakao dan ada 1300 ha yang mulai tanam. 

“Ini merupakan sebuah gerakan dari bawah agar kita punya harga diri untuk bisa terjual, tiap hari dari petani kita menghasilkan produk 3 kuintal. Dengan  melihat perkembangan jumlah petani kakao yang luar biasa, akhirnya kita tingkatkan dengan membuat pabrik pengolahan dengan kapasitas 1 ton per hari," cerita Mulyono

Kini, pihaknya sudah bisa menciptakan 60 jenis produk dari Kakao, mulai dari hulu sampai hilir yang dikemas dengan brand cokelat Majapahit.

Reporter : Lely
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018