Thursday, 06 August 2020


Di Lahan Kering, Budidaya Kakao Tembus 1,4 Ton/Ha

29 Jun 2020, 14:00 WIBEditor : Indarto

Komoditas kakao | Sumber Foto:Dok. Indarto

Kakao yang dibudidaya di Timor dan Sumba, NTT kualitasnya telah diakui dunia.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Budidaya kakao tak harus dilakukan di lahan subur seperti di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Budidaya kakao pun bisa dilakukan di kawasan yang curah hujannya rendah, seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan produktivitas  1,2 - 1,4 ton per ha.


Budidaya kakao yang dikembangkan pendiri PT Timur Mitra Niaga, Hengky Lianto sejak tahun 1993 di lahan 1.000 ha tak hanya produktivitasnya tinggi, tapi juga  sudah tembus pasar ekspor. Bahkan, kakao yang dibudidaya di Timor dan Sumba, NTT kualitasnya telah diakui dunia.

" Kami juga kembangkan di hilirnya dengan fermentasi kakao. Dengan fermentasi ini akan ada nilai tambahnya," ujar Hengky, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Senin (29/6).

Menurut Hengky, untuk pemasarannya pihkanya menggandeng CV. Agro Citra Mandiri, salah satu eksportir kakao ke Eropa. " Dua bulan lalu kami ekspor 100 ton dan Juli nanti akan ekspor lagi dari Sumba ke Eropa melalui Surabaya," ujarnya.

Hengky yang juga merangkap petani kakao ini mengaku, budidaya kakao di daerah yang curah hujannya sedikit tidaklah mudah. " Tatkala itu modalnya hanya tekad dan doa. Lahan di sini tak sesubur di Jawa atau Sumatera. Karena itu,  saat tanam bibit kakao, kami buat lubang agak lebar ukuran 80 cm x 1 meter.  Lubang itu kami beri pupuk kandang terlebih dahulu," kenang Hengky.

Sedangkan clon bibitnya, lanjut Hengky, ada beberapa jenis seperti ICS 60, SCA 6 dan MCC 01 dan 02 (yang buahnya besar). Kakao yang dibudidaya ada yang ditanam langsun dari bijinya, dan ada juga yang melalui sambung samping.

" Kalau bibitnya dengan sambung samping , umur 9 bulan sudah mulai berbuah. Di usia 2 tahun berbuahnya sudah normal. Kalau tanam biasa berbuahnya lebih lama, sekitar 3 tahun," katanya.

Menurut Hengky, di atas hamparan lahan 1.000 ha, hanya sekitar 400 ha yang ditanami kakao. Sisanya untuk budidaya tanaman lain, seperti jati putih, porang dan kelor. " Dari 1.000 ha itu, lahan kakao di Sumba seluas 850 ha dan sisanya ada di Timor," ujarnya.

Hengky mengatakan, produksi kakao pada tahun ini diperkirakan lebih bagus dari tahun sebelumnya. Sebab, meskipun musim kemarau, di Sumba sesekali masih ada hujan.

" Kalau musim keringnya kelamaan atau penghujan kelamaan malah tak bagus. Karena itu, kami perkirakan produksinya pada tahun ini bisa 1,5 ton per ha," paparnya.

Pembibitan Sendiri

Selain berbudidaya kakao, Hengky juga melakukan pembibitan kakao sendiri. Bibit kakao ini selain digunakan sendiri, juga dijual ke masyarakat luas.

" Ada sekitar 25 ha lahan untuk pembibitan kakao. Dari lahan tersebut, baru sekitar 6 ha yang sudah disertifikasi dan siap dijual," katanya.

Menurut Hengky, clon yang dijadikan bibit umumnya kakao unggul jenis SCA 6 dan ICS 60. Ada juga MCC 01 dan 02. Pembibitannya ada yang langsung dari biji dan ada juga yang sambung samping.

Hengky mengaku, mulai melakukan pembibitan kakao mulai April - Desember. Produksinya sekitar 1,2 juta batang. " Kalau langsung dari biji lebih gampang. Artinya 90 persen hidup. Kalau sambung pucuk atau samping harus benar-benar terampil dan prosentase hidupnya sekitar 30-50 persen," pungkasnya. 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018